My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
8. Antara Hati Dan Logika 2


__ADS_3

Perdebatan pikiran David dipecahkan oleh ketukan pintu. David membuka pintu.


Perempuan yang mengganggu pikirannya berada di depan pintu. Rambutnya yang masih basah, menandakan dia baru saja mandi. Dia datang dengan mengenakan mantel mandi.


“Ada apa?” tanya David.


“Aku berterima kasih karena kau sudah banyak menolongku. Tetapi aku ingin satu bantuan lagi,” pinta perempuan itu.


“Apa?”


“Bolehkah aku meminjam pakaianmu. Aku kurang nyaman dengan mantel ini.” Perempuan itu menunjukkan mantel yang dikenakannya.


“Baiklah.”

__ADS_1


David pun berbalik untuk mendekati lemarinya. Setelah melihat perempuan itu, David teringat bagaimana dia tersenyum dan menyentuh dadanya yang berdebar kencang beberapa waktu lalu. Tiba-tiba, dia menghentikan langkahnya. Tangannya menyentuh dadanya. Debaran di dadanya masih sama seperti tadi.


David belum pernah seperti ini sebelumnya. Itulah kenapa dia bisa mengerti kenapa dia terganggu saat melihat perempuan itu tampil menyedihkan. David tidak benar-benar terganggu, tetapi dia peduli.


David melanjutkan langkahnya, tetapi tidak menuju lemari. Dia berbalik dan berjalan cepat menuju perempuan itu yang masih menunggu di depan pintu.


“Ada apa?” tanya perempuan itu.


David tidak menjawab. Tiba-tiba dia menarik tangan perempuan itu agar melewati pintu. Lalu mendorong perempuan itu sehingga terhimpit dirinya dan dinding. David menunduk, lalu melayangkan ciumannya tanpa ragu. David kehilangan pikirannya saat itu. Perempuan itu berusaha keras menutup mulutnya untuk tidak menerima ciumannya, tetapi David tidak berhenti menyerang. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya perempuan itu berhasil mendorong David agar menjauh darinya.


David menyesal sudah berusaha memaksa mencium perempuan itu. Rasa bersalah membuatnya tidak berani melihat perempuan itu. Dia menunduk dan membalikkan badannya. Kakinya terasa lemah. Dia berjalan perlahan menuju ranjangnya.


“Tunggu,” kata perempuan itu saat David baru melangkahkan kakinya tiga kali. David kembali berbalik. Perlahan dia mengangkat kepalanya. Rupanya perempuan itu belum keluar dari kamarnya. Perempuan itu masih berada di dalam kamarnya, di depan pintunya yang tertutup. David tidak ingat kapan menutupnya.

__ADS_1


Tiba-tiba perempuan itu melepaskan mantel yang dikenakannya, sehingga menampilkan seluruh tubuhnya yang tak tertutup apa pun. Langsung saja David terkejut. Namun, perempuan itu tidak membiarkan dirinya terkejut terlalu lama. Perempuan itu segera mendekatinya.


“Kau sedang apa?” Perempuan itu memotong


perkataan David dengan menciumnya. David masih terkejut. Dia tidak langsung membalas ciuman itu. Tidak membutuhkan waktu lama, perempuan itu melepaskan ciumannya. Perempuan itu menjadi terasa lebih pendek bagi David. David menduga perempuan itu berjinjit saat menciumnya.


Perempuan itu masih terengah-engah kehabisan napas hanya karena ciuman singkat itu. David segera sadar bahwa perempuan itu telah menerimainya. Tanpa menunggu kesiapan dari perempuan itu, David menunduk kembali dan melayangkan ciumannya. Mula-mula David mencium perempuan itu dengan lembut. Semakin lama, ciuman itu semakin menuntut.


David menghentikan aksinya sejenak. Membiarkan perempuan itu memperbaiki napasnya, sedangkan David melepaskan kausnya. Kemudian dia kembali mengadukan bibirnya dengan milik perempuan itu. Pelan-pelan, David berjalan sembari mendorong perempuan itu. Kakinya membawa mereka lebih dekat dengan ranjang.


Tidak butuh waktu lama, kedua orang itu sudah bertumpang tindih di atas ranjang. Ini adalah kali pertama David menginginkan seorang perempuan. Sebelumnya David bahkan tidak pernah ingin memikirkannya, karena tahu kalau dia hanya bisa mendapatkan perempuan tanpa mempertahankannya. Lalu, apakah David juga tidak akan mempertahankan perempuan itu?


David tidak tahu dan tidak ingin memikirkannya saat ini. Dia hanya ingin mendapatkan perempuan itu lebih dahulu.

__ADS_1


***


__ADS_2