
Akhirnya David memutuskan untuk pergi berjalan-jalan. Dia terus melangkahkan kakinya meski mentari semakin terik saja. Dia tidak memiliki tujuan. Itulah kenapa dia tidak tahu harus menghentikan langkahnya di mana.
Di tengah perjalanan itu, pandangan David tertarik pada beberapa anak-anak yang tengah bermain di taman bermain. Tidak ada yang peduli pada terik. Mereka hanya peduli pada kesenangan dan kebersamaan. Meski hanya melihat, David menyukai itu. Saat kecil dia tidak pernah merasakan kebersamaan itu. Dia hanya bermain dengan kakaknya atau ibunya saat senggang.
David memutuskan menghentikan langkahnya di sana. Dia duduk di sebuah kursi tanpa melepaskan arah pandangannya. Tingkah anak-anak itu akhirnya membuatnya tersenyum. Sudah lama David tidak tersenyum bahagia seperti itu. Biasanya dia hanya tersenyum seperti orang gila.
Seandainya Amelia masih hidup, mungkin dia akan memiliki anak seusia itu jika Tuhan benar-benar melimpahkan keberuntungan kepadanya.
Sudah enam tahun berlalu, David masih membawa bayang-bayang Amelia ke manapun dirinya pergi. Dia tidak berani mengusir bayangan-bayangan itu. Dia lebih takut melupakan cinta Amelia dan menemukan cinta lainnya. Itu akan membuatnya kembali terluka.
Tiba-tiba David melihat anak laki-laki yang mungkin berusia lima tahun berjalan sambil menangis di depannya. Anak laki-laki itu tidak mengatakan apa pun selain menangis. David pun berjongkok dan menghentikan langkah anak laki-laki itu.
“Kenapa kamu menangis, Anak Kecil?” tanya David.
“Aku terus berjalan dari sekolah sehingga aku tidak tahu jalan kembali. Mamaku pasti menungguku di sana. Bagaimana jika aku tidak bisa menemukannya lagi? Bagaimana jika dia pergi meninggalkanku karena aku tidak kembali?” Tangis anak laki-laki itu itu semakin mengeras. David menjadi kebingungan. Dia belum pernah memiliki keluarga yang masih sekecil itu sehingga dia tidak tahu cara menanganinya.
“Jangan menangis. Kamu kan laki-laki,” bujuk David.
__ADS_1
“Papaku bilang siapapun bisa menangis saat dia kehilangan sesuatu yang berharga bagi mereka.”
Anak laki-laki itu benar. David juga mengeluarkan air mata lebih banyak dibandingkan anak laki-laki itu saat kehilangan Amelia.
“Kalau begitu kita harus berusaha mencari kebahagiaan untuk menghentikan tangisan itu.” Ah, bagaimana mungkin David bisa menasehati anak laki-laki itu seperti itu mengingat posisinya sendiri. David bukan dirinya saat ini.
“Bagaimana caranya?”
“Kembali ke sekolah. Aku akan mengantarmu. Lalu kamu akan menemukan mamamu.” David mengulurkan tangannya.
“Bagaimana kalau mamaku sudah pergi?”
Akhirnya anak laki-laki itu menerima uluran tangan David. Dia pun berjalan bersama David untuk menemukan sekolahnya.
Sesampainya di sekolah, dari jauh David dan anak laki-laki itu melihat sebuah mobil hitam mewah baru tiba.
“Itu mobil mamaku,” kata anak laki-laki itu sembari menunjuk mobil itu.
__ADS_1
“Apa kamu yakin?” tanya David.
“Tentu saja. Tidak banyak orang yang memiliki mobil sehebat itu karena tidak banyak orang sehebat papaku. Apa Om juga punya mobil seperti itu? Kalau Om tidak memilikinya, berarti Om bukan orang hebat.” Anak laki-laki itu bertindak sombong.
David tertawa pelan. Itu mengingatkannya pada masa lalunya. Dia juga kerap menyombongkan diri seperti itu.
Setelah mobil itu benar-benar berhenti, David pun melepaskan anak laki-laki itu untuk berjalan ke sana sendirian, sedangkan David memerhatikannya dari belakang. Jika orang tua dari anak itu tahu kalau putra mereka baru saja tersesat, itu mungkin akan membuat mereka semakin khawatir.
Seorang perempuan berambut panjang hitam keluar dari sana. Perempuan itu memeluk anak laki-laki itu sangat erat. David benar-benar senang melihatnya. Dia juga pernah berada pada masa-masa itu meski kini ibunya dan dirinya telah berubah.
Saat perempuan itu menghadap ke belakang, David melihat wajah tidak asing menengahi rambut hitam. Meski sudah enam tahun tidak melihatnya, David yakin tidak melupakan wajah itu sedikit pun. Bukan hanya mirip, itu memang wajah yang sama. Tiba-tiba perempuan itu memasuki mobilnya dan melaju begitu saja. David yang masih terkejut tidak tahu harus berbuat apa. Dengan bodohnya dia berlari mengejar mobil itu.
“LIA! AMELIA!” teriaknya sembari berlari.
Tentu saja David bodoh melakukan itu. Dia tidak akan berhasil mengejar mobil itu hanya dengan berlari, kecuali mobil itu berhenti. Akhirnya David menyerah. Dia berhenti sembari menormalkan pernapasannya. Dia berhenti dengan posisi membungkuk.
“Amelia masih hidup,” gumamnya.
__ADS_1
***