My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
19. SEASON 2: Permainan Ketiga


__ADS_3

Rico dan Amelia tengah tertawa bersama dua gelas wine. Mereka tengah merayakan kemenangan kedua mereka. Baru saja Amelia menceritakan tentang akting hebatnya di ruangan David tadi.


“Seperti dugaanmu, satu-satunya orang yang bisa melawan Mula adalah David sendiri,” kata Amelia.


Dalam permainan balas dendam ini, David adalah kunci permainan. Siapapun yang berhasil mengendalikan kunci itu, dialah yang akan memenangi permainan ini. Begitu pun dengan dulu, David adalah tameng terbaik yang pernah ada di dunia ini.


“Apa kamu begitu senangnya?” tanya Rico.


Amelia mengangguk. Tentu saja. Sudah dari dulu dia ingin melawan Mula, tetapi dia terlalu lemah bahkan untuk membencinya.


“Apa kamu mau yang lebih menyenangkan?”


Amelia mengangguk lagi. Dia mengira sesuatu yang lebih menyenangkan itu adalah permainan akting seperti sebelumnya. Namun, dia bahkan tidak tahu kalau sesuatu yang menyenangkan itu telah dimulai.


Amelia mulai terbiasa menunggu Dodik di taman dan membiarkan sopir menjemputnya dan mengantar Dodik ke sana. Saat itulah seseorang membungkam mulutnya dengan kain. Amelia telah diculik. Penculik itu menyekap Amelia di sebuah gudang kumuh. Anehnya, penculik itu tidak mengikat Amelia sedikit pun. Amelia malah bisa bergerak bebas.


Amelia tidak memikirkan siapakah pelaku penculikannya ini. Dia tahu Mula tidak akan terang-terangan menyerangnya atau perempuan itu akan merasakan kehilangan sebenarnya. Amelia begitu ketakutan. Tangannya pun merayap ke seluruh tubuhnya untuk mencari sesuatu. Akhirnya dia menemukan ponselnya di dalam saku.


Rico mengatakan kalau dia memiliki perjalanan bisnis ke luar negeri. Meski tahu itu, Amelia tetap menghubungi Rico. Dia hanya berharap kalau Rico belum berangkat. Sayangnya harapan hanyalah harapan. Ponsel laki-laki itu sudah mati. Bisa jadi kalau laki-laki itu sedang berada di pesawat. Akhirnya Amelia pergi ke ujung ruangan dan memanggil Rico berulang-ulang. Seharusnya ponsel Rico hanya mati saat menaiki pesawat.


Berjam-jam menelpon, tidak ada satu pun yang terangkat. Padahal baterai ponsel Amelia sudah memerah. Tidak ada jalan lain, jika Amelia bersikukuh menelpon Rico, maka tidak akan ada yang menyelamatkan dirinya. Dia pun menghubungi David.

__ADS_1


“David … tolong aku … aku diculik,” katanya.


***


“Baiklah. Kamu tunggu. Aku segera menyelamatkanmu,” kata David sebelum menutup ponselnya.


David pun menyuruh Dagel untuk melacak lokasi terakhir nomer ponsel baru saja. Fakta yang mengejutkan kedua orang itu adalah lokasi terakhir nomer Sofia berada di pabrik tua yang masih dalam kekuasan keluarga Arya. Sebelumnya Mula membeli pabrik itu untuk dihancurkan dan diganti dengan bangunan lain. Fakta itu membuat David berpikir kalau Mula lah yang menculik Sofia entah kenapa.


“Itu tidak mungkin, David! Kakak tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa merencanakannya denganku,” kata Dagel bersikukuh. Dia percaya kalau Mula bukan dalang di balik penculikan itu.


“Ayolah, Om. Aku tahu Om memang melakukan apa pun yang disuruh mamaku, tapi Om bisa memikirkan apa pun yang Om inginkan. Pikiran itulah yang seharusnya membuatmu melakukan apa pun yang Om inginkan,” kata David sebelum pergi.


***


Rico bahkan tidak melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Ponselnya masih berdiam di atas meja. Sebenarnya dia hanya pergi ke ruangan di bawah tanah. Dia tengah memanah sasaran. Sasarannya kali ini berbeda dari yang terakhir, foto Amelia menjadi sasaran terbesar setelah David, lalu diikuti Mula yang masih berada di tengah.


Sebuah layar tengah menampilkan rekaman CCTV di dekat pabrik itu. Setelah ditunggu sekian lama, David pun muncul dalam rekaman itu. Setelah 98 anak panah berhasil mengenai foto Amelia, untuk pertama kalinya Rico melemparkan anak panah itu ke foto David.


Kini hanya tersisa satu anak panah di dalam kotak. Rico meninggalkan anak panah itu begitu saja.


“Akhirnya … besok … sasaran utama,” katanya.

__ADS_1


***


Setelah David pergi, Dagel bergegas menemui Mula di ruangannya.


“Kak, kamu harus pergi sekarang!” seru Dagel memberikan keputusan.


“Jadi kamu mengusirku juga sekarang?” Mula merasa tersinggung.


“Aku terpaksa mengusirmu sebelum David melakukan sesuatu kepadamu. Amelia telah diculik.”


“Apa?!" Mula langsung bangun dari kursinya. Tatapan matanya menjadi tajam. Dahinya menambah kerutan pada wajahnya. “Permainan macam apa ini? Aku tidak pernah menculiknya!” tegas Mula.


“Aku tahu itu, Kak. Tapi bukan itu yang harus kita pikirkan sekarang, tapi kepergian Kakak sejauh mungkin. Setelah Kakak mendapat tempat aman, barulah kita pikirkan bagaimana caranya membalas mereka.”


“Tidak perlu.” Wajah Mula menjadi masam. Dia pun keluar dari area sekitar kursinya.


“Apa maksud Kakak?”


“Tidak perlu kita. Lagipula kamu sudah mengusirku. Maka aku yang akan memikirkannya sendirian.”


“Kak! Bukan begitu maksudnya!”

__ADS_1


“Bukan begitu, tapi aku mengartikannya seperti itu. Selamat tinggal.” Mula pun pergi dari ruangannya.


***


__ADS_2