
"Kalau begitu panggilkan bosmu."
Amelia membuka matanya lebar-lebar.
"Kumohon jangan katakan apa pun kepadanya. Bukankah kau sudah memaafkanku tentang pencurian gaun itu?" Amelia memohon.
Perempuan itu sangat senang melihat Amelia merendah dengan sendirinya. Sayangnya, dia tidak bisa menjahili Amelia lagi di sini. Ada beberapa hal penting yang masih harus dijaga olehnya.
"Tenang saja. Asal kau tidak mengusikku, aku tidak akan mengungkit itu," balas perempuan itu membuat negoisasi.
"Terima kasih," kata Amelia bersyukur.
"Tapi aku datang ke sini benar-benar untuk mencari bosmu. Jadi katakan, apa dia ada di sini?" tanya perempuan itu.
Amelia masih merasa khawatir, tetapi dia tidak punya pilihan lain selain mempercayai perempuan itu.
"Dia keluar baru saja," jawab Amelia.
"Wah, padahal aku ada urusan penting," kata perempuan itu putus asa.
Amelia menoleh untuk melihat mobil-mobil yang terparkir di depan restorannya. Salah satunya ada mobil berwarna putih yang selalu terparkir di tempat yang sama. Itu adalah mobil Alex.
__ADS_1
"Dia mungkin tidak lama karena mobilnya ada di sini. Kau bisa menunggunya di dalam sambil memesan makanan," kata Amelia berusaha menenangkan suasana hati perempuan itu.
Amelia harus berhati-hati saat berhadapan dengan perempuan itu.
"Benarkah?" Perempuan itu ikut melihat mobil Alex. Kemudian dia melihat Amelia lagi untuk meyakinkan dirinya. "Baiklah." Perempuan itu setuju.
Perempuan itu masuk lebih dahulu ke dalam restoran. Amelia mengikutinya.
Baru satu langkah memasuki restoran, Amelia mendapatkan kejutan yang lebih besar. Seorang laki-laki sudah duduk di tengah-tengah ruangan dan tengah sibuk memakan makanannya. Itu adalah laki-laki yang sempat merendahkannya sehingga bertengkar dengan David. Sialnya lagi, laki-laki itu duduk menghadap berlawanan dengan perempuan tadi. Laki-laki itu berada di belakang perempuan itu.
Amelia berjalan dengan membuang muka ke arah samping. Mengingat di mana saat laki-laki itu mengatakan tidak akan mengakhirinya begitu saja, Amelia menyadari kalau laki-laki itu tidak akan membiarkan malam ini berjalan dengan baik-baik saja.
"Pelayan! Pelayan!" teriak laki-laki itu sangat keras sampai menjadi pusat perhatian orang-orang di restoran.
"Rupanya dia mulai berulah," kata Emma.
Amelia enggan mendekati laki-laki itu, tetapi mungkin dirinya yang dicari laki-laki itu. Amelia harus segera menemuinya atau laki-laki itu akan membuat sebuah masalah yang besar.
"Aku yang akan ke sana," kata Amelia.
"Tidak." Emma menahan tubuh Amelia. "Kalau kau ke sana, keadaan akan memburuk karena dia akan berusaha mempermalukanmu."
__ADS_1
Amelia tidak memedulikan perkataan Emma. Tanpa panjang kata, Amelia pergi mendahului Emma. Jika dia membiarkan Emma menggantikannya, bisa-bisa perempuan itu juga akan berurusan dengan laki-laki itu.
"Lia!" panggil Emma, tetapi Lia malah mempercepat jalannya.
"Ini akan buruk jadinya," kata Emma khawatir.
"Keputusan Lia sudah benar. Lia itu orang yang banyak masalah. Jangan biarkan dirimu masuk ke dalam kesialannya," sahut Chris memperhatikan.
Emma merasa khawatir, tetapi dia hanya bisa memerhatikan Lia dari kejauhan. Kesulitan itu belum terjadi. Dia tidak bisa bersikap berlebihan. Dia akan mendekat jika Lia benar-benar kesulitan.
***
.
.
.
Please like and comment🤗 Kritik dan saran diperlukan, apalagi pujian😅
Votenya jangan ketinggalan😁
__ADS_1