
“Apa kamu pikir aku adalah Lia?” Perempuan itu menunjuk dirinya.
“Kenapa kamu menanyakan namamu seperti orang lain, Lia?”
“Tapi aku bukan Lia!” sentak perempuan itu. “Namaku Sofia. Sofia Caramella. Aku sudah memiliki suami dan aku juga memiliki seorang anak.”
David malah tertawa. Dia berpikir kalau perempuan itu benar-benar sedang bercanda.
“Bagaimana mungkin kamu bisa menikah sedangkan kekasihmu ini masih hidup. Bukankah sudah kukatakan berkali-kali, kamu masih milikku sebelum aku—“
Tiba-tiba perempuan itu menarik David untuk bersembunyi di balik pohon.
“Kini kamu berhenti bercanda, kan?” tanya David.
“Kamulah yang seharusnya menghentikan kegilaanmu!” tegas perempuan itu. Kemudian dia menunjuk semak-semak yang menghiasi dinding pagar. “Di sana ada pintu keluar kecil. Kamu bisa pergi dari sini melalui pintu itu. Suamiku sudah datang jadi jangan muncul di hadapanku lagi. Saat itu terjadi, maka aku akan menghubungi polisi.”
__ADS_1
David melihat baik-baik semak itu. Semak itu memang berbentuk seperti pintu. Namun, David malah tertawa. “Suami? Berhentilah bercan—“ David tidak bisa menyelesaikan ucapannya saat melihat langsung perempuan itu memeluk seorang laki-laki yang baru keluar dari mobil hitam mewah lainnya. Apalagi saat perempuan itu mencium laki-laki itu, seakan petir tengah menghancurkan hati David. Apakah ciuman itu bisa menjadi bukti kalau perempuan itu bukanlah Amelia?
Tubuh David menjadi lemas. Dia bingung pada keinginannya. Dia memang menginginkan Amelia hidup kembali, tetapi bukan sebagai istri laki-laki lain.
***
David menunduk sepanjang hari di atas sofa. Pertemuannya dengan Amelia, maksudnya Sofia membuatnya menjadi dilema. Entah apa yang dikatakan Dagel di depannya sembari berjalan ke sana kemari.
“David!” teriak Dagel membangunkan lamunan David.
“Apalagi, Om?” Ah, David mendesah kesal.
“Katakan saja intinya.”
“Temui CEO Rico dari Bintara Hotel Group dan bekerja sama dengannya. Kalau kamu berhasil mendapatkan kerja sama itu, maka kamu bisa menjadi pimpinan menggantikan ibumu.”
__ADS_1
“Bukankah sudah kubilang berkali-kali, aku tidak tertarik dengan perusahaan.”
“Kalau begitu tetap temuilah agar ibumu tidak dipecat oleh siapapun.”
“Ayolah, Om. Aku sudah lama tidak bergelut di perusahaan.” David bersikeras menolak.
“Aku juga menduga kalau tugasmu akan sangat berat. Para dewan lain bahkan berniat menunjuknya menggantikan ibumu. Tapi kamu tetap harus berhasil meluluhkannya. Jika tidak, keluarga kita mungkin akan hancur segera.”
Semua orang berpikir sama seperti Dagel. Meluluhkan seorang Rico Bintara Bangga akan memberikan keajaiban bagi keluarga Arya. Tentunya tidak akan mudah meluluhkan Rico jika Rico adalah orang yang angkuh dan serakah. Namun, mulut David bahkan hampir menganga. Rupanya Rico adalah seseorang yang ramah dan berhati mulia. Dia menerima tawaran David dengan mudahnya.
“Aku tidak tertarik bekerja sangat keras. Aku lebih suka menginvestikan uangku dan bersenang-senang dengan bisnis kecilku,” kata Rico menjelaskan jawabannya.
Memang layak jika Rico disebut sebagai Raja Investor. Dibandingkan menjadi pimpinan dalam grup bisnis yang sudah berkembang besar, dia lebih memilih memimpin bisnis dibidang perhotelan saja. Laki-laki itu mengingatkan David kepada Alex.
Entah bagaimana kabar Alex sekarang. Terakhir kali bertemu, laki-laki itu mengatakan akan mendirikan sebuah perusahaan. Tentunya itu tidak akan mudah.
__ADS_1
***
Sofia pergi menjemput Dodik, anak laki-lakinya lebih awal dari biasanya. Tentunya dia tidak sengaja melakukan itu hanya untuk menghabiskan waktu dengan menunggu. Dia menyuruh sopirnya untuk mengantarkannya ke taman bermain, lalu menjemput Dodik, dan membawa Dodik ke taman bermain juga.