
Drrrt … drrrt ….
Drrrt … drrrt ….
Drrrt … drrrt ….
Ponsel David terus bergetar. Itu karena sekretarisnya menghubunginya berulang-ulang, tetapi David tidak mengangkatnya. David tahu apa yang akan dikatakan sekretarisnya itu. Orang itu hanya akan membuat David yang sudah terburu-buru menjadi lebih terburu-buru.
Karena ada urusan tiba-tiba, David menyuruh sekretarisnya untuk ke bandara lebih dahulu. Berjaga-jaga jika dia tidak bisa mengikuti jadwal terbang pesawat tepat waktu. Di tengah terburu-burunya itu, David masih harus berhenti karena lampu lalu lintas yang memerah. Lampu merah itulah yang membuat David tidak terburu-buru akhirnya.
David melihat seorang perempuan yang terlihat mirip dengan Amelia. Dia mengiranya begitu karena Amelia sedang berada di apartemen sekarang. Setelah dilihat dengan baik-baik, ternyata bukan hanya wajah perempuan itu yang terlihat mirip dengan Amelia, pakaian dan sepatunya terlihat sama seperti yang sudah dibelinya. Ternyata bukan perempuan, pakaian, dan sepatu itu yang mirip dengan Amelia dan milik Amelia, tetapi perempuan itu memang benar Amelia. Amelia telah keluar dari apartemen tanpa David bersamanya.
Langsung saja David keluar dari mobilnya. Tidak peduli jika lampu hijau akan menyala sebentar lagi. Dia nekad menyeberangi jalan dan meninggalkan mobilnya.
David lebih terkejut saat Amelia melambaikan tangan dan tersenyum lebar kepada seseorang. Saat dia menoleh, dia menemukan Alex juga melambaikan tangan sembari berlari mendekat. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah senyuman itu pantas diberikan oleh kedua orang yang bersitegang? Jika tidak, bagaimana hubungan kedua orang itu bisa pantas saling melambaikan tangan setelah salah satunya memecat lainnya dengan kejam?
David tidak akan bisa menjawab dengan pikirannya sendiri. Jawaban itu hanya menjadi dugaan atau tuduhan. Dia pun memutuskan untuk bergabung dengan kedua orang itu.
“Hai, Alex,” sapa David saat Alex baru saja tiba.
“Hai, Sayang,” David juga menyapa Amelia.
Amelia terlihat terkejut melihatnya. Padahal ekspresi itu bukan ekspresi yang David inginkan. Kemudian David memeluk Amelia dari samping.
Suasana menjadi hening untuk beberapa saat sampai Alex menyapa untuk memecahkan keheningan itu. “Hai juga, David.”
__ADS_1
“Ba-bagaimana kau ….” Amelia tidak percaya bisa bertemu David saat ini.
“Oh, aku ingin berbelanja denganmu, jadi aku berniat menjemputmu. Ternyata kita malah bertemu di sini,” sahut David.
David terlihat tenang dan tidak tersinggung atas pengkhianatan Amelia. Meski begitu, Amelia tetap merasa cemas. Bisa jadi wajah tenang itu segera lenyap saat berpisah dengan Alex. Namun, tidak mungkin Alex akan bersamanya selamanya. Cepat atau lambat, Alex akan memberikan ruang di mana hanya ada Amelia dan David.
“Benarkah? Apa kalian ….”
“Kami tinggal bersama sekarang,” kata David memotong perkataan Alex.
Meski tahu kalau David menyukai Amelia, Alex sempat terkejut mengetahui mereka tinggal bersama. Sebulan sebelumnya, saat Amelia masih bekerja dengannya, dia tidak melihat David berada di sekitar Amelia. Tak lama dia tersenyum turut senang. “Wah, jadi sekarang kalian sudah bersama. Selamat, ya.”
“Oh, ya, apa yang ingin kaukatakan kepada kekasihku ini?” David mengeratkan pelukannya. Kemudian mengusap rambut Amelia dengan tangan satunya. Memamerkan sisi romantis dirinya.
Amelia masih diam. Dia khawatir jika ikut berbicara, ada salah katanya malah menarik amarah David.
“Oh, tidak. Aku hanya kebetulan melihatnya dari jauh. Jadi aku berniat menyapanya,” jawab Alex.
Amelia tahu Alex berbohong. Tempat mereka bertemu sekarang sangat jauh dari tempatnya bertemu Gerald tadi. Itu membuatnya semakin merasa penasaran pada apa yang akan laki-laki itu katakan.
“Benarkah? Wah, aku kagum dengan hubungan kalian. Setelah apa yang terjadi, bahkan kalian masih saling menyapa,” sindir David.
David meruntuhkan rasa percaya diri Alex. Senyum Alex kembali menyurut. Seketika suasana menjadi tegang. Amelia yang sangat menyadari itu pun langsung menengahi. Dia menarik pelan tangan David.
“Karena kita sudah saling menyapa, sekarang ayo pergi. Sebaiknya kita berbelanja sekarang sebelum malam tiba. Aku tidak suka berada di luar rumah saat malam,” kata Amelia.
__ADS_1
“Haruskah kita pergi sekarang?” tanya David meyakinkan.
Amelia menganggukkan kepala.
“Kalau begitu kami pergi dulu, ya,” kata David berpamitan kepada Alex.
“Oh, iya.”
David memanggil taksi untuk membawa dirinya dan Amelia pergi. Mobilnya terparkir jauh, dia tidak mau terlihat berlebihan di mata Amelia.
Sepanjang perjalanan, David terus tersenyum sembari menatap Amelia. Dia berusaha keras menyembunyikan rasa kesalnya agar Amelia merasa nyaman dengannya. Meski begitu, Amelia tahu kalau David marah kepadanya. Senyum selebar itu bukan reaksi normal atas pengkhianatan. Itu malah membuat Amelia menjadi semakin cemas.
“Da-david,” panggil Amelia ragu-ragu.
“Iya.” David semakin melebarkan senyumnya.
“Apa kita benar-benar akan berbelanja?”
“Tentu saja. Sepertinya isi kulkas mulai berkurang.”
David memang tidak berniat belanja dari awal. Tidak mungkin laki-laki itu akan meninggalkan Amelia tanpa kulkas penuh.
“Da-david,” panggil Amelia lagi.
Kini David tidak menjawab dengan perkataan. Dia mengangkat kepalanya.
__ADS_1
“Bukankah kau ada perjalanan bisnis? Seharusnya kita tidak bisa pergi berbelanja sekarang.”
***