
Sudah lama Amelia menunggu David. Itu karena Amelia sangat tidak sabar, sehingga bersiap-siap lebih awal. Dalam hati dia berjanji untuk tidak mengecewakan David sedikit pun. Dia akan berusaha untuk mencairkan kebekuan David.
Malam tiba, David menjemput Amelia di kamar hotel. Tidak jauh, David hanya membawa Amelia pergi ke restoran hotel. David memesan sebuah meja dengan empat kursi. Awalnya Amelia heran. Jika untuk dua orang saja, kenapa kedua kursi ini harus berada di sini juga?
Amelia beniat menceritakan apa yang telah terjadi kepadanya selama beberapa hari ini dan menanyakan pertanyaan yang memenuhi kepalanya selama ini. Namun, melihat makanan-makanan lezat telah memenuhi meja, Amelia mengurungkan niatnya. Dia tidak ingin memecahkan suasana romantis yang telah susah payah David siapkan.
“Kupikir kau sedang marah kepadaku, tetapi kau sedang menyiapkan kejutan untukku rupanya.” Amelia tersipu malu.
David tidak menjawab. Dia hanya tersenyum tipis. Meski sebentar, itu adalah senyum pertama yang Amelia lihat dari David setelah pertemuan terakhirnya.
Amelia merasa lega. Dia mengira pikiran-pikirannya tentang David selama ini hanya sebagai prasangka. Mungkin saja David memang sangat sibuk. Kemudian Amelia bersiap untuk menikmati makan malamnya. Dia pun mengangkat garpunya.
“Tunggu,” kata David menahan.
Amelia pun menurunkan garpunya. Kemudian dia mengangkat wajahnya. “Ada apa?” tanyanya.
“Jangan makan dulu,” jawab David.
__ADS_1
Amelia mengerutkan dahinya. “Kenapa?”
“Tunggulah sebentar lagi sampai mereka ke sini.” David menunjuk ke arah belakang Amelia.
Amelia pun menoleh mengikuti telunjuk David. Bola mata Amelia membelalak. Rupanya Alex dan Levina baru saja memasuki pintu. Amelia langsung menoleh ke David.
“Ada apa ini?” tanya Amelia.
Amelia cemas melihat Levina. Apalagi dia mengenakan gaun yang mirip dengan gaun yang dicurinya dari Levina.
Amelia menarik napas sebanyak-banyaknya. Dia berusaha bersikap tenang. Meski tanpa sepengetahuannya, David menemui mereka untuk niat yang baik, tidak seharusnya Amelia memperburukinya.
“Hai! Kalian sudah datang. Silakan duduk.” David menunjuk kedua kursi kosong lainnya.
Tidak ada yang membalas sambutan David. Amelia dengan jelas merasakan ketegangan pada suasana ini. Entah, benarkah makan malam bersama ini adalah rencana yang baik.
Setelah berbincang-bincang kecil, David mempersilakan semuanya untuk menikmati makan malam sembari mengiringinya dengan perbincangan-perbincangan lain.
__ADS_1
“Rupanya kalian benar-benar sudah bertunangan. Kenapa tidak ada yang mengundangku?” tanya David.
Alex merasa tidak enak hati. Setelah apa yang dilakukannya dan Levina kepada Amelia, David malah bersikap ramah. Dia mengira Amelia telah mengatakan kepada David tentang dirinya yang meminta maaf kepada Amelia. Alex tersenyum tipis. “Kami tidak membuat pesta, hanya di depan para anggota keluarga saja,” jawab Alex.
“Benarkah?”
“Tentu saja.”
“Wah, aku tidak menyangka kalau seorang Alex yang berkehidupan bebas, pada akhirnya menjual dirinya.”
Seketika Amelia, Alex, dan Levina menghentikan kegiatan makan mereka. Perkataan itu adalah perkataan pertama David yang menarik perhatian seluruh orang.
“Kenapa kalian melihatku seperti itu?” David bertanya dengan wajah lugunya. “Bukankah pertunangan Alex dan Levina hanya sebagai ganti dari bantuan keluarga Levina kepada keluarga Alex?”
“Aku tidak tahu dengan penafsiran bahasa di negaramu. Tapi di sini, kata menjual tidak sama dengan kerja sama. Menjual itu seperti Amelia denganmu, sedangkan kerja sama seperti Alex denganku,” sindir Levina.
***
__ADS_1