
Bismillah. Semoga bisa update setiap hari.
Mohon dukungannya. Tiba-tiba saja, mood nulisku buat My Obsessive Boyfriend ini meningkat.
Cuz ….
z z z z z z
Dahi Sofia berkerut. Jadi, maksud kedatangan anak laki-laki itu untuk membela Dodik?
“Enggak. Tante sudah sering bilang itu ke Dodik.” Sofia mengalihkan perhatiaannya pada Dodik yang hanya menunggu.
“Biarkan aku yang bertanggung jawab,” rayu Bima.
“Apa maksudmu?”
“Kebetulan aku juga sekolah di sana. Biarkan aku yang merawat Dodik.”
“Biarkan aku yang bertanggung jawab,” rayu Bima.
“Apa maksudmu?”
“Kebetulan aku juga sekolah di sana. Biarkan aku yang merawat Dodik.”
“Kamu masih kecil, Bima. Jaminan apa yang bisa kamu berikan padaku?”
“Keluargaku.”
__ADS_1
Dahi Sofia berkerut sekali lagi.
“Aku akan menjaminmu dengan keluargaku,” jelas Bima. “Aku sekolah di sana bersama kakakku. Kakakku yang aka merawat kami berdua.”
Terserah bagaimanapun Bima berdalih, Sofia tetap merasa keberatan. Namun, saat melihat mata Dodik berkaca-kaca, hatinya mulai longsor sedikit demi sedikit. Anak itu terlihat begitu memelas.
“Ma …, rengek Dodik. “Biarkan aku ya, Ma?”
“Enggak, ya, enggak.” Sofia masih kukuh pada jawabannya.
“Ayolah, Ma ….”
Tidak bisa. Jika Sofia terus melihat anak malang itu, mungkin keteguhannya akan jatuh.
Sofia pun pergi meninggalkan kedua anak itu. Ia mengunci diri di kamar selama beberapa waktu.
Ah, entahlah! Untuk pertama kalinya Dodik merasa sebal pada ibunya. Padahal dulu, kalau Dodik meminta bulan, ibunya pasti rela melesatkan diri ke angkasa.
-oOo-
Selama beberapa hari, Sofia mengurung diri di kamar. Sebenarnya ia tengah mempertimbangkan keputusannya.
“Jadi, apa keputusanmu?”
Lamunan Sofia pecah. Ia mengangkat kepala. Pandangannya bertemu David yang tengah melepaskan jasnya.
“A-apa?”
__ADS_1
“Tentang Dodik.”
Sofia mengembuskan napas beratnya. Timbangannya belum menemukan berat sepihak.
“Aku tidak tahu ….” Akhirnya Sofia berada di ambang dilema.
Usai meletakkan jasnya ke penopang, David berjalan mendekati Sofia. Kemudian duduk di ranjang yang sama, di samping perempuan berwajah murung itu.
“Aku percayakan anak kita padamu,” ujar David.
b c
-oOo-
Hai-hai, semua …. Apa kabar?
Enggak nyangka aku akhirnya bikin extra part kayak gini. Padahal udah lebih tiga bulan sejak cerita ini ditamatkan.
Niatku, pengennya memberikan akhir menyedihkan, tapi terasa realistis, sehingga memaku di hati pembaca sekalian. Seperti bagaimana aku menonton film India Fanaa, Ghajini, Dhoom 3 ….
… tapi apalah daya diriku. Ekspetasiku terlalu tinggi.
Sebenarnya aku mempertimbangkan ini dari dua bulan lalu. Tapi masih ragu dan jawabanku beralih-alih. Enggak yakin ada yang baca juga. Tapi karena cerita ini mau diterbitkan secara cetak, aku pun mengambil keputusan yang tegas. Aku akan melanjutkan cerita ini ke season 3. Setelah membaca komentar-komentar kekecewaan para pembaca, sepertinya enggak ada salahnya kalau aku memberikan ending yang bahagia sebagai ucapan terima kasihku atas dukungan kalian.
Season 3 ini masih kupikirkan alurnya. Jadi, sekarang aku hanya bisa update extra part dulu, itu pun enggak rutin, karena aku masih sibuk sama project lainnya. Aku berharap kalian masih mau mendukungku dan tetap menanti cerita ini.
Oh, ya. Siapkan otak dan hati kalian. Karena roal coaster akan mengaduk-aduk pikiran dan perasaan kalian.
__ADS_1
Terima kasih.