
Sepanjang hari Amelia diam di kursi itu hanya berteman dengan terik matahari. Mulanya terik matahari semakin panas, Amelia tetap diam. Kemudian terik itu berkurang pelan-pelan. Lalu air mata mulai berjatuhan, bukan dari mata Amelia, melainkan mata awan di bawah langit. Amelia masih bertahan sampai dia berubah pikiran.
Tiba-tiba Amelia bangun setelah duduk seharian di atas kursi. Dia berjalan dengan berteman air awan. Matahari memang tengah bersembunyi, tetapi merah mulai terlihat mewarnai langit. Awan tidak menjadi hitam karena menangis gerimis.
Akhirnya Amelia menghentikan langkahnya. Dia berdiri diam di depan sebuah gedung apartemen. Dia menjadi ragu untuk melanjutkan langkahnya memasuki gedung itu.
Air awan yang berjatuhan menemani Amelia tiba-tiba tak terasa. Amelia mendongak dan menemukan payung hitam berada di atasnya. Dia langsung membalikkan badannya. Seorang laki-laki bertubuh tegap sudah berada di belakangnya.
"Apa yang kaulakukan di sini?" tanya David, laki-laki itu.
Amelia diam. Dia tidak yakin untuk mengatakannya. Dia pun berdesah sekali untuk menenangkan dirinya.
"Apa kau masih mau membeliku?" tanya Amelia akhirnya memberanikan diri.
__ADS_1
Alis kanan David terangkat. "Bukankah kaubilang kau tidak membutuhkan apa pun dari segalanya yang kumiliki? Lalu apa yang bisa kuberikan agar aku bisa membelimu?"
"Dirimu." Amelia menghela napasnya sekali. "Belilah aku dengan dirimu," tegas Amelia yakin.
Karena hanya kau yang bisa membuatku kembali ke restoran itu, bukan sebagai karyawan atau pun pelanggan.
***
Di halaman depan Laksita Hotel, seorang laki-laki juga berdiri di tengah gerimis. Berbeda dengan Amelia, laki-laki itu sendirian tanpa seorang pun yang melindungi payung. Laki-laki itu adalah laki-laki yang menyandung Amelia di restoran kemarin. Laki-laki itu tengah menyeringai. "Jadi kau bermain licik," gumamnya lirih.
"Ada yang bisa kubantu?" tanya resepsionis itu.
"Aku ingin menemui CEO Arya," jawab laki-laki itu.
__ADS_1
"Apa Tuan sudah membuat janji sebelumnya?" tanya resepsionis itu lagi.
"Belum. Tapi katakan saja kalau Gerald Mario mencarinya. Dia pasti akan mengerti," jawab laki-laki itu menyebut nama dirinya.
***
Untuk kedua kalinya Amelia menerima tarikan David untuk memasuki kamarnya. David merebahkan Amelia di atas ranjannya perlahan. Kemudian menghangatkan Amelia yang masih terbungkus pakaian basah dalam kehangatan pelukannya. David mendekatkan wajahnya pada wajah Amelia. Saat dia mulai mempersuakan bibirnya dan milik Amelia, setetes air juga memasuki mulutnya. Itu bukan sisa air gerimis, melainkan air mata. Air itu terasa asin saat meraba lidahnya. David langsung melepas ciumannya dan bangun. Dia teringat pada saat dia memaksakan ciumannya kepada Amelia sehingga membuat perempuan itu menangis. Kejadian itu masih menjadi trauma baginya.
Tahu kalau Amelia menangis saat David menciumnya, David takut jika perempuan itu terluka karenanya. David pun berdiri.
"Apa yang terjadi?" tanya Amelia khawatir.
David menoleh sedikit. "Sebaiknya kau mandi lebih dahulu. Kau bisa masuk angin nanti," kata David. Kemudian dia pergi keluar dari kamar.
__ADS_1
David berjalan menuju sofa. Dia duduk di sana untuk menenangkan dirinya. Dia merasa kecewa pada diri sendiri karena telah menjadi sangat egois. Dia sangat tahu kalau Amelia tengah terpuruk, bisa-bisanya dia bukannya membuat Amelia menjadi tenang, malah membuatnya semakin tertekan.
***