My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
25. Putus 1


__ADS_3

Sebelum pulang, seperti biasa Amelia mengambil tasnya di laci. Tiba-tiba dia tidak jadi mengambil tasnya dan malah menutup lacinya. Kemudian dia berdiri bersandar laci itu.


David telah menyadari sikapnya yang berubah. Laki-laki itu akan menanyakan, tetapi apa yang harus Amelia katakan untuk menjawabnya?


“Aku melihatmu.”


Amelia menoleh. Rupanya Emma tengah mengambil tasnya sendiri di laci samping milik Amelia.


“Kini kalian sudah benar-benar terlihat seperti teman,” tambah Emma seraya menekankan kata ‘seperti’. Kemudian dia pergi meninggalkan Amelia.


Amelia merasa kesal. Dia melakukan semua ini karena perkataan Emma. Namun, perempuan itu malah terus menilainya tanpa membantu atau minimal memberikan solusi.


Amelia tidak ingin menemui David. Akan tetapi, dia tidak akan bisa lari. David adalah dewa.


***


Di depan mobil David, Amelia berulang-ulang mengatur pernapasannya. Akan tetapi, dia tidak pernah merasakan cukup. Dia harus terlihat tenang, tetapi dia terus merasa kehabisan udara.

__ADS_1


Mobil David terbuka. Amelia sudah tidak bisa mundur. Akhirnya dia pun masuk.


“Hai,” sapa Amelia sembari mengangkat satu tangannya, seakan teman yang jarang bertemu. Padahal dia menemui David tidak sampai setengah jam lalu. Sikap itu benar-benar menunjukkan perbedaan sikap pada Amelia.


David tidak tersentuh sama sekali. Wajahnya masih dingin.


“Apa yang terjadi?” tanya David.


“Apa yang terjadi?” Amelia kebingungan. Dia mulai merasa tegang. “Memangnya apa yang telah terjadi?” Amelia tersenyum memaksa. Dia bahkan tertawa pelan untuk menyembunyika rasa canggungnya.


“Kenapa sekarang kau selalu menolak bantuanku?” Akhirnya David berterus terang.


“Tapi—“


“Oh, ya. Mulai besok jangan menjemputku sepulang bekerja lagi, ya? Kau juga pasti lelah sepulang bekerja. Kau bisa menjemputku setiap hari libur saja.”


David merasa menyesal telah menanyakan perubahan sikap Amelia. Seandainya dia tetap bersikap tak acuh, dia tidak akan menyadari sesuatu yang disembunyikan oleh Amelia, dan dia tidak akan menjadi lebih jauh dengan perempuan itu.

__ADS_1


Tangan David terangkat. Dia akan memukul kemudi mobilnya. Tiba-tiba dia menurunkan tangannya pelan-pelan karena Amelia masih berada di sampingnya.


Sepanjang perjalanan pulang, mobil hanya diisi keheningan. Amelia diam karena rasa canggungnya dan David diam karena rasa kesalnya.


David tidak setuju akan permintaan Amelia. Walaupun begitu, akhirnya dia melakukan seperti yang Amelia inginkan. Jika dia memaksa lagi, bisa-bisa perempuan itu akan menciptakan jarak yang lebih jauh lagi.


Entah bagaimana David bisa mencintai perempuan sampai seperti ini. Ini bukan sikap David: membiarkan dirinya direndahkan oreng lain. Sekarang dia malah terus berbohong dan membiarkan dirinya diinjak-injak oleh pencuri rendahan itu.


***


Akhirnya akhir pekan yang ditunggu-tunggu David telah tiba. Untuk menemui Amelia, dia harus menunggu selama tujuh hari. Itu sangat lama untuknya. Dia bisa memaklumi itu karena dia hanya teman bagi Amelia.


Hari indah akan dimulainya dengan menemui perempuan yang dirindukannya, lalu mengajak perempuan itu untuk berjalan-jalan setelah meminta izin untuk pulang bekerja lebih awal. Itu adalah rencana singkat yang sempurna. Sayangnya itu takkan benar-benar terjadi …


… karena David hanyalah teman bagi Amelia.


***

__ADS_1


Setelah memasuki restoran, David duduk di salah satu kursi, lalu melambaikan tangannya kepada Amelia.


Setelah lama tidak bertemu, munculnya lambaian tangan itu membuat Amelia merasa senang, seakan sesuatu yang kosong telah diisi. Dia langsung berjalan cepat mendekati David tanpa memedulikan pekerjaannya yang lain.


__ADS_2