
Terserah jika Amelia lari darinya, David tidak peduli. David tidak tertarik untuk mengejar Amelia yang berlagak angkuh itu. David malah merebahkan tubuhnya di atas kasur untuk menenangkan pikirannya dan mengusir jauh amarah darinya. Lagipula ke manapun Amelia pergi, karena perempuan itu sangat bodoh, David akan tetap menemukannya hanya dengan membuka layar ponselnya.
David benar-benar lelah. Dia sampai tidak menikmati sedikit pun dari malamnya, selain bersenang-senang di dalam mimpi. Dia akhirnya terbangun keesokan siangnya. Sangat siang, berbeda dari biasanya. Saat membuka kelopak matanya, tiba-tiba dia ingin melihat Amelia. Karena terlalu nyenyak tidur, dia berhasil melupakan kejadian tadi malam, termasuk pertengkarannya dengan Amelia.
David mengambil ponselnya. Sama seperti pagi-pagi sebelumnya, dia akan memastikan titik merah berada pada tempat seharusnya. Tiba-tiba David langsung terbangun. Dia bahkan sampai mengucek matanya dengan sangat keras. Berusaha mengusir kotoran mata yang mungkin membuatnya tidak bisa melihat sesuatu dengan jelas. Namun, bukannya tidak bisa melihat sesuatu dengan jelas, dia memang tida melihat sesuatu itu. Sesuatu itu benar-benar tidak ada: titik merah.
David langsung bangun dan menarik kunci mobilnya. Kemudian dia pergi dari hotel dan membuat mobil hitamnya akhirnya terparkir di parkiran apartemen. Cepat-cepat dia memasuki apartemennya. Namun, seperti yang terlihat jelas di ponselnya, Amelia benar-benar tidak ada di sana. David bahkan mencari perempuan itu sampai ke segala ruang dan kolong.
Sadar bahwa Amelia tidak ada, David duduk lemas di atas sofa. Akhirnya dia mengingat perdebatan dan pertengkaran yang terjadi tadi malam. David menundukkan kepalanya. Dia menyesal telah meremehkan kepergian Amelia. Kini, perempuan itu benar-benar melepaskan diri darinya. Bahkan setelah menyuruh sekretarisnya untuk mencari tahu, David masih tidak tahu di mana Amelia berada. Perempuan itu lenyap begitu saja.
Berhari-hari David menghabiskan waktunya di atas sofa. Tatapannya terus mengarah ke pintu yang tertutup. Berharap kalau Amelia akan muncul dari sana tiba-tiba. Akan tetapi, rupanya itu hanya menjadi harapan untuknya. Amelia tidak pernah kembali. Dia pergi tanpa meninggalkan jejak apa pun, selain sebuah foto yang tiba-tiba diterima oleh David melalui ponselnya.
Foto itu berisi Amelia yang tengah duduk di samping Alex yang duduk di atas ranjang. Setelah berhari-hari, akhirnya amarah David tersulut kembali. David berharap menemukan jejak Amelia agar perempuan itu bisa kembali kepadanya, bukan jejak yang menunjukkan kalau Amelia akan pergi untuk selama-lamanya.
David tidak bisa menerima kebenaran dalam foto itu. Dia pun menghubungi orang yang mengirim gambar itu kepadanya: Levina. Levina mengirimkan beberapa gambar sama dengan pesan satu kalimat.
__ADS_1
*Levina:
Sesuatu yang bisa dibeli, masih bisa dijual lagi*.
“Hai, David,” sapa Levina dari balik telepon dengan ramahnya. “Lama tak mendengar kabarmu. Bagaimana kabarmu sekarang?”
“Jangan bertele-tele! Di mana Lia sekarang?!” David berterus terang.
Levina tertawa sinis. Tidak peduli pada David yang menjadi panik, Levina malah meneguhkan ketenangannya.
“Tidak perlu kau membual terlalu panjang. Kalau bukan kau, lalu siapa orang yang mengambil foto ini?”
“Sudah kuduga: kau memang berbeda dengan kekasihmu yang bodoh itu. Hanya karena satu pesan rindu dari Alex, kekasihmu itu langsung mendatanginya tengah malam. Akhirnya, sampai sekarang dia belum keluar dari kamar itu.”
“Apa rencanamu sekarang? Tidak mungkin kau masih baik-baik saja sedangkan laki-laki di samping Lia adalah tunanganmu.”
__ADS_1
“Tentu saja aku tidak akan baik-baik saja jika Alex memang berselingkuh dengan pelacur itu. Tapi aku masih baik-baik saja. Aku bahkan bisa membagi tawaku kepadamu. Itu berarti Alex tidak berniat untuk berselingkuh dengan Amelia, tapi akulah yang membuatnya berselingkuh. Meski Alex berada di antara kalian, dia tidak akan terpengaruh sama sekali. Hanya kau dan pelacur itulah yang hancur.”
“HEI!” teriak David. “Di mana Lia sekarang?!”
Levina malah mengeraskan tawanya.
“CEPAT KATAKAN!”
“Tenanglah, David. Jika Amelia memang tidak punya malu, dia akan kembali ke tempatmu setelah Alex mencampakkannya. Kalau kau masih menyukainya, maka kau harus berpura-pura tidak mengetahuinya.”
Sebelum David kembali berteriak, Levina sudah memutuskan teleponnya.
“HEI!” teriak David, meski tahu kalau Levina telah memutuskan telponnya. Dia benar-benar putus asa.
Berkali-kali David menghubungi Levina balik. Namun, telepon perempuan licik itu sudah mati. Meski sampai mati pun, usaha David tetap sia-sia.
__ADS_1
***