My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
56. Hinaan 1


__ADS_3

Amelia tergesa-gesa kembali ke apartemen. Dia sampai nekad memaksa sopir taksi untuk menerobos lampu merah. Sesampainya di apartemen, rupanya David belum tiba di sana. Sejenak Amelia membuang napas lega sebanyak-banyaknya. Kemudian dia melihat jam, rupanya sudah setengah jam berlalu. Padahal David mengatakan akan sampai dalam sepuluh menit saat menelpon tadi. Amelia langsung merasa cemas. Dia khawatir jika David sudah sampai di apartemen, tetapi tidak menemukan Amelia di sana. Jika itu benar, berarti Amelia telah tertangkap basah untuk kedua kalinya.


Selama beberapa saat, Amelia berusaha menenangkan dirinya. Bisa jadi David memang belum kembali. Karena jika David benar kembali dan tidak menemukan Amelia di apartemen, seharusnya David menghubungi Amelia lagi.


Setelah satu jam menunggu, David benar-benar tidak kembali. Amelia pun memberanikan diri untuk menghubungi laki-laki itu. Akan tetapi, David tidak mengangkat telepon darinya. Amelia menjadi semakin khawatir. Dia tidak tahu harus menghubungi siapa untuk mencari tahu di mana keberadaan David saat ini. Akhirnya dia pun memutuskan untuk bersabar dan kembali menunggu.


Semalaman Amelia menunggu, tetapi David benar-benar tidak pulang. Entah apa yang salah dari David atau Amelia. Amelia ingin mendapatkan penjelasan itu. Esoknya, Amelia pun memutuskan untuk menemui David di tempat David bekerja.


Amelia bertemu seorang laki-laki berkacamata yang mengaku sebagai sekretaris David. Bukannya menunjukkan ruang kerja David, laki-laki itu malah mengantar Amelia ke sebuah kamar, tempat David menginap selama ini. Laki-laki itu menyuruh Amelia untuk menunggu David di sana karena David sedang menemui beberapa tamu.


Ruangan kamar itu tidak jauh berbeda dibandingkan ruangan kamar di apartemen: sederhana dan sepi. Lalu apa bedanya sehingga David lebih memilih tinggal di kamar ini dibandingkan di apartemen?


Karena merasa tidak ada sesuatu yang menarik untuk dilihat, Amelia pun memutuskan untuk merebahkan diri sembari menunggu David. Namun, di tengah-tengah ranjang, Amelia menemukan sebuah gaun panjang berwarna putih. Tidak mungkin itu sebuah kejutan untuknya. David bahkan tidak tahu kalau Amelia akan datang ke sini. Amelia juga membenci warna putih. Apalagi gaun itu hampir sama seperti gaun yang dicurinya dari Levina. Apakah gaun itu milik orang lain? Gaun perempuan di tengah ranjang laki-laki?


Amelia mulai berpikir macam-macam. Dia pun mengambil gaun itu dan membawanya ke depan cermin. Dia ingin memastikan pemilik gaun itu dari ukurannya.

__ADS_1


“Itu milikmu.”


Amelia terkejut. Dia langsung berbalik. Rupanya David sudah berdiri di belakangnya dengan wajah dingin.


“Oh.” Amelia merasa tertangkap basah. Namun, menyadari kalau itu memang miliknya, dia langsung tersenyum gembira. “Benarkah?”


Amelia berbalik lagi untuk melihat dirinya di balik pantulan cermin. Gaun itu memang pas untuknya. Akan tetapi, gaun itu sama sekali bukan seleranya. Amelia pun menurunkan senyumnya. “Tapi ….”


“Apa kau tidak menyukainya?” tanya David.


“Sebenarnya ….”


“Aku tidak peduli itu, tapi kau harus mengenakannya untuk makan malam nanti,” sahut David tanpa keramahan.


Amelia pun menenggelamkan kekecewaannya pada gaun itu. Dia kembali menaikkan bibirnya.

__ADS_1


“Bukan begitu. Aku sangat menyukainya. Gaun ini sangat indah,” puji Amelia.


Amelia pun berbalik, tetapi David sudah tidak ada di belakangnya. Rupanya David tengah berjalan keluar tanpa satu pun kata perpisahan.


“David!” panggil Amelia.


David pun berhenti tepat sebelum membuka pintu. Dia tidak menjawab.


“Ke mana kau pergi?” tanya Amelia.


“Ini masih siang. Tentu saja aku bekerja. Kau tunggu saja di sana. Aku akan menjemputmu nanti malam.” David akhirnya pergi tanpa menoleh, bahkan sekali saja.


Amelia duduk lemas di atas ranjang. David telah berubah. Dia sangat jauh dari biasanya. Bahkan Amelia belum pernah melihat wajah sedingin itu. Dia menjadi bertanya-tanya apa yang sebenarnya telah salah?


***

__ADS_1


__ADS_2