My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
70. Mengakhiri 2


__ADS_3

“Jika aku tahu, memangnya apa yang akan kaulakukan?”


David bergerak cepat sehingga berhasil memegang punggung Amelia sebelum perempuan itu kabur. Kemudian David mendekatkan wajahnya kepada Amelia. “Melepaskan kesabaranku,” katanya dengan berbisik. Kemudian dia mendaratkan kecupan halusnya. Namun, hanya tiga detik, lalu Amelia langsung melepaskan bibirnya.


“Tapi adonanmu akan rusak nanti,” sela Amelia.


“Aku bisa membuat yang baru lagi nanti.”


“Itu berarti kau harus membuang yang pertama, tapi kaubilang jangan membuang makanan seenaknya.”


“Adonan itu sudah rusak, bahkan sebelum saat ini. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan.”


“Kau kan—“


Amelia terlalu banyak bicara. Dia memang sedang mempermainkan David. Namun, David tidak mau mengikuti permainan itu. Dia pun langsung mencium Amelia. Amelia berusaha melepaskan diri dari David. Namun, David malah memeluknya dengan kedua tangan. Saat Amelia mulai membiarkan David menguasai dirinya, dengan jailnya David menaikkan kedua tangannya yang kotor untuk mengusap pipi Amelia.


Saat menyadari apa yang David lakukan kepadanya, Amelia langsung mendorong kedua tangan David dengan keras. Akhirnya Amelia terlepas.


“DAVIIID!” jerit Amelia. “Apa yang kaulakukan?” Amelia merengek sembari menyentuh pipinya yang dipenuhi tepung. Tepung itu menempel pada tangannya.


“Memangnya apa yang kulakukan?” David bersikap bodoh. “Oh, pipimu jadi kotor. Maafkan aku.”

__ADS_1


Amelia mendesah kesal. David telah berhasil membalas dendam. Tanpa menanggapi David, Amelia berbalik ke arah wastafel untuk mencuci wajahnya. Namun, David malah menarik lengan Amelia sehingga Amelia berbalik lagi menghadap David.


“Sebaiknya jangan dibersihkan dengan air,” larang David.


“Memangnya ada yang lebih baik dari itu?” sahut Amelia ketus.


Amelia kembali berbalik, tetapi David kembali membuatnya tidak jadi berbalik. Kemudian David langsung menciumi pipinya.


“Apa yang kaulakukan David?” tanya Amelia sembari meringis karena geli. Namun, David tidak menjawab. Dia masih sibuk menyusuri area pipi Amelia sebelah.


“David,” panggil Amelia lagi.


Menyadari warna merah masih menempeli bibir David, Amelia langsung mengusap pipi sebelahnya yang telah dicium oleh David. Seperti yang diduganya, warna merah juga menempel pada jemarinya.


“Kau membuat wajahku semakin kotor,” protes Amelia.


David berbalik. Kemudian dia mengusap pipi sebelah Amelia yang berlumur tepung dengan tangannya yang berair sehingga pipi bagian itu bersih.


“Sudah,” kata David.


“Tapi yang sebelah masih kotor!” Amelia menunjuk pipi sebelahnya lagi.

__ADS_1


“Itu bukan kotoran, tapi cinta. Jadi biarkan saja.” David malah bersikap tenang.


“Lalu apa yang akan kulakukan dengan ini?”


“Kau biarkan saja selamanya.”


“David!” teriak Amelia.


“Apa la—“


Amelia langsung menarik kepala David dan menciumi wajah David untuk meninggalkan bekas lipstik merah di seluruh wajahnya.


“Apa yang kaulakukan, Lia? Aku harus membuat adonan.” David berusaha menghentikan Amelia. Namun, Amelia sudah tersulut dendam. Dia tidak akan menghentikan aksinya dengan mudah. Dia malah memperparah jejaknya sampai ke area leher pula.


Setelah puas dengan hasil karyanya, Amelia tersenyum semringah.


“Baiklah. Sebelum kau menghapus semua bekas lipstik ini dari wajahmu, maka aku juga tidak akan menghapus bekas lipstik ini dari wajahku,” jelas Amelia. Kemudian dia bergegas masuk ke dalam kamar sebelum David menghentikannya.


“Hei! Ini tidak adil! Cintaku seharusnya lebih banyak darimu!” protes David. Namun, Amelia sudah lenyap oleh kamar.


***

__ADS_1


__ADS_2