
Merasa tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, Amelia pun bangun dan bersiap pergi.
“HEEEI!” teriak Gerald yang masih belum menerima nasibnya.
Amelia pun menoleh. “Aku bisa menjadi sepertimu jika itu membuatmu menjadi sepertiku,” katanya sebelum melankahkan kakinya untuk pergi.
“Berhenti atau aku akan mengungkit hal-hal yang memalukan tentangmu,” ancam David karena tidak terima Amelia pergi sebelum keinginannya terpenuhi.
Amelia pun berhenti seperti yang diinginkan laki-laki itu. Dia berbalik tanpa wajah ketakutan. “Kukira kau tidak dalam posisi untuk mengancamku. Karena kalau kau melakukan itu, kau akan mendapatkan lebih dari kehancuran kakakmu. Kau yang seharusnya memohon.” Amelia malah mengancam balik. Kemudian dia melanjutkan langkahnya.
Gerald menjadi kebingungan. Perkataan Amelia tidak salah. Sepertinya dia benar-benar harus menerima nasibnya yang telah berputar ini. Dia pun berlari mengikuti Amelia.
Amelia berjalan dengan sangat tenang. Karena itu Gerald bisa mengejar sebelum kehilangan. Gerald langsung menghadang Amelia. Itu membuat Amelia terkejut. Amelia khawatir jika Gerald melakukan sesuatu yang buruk kepadanya karena tidak menerima perkataannya. Akan tetapi, laki-laki itu malah bersujud. Amelia lebih terkejut karena itu.
“Tolong katakan pada David untuk mengembalikan bisnis kakakku seperti semula,” pinta Gerald sungguh-sungguh. Dia telihat putus asa. Dia sampai menyatukan kedua telapak tangannya. “Kumohon,” pintanya berusaha meyakinkan Amelia.
Amelia tersentuh melihatnya. Dia menjadi ingin membantunya. Akan tetapi, itu tidak mungkin. Dia bahkan tidak pernah berpikir untuk membalas dendam kepada Gerald, meski laki-laki itu membuatnya sangat kesal. Jadi bagaimana Amelia bisa membantu mengembalikan jika dia tidak pernah berusaha menghancurkan?
“Bagaimana, ya?” Amelia menggaruk kepalanya. Dia bingung harus mengatakan apa.
“Tapi aku tidak dalam posisi bisa melakukan itu.” Akhirnya Amelia memilih berterus terang. “Aku hanya orang yang menjual tubuhku pada David, jadi bagaimana aku bisa menyuruhnya menghancurkan bisnis kakakmu? Orang yang menghancurkan bisnis kakakmu itu bukan aku. Aku bersungguh-sungguh.”
__ADS_1
Usai mengatakan semuanya, Amelia langsung berlari. Dia takut jika Gerald berpikir kalau dia telah mempermainkan Gerald, sehingga Gerald akan bertindak buruk kepadanya. Cepat-cepat Amelia menaiki taksi apa pun yang ditemukannya.
Setelah berada di dalam taksi, Amelia merasa lega. Sempat dia melihat ke belakang, melihat keadaan Gerald. Laki-laki itu masih berada di tempatnya. Dia sibuk menendang dan memukul angin yang tak bersalah.
Amelia berniat untuk langsung pulang ke apartemen. Saat mengingat David, dia mulai merasa bersalah karena telah mengkhianati laki-laki itu.
Ting! Ponsel Amelia yang masih dalam mode jadul itu berdenting. Rupanya sebuah pesan memasuki ponsel itu.
Amelia tidak berani melihat pesan itu. Dia khawatir jika Davidlah yang mengirimkan. Meski laki-laki itu tidak tahu kalau dirinya telah keluar, Amelia bingung harus membalas pesan itu seperti apa.
Amelia berusaha mengabaikan pesan itu. Akan tetapi, pesan itu berdenting dua kali lagi. Akhirnya Amelia pun memeriksa ponselnya.
Tidak ada satu pun nama David yang tertera. Satu-satunya nama yang mengisi beranda perpesanan Amelia hanya Alex.
Aku meminta maaf atas yang terjadi sebelumnya.
Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu.
Bisakah kita bertemu*?
Ah, Amelia menjadi dilema. Dia sudah cukup membuang waktunya gara-gara Gerald. Apakah dia harus membuang waktunya lagi?
__ADS_1
Amelia ingin menghentikan rasa bersalahnya kepada David secepatnya, tetapi Alex juga bukan orang yang tidak penting seperti Gerald. Alex sudah banyak membantunya dan salah satu orang yang mampu memahaminya. Apakah Amelia harus melupakan semua itu hanya karena kesalahannya kepada tunangan Alex yang membuatnya dipecat?
***
Itu tidak benar!
Kenyataannya Amelialah yang salah dan Amelialah yang selalu mengusik Levina. Akhirnya Amelia memutuskan menyuruh si sopir untuk mengganti arah tujuan, memutuskan untuk menemui Alex di sebuah restoran, dan memutuskan mengkhianati David untuk kedua kalinya.
Baru dua langkah Amelia keluar dari taksi, bahkan sebelum memasuki restoran, Amelia melihat Alex berjalan dari kejauhan. Alex melihatnya sehingga melambaikan tangannya. Wajah Alex terlihat sangat gembira. Itu membuat Amelia turut melambaikan tangannya.
Alex pun berlari. Dengan cepat dia sampai di depan Amelia. Akan tetapi, bukan dia yang Amelia lihat.
“Hai, Alex.”
Alex menoleh.
“Hai, Sayang.”
Pandangan Alex berjalan mengikuti langkah orang yang baru saja menyapanya. Mengikuti langkah orang itu membuat Alex melihat Amelia akhirnya. Karena orang itu memeluk Amelia dari samping.
“Hai juga, David.” Alex membalas sapaan David—orang yang memeluk Amelia dari samping.
__ADS_1
***