My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
88. Memaksa


__ADS_3

“Kenapa kau kemari?” tanya Amelia bernada kesal.


David tidak menjawab itu. Dia malah mencium Amelia. Amelia langsung mendorong David.


“Apa yang kaulakukan?” tanya Amelia lagi. Namun, lagi-lagi David tidak menjawabnya dan malah mendaratkan ciumannya.


Amelia kembali mendorong David agar melepaskan bibirnya itu. Namun, David malah bersikukuh untuk kembali menciumnya. Amelia pun mendorong David lebih keras, lalu menamparnya, Plak!


“Apa kau masih tidak tahu kalau kau tidak boleh menemuiku?” tanya Amelia.


David hanya mengusap pipinya sebentar. Kemudian dia mendekati Amelia lagi untuk mencium perempuan itu. Namun, Amelia kini lebih cepat mendorongnya.


“David!” akhirnya Amelia berteriak.

__ADS_1


“Memangnya siapa yang berani melarangku?! Ibuku?! Aku tidak peduli!”


David langsung mendorong Amelia ke arah dinding untuk mengunci perempuan itu. Namun, lagi-lagi perempuan itu berhasil menghindari ciuman David dengan membuang muka.


“Kau tidak bisa menemuiku karena aku sudah menerima uang dari ibumu.” Suara Amelia mulai mengecil. Dia terdengar putus asa. Dia terhimpit oleh penyesalan dan tanggung jawab.


David pun mendorong wajah Amelia agar menatap dirinya.


“Bukankah sudah pernah kubilang, kau masih milikku sebelum aku menjualmu. Sampai sekarang, aku bahkan belum menjualmu kepada siapapun, bahkan ibuku!” tegas David.


“Kita tidak bisa melakukan ini,” larang Amelia.


“Aku tidak peduli, bahkan jika langit dan bumi mengancamku dengan kiamat. Aku akan tetap melakukannya,” balas David bersikukuh.

__ADS_1


David pun kembali mencium Amelia. Awalnya Amelia tetap menutup kedua bibirnya. Lambat laun, bibir itu terbuka. Amelia mulai membuka bibirnya. Di saat itu juga, David mulai memasukkan tangannya ke dalam pakaian Amelia.


Ini adalah salah. Namun, David tidak tahu tentang itu. Lebih tepatnya dia tidak peduli tentang itu. Entah salah atau benar, dia hanya tahu kalau dia hanya menginginkan kebahagiaannya bersama Amelia. Sedangkan Amelia, dia tahu benar kalau yang dia lakukan adalah salah. Dia juga tahu kalau kebersamaan ini tidak akan menimbulkan kebahagiaan apa pun. Lalu kenapa Amelia masih melakukannya?


Entahlah. Amelia juga tidak tahu. Dia tidak mengerti kenapa pada akhirnya dia malah jatuh dalam selimut yang sama.


Esok hari, Amelia bangun sangat terlambat. Hari mulai siang dia baru membuka matanya. Dia tidur dalam kenyamanan pelukan David. Setelah menyadari wajah David berada sangat dekat dengan wajahnya, kenyamanan itu pecah seketika. Tiba-tiba rasa malunya muncul. Meski telah hidup lama bersama dan melakukan banyak hal, Amelia belum pernah mendapati keadaannya seperti ini: berada dalam selimut sama sedangkan dirinya tidak bisa segera pergi. Ah, ini akan benar-benar menjadi kecanggungan untuknya.


Amelia bergegas bangun untuk segera mengenakan pakaiannya. Namun, dia bahkan tidak bisa bergerak. David tidak mau melepaskan pelukannya. Laki-laki itu malah mengeratkan pelukannya. Rupanya laki-laki itu sudah terbangun lebih dahulu meski matanya masih terpejam.


“Lepaskan aku, David,” titah Amelia dengan tetap berusaha melepaskan diri.


Akhirnya David membuka kedua matanya. “Setiap aku melepaskanmu, kau selalu lari dariku. Padahal kau sudah menjadi milikku,” sindir David.

__ADS_1


“David,” panggil Amelia. “Apa yang kita lakukan ini benar? Aku sudah menerima dua ratus juta rupiah dari ibumu,” tanya Amelia khawatir.


David tersenyum ramah sembari mengusap kepala Amelia. “Kau bahkan tidak bisa membeli rumah yang layak dengan uang itu. Tidak ada yang istimewa dengan uang itu.”


__ADS_2