
Karena beberapa hari menunggu, Sofia tidak menemuinya juga, akhirnya David memutuskan untuk mengunjungi sekolah Dodik. Akhirnya David berhasil melihat Sofia setelah berhari-hari. Perempuan itu menjemput Dodik seperti biasanya. David pun mendekati mereka.
“Sofia,” sapa David.
Sofia tampak terkejut melihat David. Apalagi laki-laki itu selalu datang saat Dodik bersama Sofia.
“Ma, kenapa Om Gila ini selalu menemui kita?” tanya Dodik sembari memeluk kaki ibunya.
“Kamu tunggu dulu di dalam mobil, ya. Mama mau bicara dulu sama Om ini,” kata Sofia.
“Jangan terlalu lama, ya,” balas Dodik khawatir. Sebelumnya ibunya marah-marah saat bertemu David, lalu ibunya menangis setelah bertemu David, tentu saja Dodik tidak bisa mempercayai David.
Setelah pintu tertutup rapat, akhirnya Sofia memfokuskan dirinya kepada David.
“Kenapa kamu memaksa Dodik ke dalam? Aku kan bisa menyapanya juga.” David keheranan.
“Menyapa?” Sofia tidak menyangka David bisa mengatakan itu dengan mudah setelah apa yang mereka lakukan di depan Dodik sebelumnya. “Aku malah melarangmu untuk menyapanya lagi!”
Sofia langsung menarik tangan David dan membawa laki-laki itu menjauh dari mobilnya. Sofia khawatir jika putranya sampai mendengar apa saja yang dikatakannya.
__ADS_1
“Apa maksudmu?” tanya David tidak mengerti.
“Aku mau kamu pergi dari kehidupanku!” usir Sofia.
“Tapi kenapa? Aku sudah menunggumu beberapa hari ini di taman, tapi kamu tidak datang. Karena itu aku menemuimu di sekolah Dodik.”
“Untuk apa aku datang? Justru kamu yang seharusnya tidak datang ke sekolah anakku!”
“Bukankah kita sudah berciuman beberapa hari lalu?”
“Aku menerima ciumanmu karena aku merasa kasihan kepadamu. Jadi jangan mengharapkan lebih dariku.”
“Ketulusan? Mungkin lebih tepatnya halu-an. Kenapa aku harus tulus kepadamu sedangkan aku sudah memiliki suami dan anak?”
“Kini aku tahu. Kamu berbohong karena mereka kan?”
“Jangan menyangkutkan mereka untuk imajinasimu. Aku tidak berbohong untuk rasa kasihanku.”
David tidak percaya itu. Dia pun memegang kedua lengan Sofia dengan erat. “Tidak. Itu bukan kasihan, tapi cintamu,” tolak David.
__ADS_1
“Apa yang kamu lakukan?” Sofia menjadi ketakutan. David terlihat gila baginya. Dia pun mencoba melepaskan diri dari David. Namun, David lebih kuat darinya.
“Kalau mereka yang kamu khawatirkan, kita bisa melakukannya di belakang mereka. Kita bisa bertemu setiap siang di taman bermain.” David tersenyum. Seakan-akan dia mampu mendapatkan apa pun yang diinginkannya.
Akhirnya Sofia menghentikan usahanya. Kekuatannya tidak akan mampu mengalahkan David. Dia pun mencoba membuka pikiran David. “Kenapa aku harus mengkhianati keluargaku untukmu?” Meski ketakutan, Sofia mencoba memberanikan diri.
“Karena hanya aku yang bisa mencintaimu lebih dari mereka?” David benar-benar sudah gila.
“Bagaimana kamu bisa tahu itu? Kamu bahkan tidak bisa mengorbankan nyawamu untuk Lia?”
Seketika David menjadi lemas. Dia bahkan menyesali itu. Perlahan-lahan, pegangannya merenggang. Saat itulah Sofia mengambil kesempatan dengan melepaskan diri dan mundur beberapa langkah dari David.
“Kini aku tahu kenapa Lia meninggalkanmu. Kamu hanya mementingkan kebahagiaanmu tanpa peduli posisi orang lain. Buang sifat burukmu itu atau semua orang akan meninggalkanmu,” kata Sofia menasehati sebelum berlari pergi.
***
Malam sudah terlalu larut, tetapi suami Sofia belum pulang. Itu tidak seperti biasa. Suaminya bukanlah orang yang ambisius dalam bekerja. Dia pun berdiri di halaman depan rumahnya untuk menunggu kepulangan suaminya itu.
Dari pepohonan, Sofia melihat sebuah bayangan. Itu membuatnya mulai merasa ketakutan. Meski begitu, dia tidak beranjak dari tempatnya. Dia malah semakin memerhatikan bayangan itu. Bayangan itu semakin lama semakin mendekat. Semakin lama mulai memudarkan warna hitam dan menunjukkan wajah aslinya.
__ADS_1
***