
Darah berserakan di mana-mana. Mula sekarat bersama senyum menyeramkannya. Saat Amelia melepaskan pisau itu, Mula terjatuh dan kepalanya terbentur keras ke lantai.
Setelah pisau itu lepas dari tangan, Amelia melihat tangannya yang bermandikan darah itu bergetar dengan tatapan ketakutan. Dia terlalu terkejut sampai tidak menyadari kalau Mula sendirilah yang menusukkan benda itu ke dalam dadanya. Dia mengira dirinyalah yang membunuh Mula.
Aku tidak membunuhnya … aku tidak membunuhnya … dia masih hidup ….
Perlahan-lahan punggung Amelia yang bersandar di pintu itu merosot. Dia mendekap tubuhnya sendiri. Kebingungan harus bertindak apa. Kemudian dia teringat Rico yang sudah pulang dari perjalanan bisnis. Amelia pun mencari ponselnya.
Pikiran Amelia tidak keruan. Dia bahkan kesulitan hanya untuk mengambil ponsel dari tasnya. Ponsel itu sampai terjatuh beberapa kali, untungnya tidak rusak. Dia pun memanggil Rico. Meski beberapa kali diabaikan, akhirnya Rico menerima panggilannya.
“Ri-ri-ri-rico ….” Amelia bahkan kesulitan hanya untuk mengucapkan satu kata.
“Ada apa?”
“Se-sebenar-r-nya ….”
“Cepat katakan! Aku kelelahan dan ingin tidur tenang!”
“Aku sudah membunuh Mula.” Amelia mengatakannya dengan cepat.
“Apa?!”
__ADS_1
“A-aku tidak berniat membunuhnya. Pisau itu tertusuk sendiri ke dadanya.”
“Tunggulah di sana. Jangan pernah membuka pintu sebelum terdengar ketukan tujuh kali. Dan jangan menyentuh apa pun di sana.”
Tak lama, panggilan itu terputus. Dengan kaki lemahnya itu, Amelia pun bangun. Dia berusaha mencari kunci itu. Ternyata tidak sulit, kunci itu berada di atas meja. Amelia pun kembali duduk di depan pintu dengan tubuh bergetarnya.
Ketukan pintu tujuh kali terdengar setelah hampir setengah jam berlalu. Amelia pun membuka pintu. Benar-benar Rico di depan pintu itu. Rico langsung menerobos masuk dan mengunci pintu itu lagi.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Rico. Dia memegang lengan Amelia yang tidak terkena darah.
“A-aku sudah membunuhnya. Bagaimana ini?”
“Sial!” umpat Rico. “Dia sudah mati.”
“Ba-bagaimana ini? A-aku ….”
“Kamu tidak membunuhnya,” tegas Rico.
Amelia mengernyitkan dahinya. Jelas-jelas pisau itu dia yang memegang.
“Dia mati bunuh diri karena tekanan pikiran beberapa hari ini,” tambah Rico.
__ADS_1
“A-apa maksudmu? Jelas-jelas aku yang membunuhnya?!”
“Jangan pernah mengatakan itu kepada siapapun sekarang, bahkan kepadaku. Karena dia mati bunuh diri. Aku yang akan mengurus segalanya.”
“Ta-tapi-tapi ….”
“Sebaiknya kita pulang sekarang dan aku akan mengurus segalanya.” Rico pun melepaskan jasnya dan memasangnya ke tubuh Amelia untuk menutupi bekas darah. Kemudian dia memeluk Rico dan keluar dari tempat itu bersama-sama.
***
Beberapa hari telah berlalu. Meski Rico mengatakan dia telah mengurus segalanya, Amelia masih ketakutan. Dia dihantui segala hal. Hanya orang gila yang akan tersenyum setelah membunuh orang. Meski mulai membaik, Amelia masih tidak berani melangkahkan kaki keluar dari kamar. Dia bahkan tidak menemui Dodik sekalipun.
Brak! Tiba-tiba pintu kamarnya terbanting dari luar. Amelia yang terkejut langsung bergerak mundur sehingga punggungnya menabrak punggung ranjangnya. Dia mencoba menutupi dirinya dengan selimut, tetapi percuma, David yang berada di tengah pintu itu sudah melihatnya dengan mata semerah darah yang keluar dari tubuh Mula.
.
.
.
Ket: Pasti pada bingung kenapa Mula kok nusuk pisau itu ke dadanya sendiri. Dia nusukin pisau itu ke dadanya untuk membuat Amelia menjadi tersangka sehingga David akan membalaskan dendam kematiannya. Tapi Mula salah karena Amelia masih punya Rico yang memiliki segalanya.
__ADS_1