
“Tahukah kamu, aku ketakutan saat dadaku berdebar di dekatmu. Aku sudah berusaha menjauhimu,” kata David membela dirinya.
“Pada akhirnya kamu mencium Sofia, bahkan menidurinya,” sindir Amelia.
“Apa kamu cemburu?” goda David.
Amelia tidak menjawab. Dia mengalihkan tatapannya ke langit-langit kamar.
“Jawablah, apa kamu cemburu?” David menggoyang-goyangkan lengan Amelia.
“Sudah siang. Aku mau mandi dulu.”
Amelia langsung bangun, tetapi David menahan tangannya. “Aku tidak akan melepaskanmu sebelum menjawabnya.” David tersenyum-senyum manja.
“Aku ….” Amelia mengulur waktu. Pelan-pelan dia melepaskan tangan David dari tangannya. “Entahlah,” katanya setelah tangan itu terlepas. Dia langsung menyingkir dari ranjang. “Tunggulah. Kamu bisa mandi setelahku.” Amelia malah mengalihkan pembicaraannya.
Meski Amelia telah pergi, David masih tidak menghilangkan senyumnya. Perempuan itu benar-benar Amelianya: perempuan yang selalu menguji kesabarannya.
Meskipun Amelia menyuruhnya menunggu dan mandi setelahnya, David bangun lebih dulu. Bukannya mandi, dia malah ke dapur. Masa lalu terulang lagi. David pun memerankan peran lamanya: membiarkan dirinya yang memasak.
Baru saja masakannya selesai, David melihat Amelia menoleh ke sana kemari mencari sesuatu dengan mengenakan kaus dan celana David. David lebih suka pakaian Amelia yang seperti itu. Itu mengingatkannya pada masa lalu.
__ADS_1
“Hai, Sayang!” teriak David memanggil Amelia.
Teriakan itu membuat Amelia langsung menemukan keberadaan David. Amelia pun bergegas ke sana, bukan ke David, tetapi ruang makan. Membiarkan David yang melayani.
Amelia diam sedikit lama. Dia memikirkan sesuatu. Tiba-tiba dia mendongak menatap David. “Da-David ….” Amelia ragu-ragu mengatakan sesuatu itu.
“Apa?” sahut David yang baru meletakkan sepiring masakannya di atas meja. Dia pun kembali ke dapur untuk mengambil masakannya yang tersisa.
“Da-david … sebenarnya … ada yang harus kukatakan—“
“Lalu Dodik?” Tiba-tiba David berlari dengan masakannya. “Apa berarti dia anakku?” Mata David berbinar-binar.
Akhirnya Amelia melupakan apa yang ingin dikatakannya. Wajah cemberut David membuatnya tertawa. “Tentu saja. Dia memang suamiku.”
“Lalu kenapa kamu datang padaku? Jika suamimu tahu aku bisa disebutnya pelakor,” sindir David.
“Sebenarnya kami akan bercerai segera.”
“Tapi kamu sudah menikahinya! Bisa-bisanya kamu menikahinya setelah meninggalkanku?”
“Sudah kukatakan, aku punya urusan yang harus kuselesaikan. Pernikahanku dengannya hanya sebatas bisnis. Kami bahkan tidak tidur bersama, maksudku tidur dalam artian khusus, bukan artian sesungguhnya.”
__ADS_1
“Pada akhirnya kamu seranjang dengannya setiap malam,” sindir David.
“Tentu saja. Dodik mengira Rico adalah ayahnya.”
“Jadi Dodik benar-benar anakku?” David tersenyum lebar. Kemudian diturunkan oleh lirikan sinisnya. “Tapi urusan apa yang membuatmu sampai membuatku gila dan membohongi anakmu? Jika aku tidak mencintaimu, aku sudah membencimu sekarang.”
“Bisakah aku mengatakannya nanti saja?” tawar Amelia.
“Memangnya kenapa kalau sekarang?!” sewot David.
“Ada urusan lain yang belum selesai. Kalau urusan yang ini selesai, aku akan mengatakannya padamu.”
“Apa itu berarti kamu akan meninggalkanku lagi?”
“Tentu saja tidak. Aku kan pernah berjanji untuk tidak meninggalkanmu. Maafkan aku sudah meninggalkanmu sebelumnya.”
David tersenyum lebar. Lagipula Amelia sudah kembali. Apalagi yang harus diributkan? David lebih takut keributan itu bisa menjauhkan Amelia lagi darinya.
Kedua orang itu pun makan. Setelah makanannya selesai, David pun bersiap untuk pergi ke kantor, tetapi Amelia malah menahannya dengan memeluknya dari belakang.
“Jangan pergi,” pinta Amelia.
__ADS_1