
Setelah panggilan itu terputus, Amelia benar-benar tidak jadi pergi ke kamar mandi. Dia langsung masuk ke dalam kamar David untuk membagikan kabar baik yang diterimanya. Namun, laki-laki itu malah tidak ada di sana. Sepertinya laki-laki itu tengah berada di kamar mandi.
Amelia pun duduk di atas ranjang sembari menunggu David menyelesaikan kegiatannya. Jika dia tidak mengatakan kabar baik itu segera, mungkin dia akan melupakannya.
Tiba-tiba ponsel yang berada di tengah ranjang itu berdering. Itu adalah ponsel David. Nama yang tertulis di tengah layar itu adalah ‘Mama’. Itu adalah panggilan dari ibu David. Entah kenapa, Amelia memberanikan diri bertindak lancang. Dia iseng menerima panggilan itu.
“Halo, Nyonya,” sapa Amelia.
“Siapa kau?”
“Aku Amelia, Bibi. Aku adalah te—“
“Oh, jadi kamu yang bernama Amelia?”
“Bibi … Bibi mengenalku?”
“Tentu saja. Kau kan kekasih putraku. Bagaimana aku tidak tahu itu?”
Amelia menjadi lebih gembira. Dia mengira kalau ibunya David mengenalinya karena David telah menceritakan tentang dirinya. Kini Amelia menjadi semakin yakin kalau David bersungguh-sungguh akan menikahinya.
__ADS_1
“Benarkah? Wah, aku tidak menyangka kalau David sudah menceritakan tentang diriku kepada Bibi. Padahal dia belum pernah menceritakan apa pun tentangmu kepadaku.”
“Benarkah? Tidak apa-apa. Dia mungkin hanya membutuhkan waktu,” bujuk ibunya David.
Amelia menyetujui itu. Namun, sebelum waktu itu tiba, dia sudah mengetahui itu. Amelia menjadi lebih senang dari apa pun.
“Apa David bersamamu?”
Amelia menoleh ke arah pintu kamar mandi. Suara air jatuh masih terdengar dari sana. Rupanya David masih belum menyelesaikan kegiatannya.
“Tidak, Bi. Dia sedang mandi—“ Amelia langsung menutup mulutnya. Dia keceplosan baru saja.
“Tidak perlu malu. Aku sudah tahu kalau kalian tinggal bersama.”
Meski ibunya David mengatakan itu, Amelia malah semakin merasa malu.
“Sebenarnya aku menghubungi David agar bisa menghubungimu. Kebetulan sekali kau yang mengangkatnya.”
Benarkah? Ibunya David bahkan mencari Amelia sendiri? Apa lamaran David memang sudah direncanakan lama sebelumnya? Lalu apa yang mempersulit David sampai laki-laki mendahulukan bulan madu dibandingkan pernikahan?
__ADS_1
“Memangnya ada apa, Bi?” tanya Amelia penasaran.
“Sebenarnya aku sedang berada di New York. Tapi aku tidak bisa berlama-lama di sini. Besok pagi aku harus kembali ke Indonesia. Padahal aku benar-benar ingin menemuimu secara peribadi tanpa David tahu.”
“Tapi ….” Amelia senang jika bisa bertemu ibunya David, tetapi dia tidak bisa pergi begitu saja karena ini adalah bulan madunya bersama David. Padahal kesempatan bisa menemui ibunya David sangat langka. Ah, Amelia menjadi dilema. Dia diam karena berpikir.
Tiba-tiba suara air jatuh dari kamar mandi berhenti. Amelia menjadi panik.
“Tapi aku sedang berlibur dan mungkin sangat jauh dari tempatmu,” kata Amelia seketika.
“*Aku tahu itu. Makanya aku mengirimkan mobil pribadi ke tempatmu. Kau bisa turun ke tempat parkir sekarang."
Ceklek*. Pintu kamar mandi terbuka.
“Baiklah,” jawab Amelia spontan. Kemudian dia langsung menutup ponselnya dan melemparnya ke ranjang sembarangan. Lalu dia melempar pantatnya ke atas ranjang. Tanpa disadarinya, ponsel David terjatuh ke bawah.
David keluar dari kamar mandi sembari menggosok kepalanya dengan handuk. Dia menatap Amelia dengan penuh keheranan. Perempuan itu duduk di atas ranjangnya dengan cengar-cengir. Padahal David bisa melihat langsung kalau Amelia belum menyelesaikan mandinya, bahkan belum memulainya.
***
__ADS_1