
“Kenapa aku harus melakukan itu?” tanya Amelia sekali lagi.
“Karena aku menyesal dan kau harus memaafkanku. Jika kita berteman, aku bisa menunjukkan niatku dan kau akan benar-benar tahu.”
Amelia diam lagi. Dia benar-benar menimbang keputusannya. Kemudian dia pun mengangkat kepalanya dan menunjukkan wajah kesalnya. “Minggir!” katanya sembari mendorong David agar menyingkir dari jalannya.
“Lia ….” Suara David melemah.
“Di mana mobilmu?” tanya Amelia.
Seketika David kembali bersemangat. “Lia!”
“Kau akan mengantarku, kan? Jadi di mana mobilmu?”
“Di sana.” David menunjuk ke arah depan. Dia mulai berjalan mengikuti Amelia sembari melihat Amelia, bukan jalan.
“Jadi kita benar-benar berteman sekarang?” David mulai merecoki Amelia dengan pertanyaan.
__ADS_1
***
Dalam beberapa hari ini, David telah banyak berubah. Dia tidak lagi menunjukkan keangkuhan dirinya seperti dulu. Dia benar-benar bersikap seperti seorang teman bagi Amelia. Amelia merasa nyaman dengan David. Hubungan di antara mereka pun menjadi dekat. Amelia benar-benar tidak menyadari niat apa pun dari David, kecuali penyesalannya.
Setiap malam, David selalu menunggu Amelia pulang dari bekerja, lalu mengantarkan perempuan itu pulang. Beberapa kali David memilih mengantar Amelia dengan berjalan agar waktu yang mereka habiskan bersama menjadi lebih lama. Karena Amelia sudah tidak merasa terganggu lagi dengannya, sesekali David memberanikan diri mengajaknya makan bersama atau pergi berjalan-jalan untuk menghirup udara.
Akhir-akhir ini, David kerap membantu Amelia di restoran. Sebelum mengantar pulang, jika waktu bekerja Amelia belum selesai, dia akan membiarkan Amelia beristirahat, sedangkan dirinya bekerja menggantikan Amelia. Hal itu mulai menarik perhatiaan Emma.
“Sini, biar aku yang antar,” kata David menawarkan diri untuk mengantar satu pesanan sehingga Amelia akan diam sembari menunggu kembalinya David.
Setelah David pergi, Emma pun memberanikan dirinya untuk mendekati Amelia.
“Iya,” jawab Amelia menoleh.
“Apa kau benar-benar hanya berteman dengan laki-laki berhidung belang itu?” Emma menunjuk David dengan tatapannya.
“Berhidung belang, apaan?” Amelia tertawa. “Tentu saja aku berteman dengan David, bukan laki-laki berhidung belang.” Katanya mengoreksi. Dia jadi teringat bagaimana dia menyebut David sebagai laki-laki berhidung belang dulu.
__ADS_1
Emma ingin mengatakan sesuatu, tetapi David sudah kembali. Dia pun mengurungkannya.
“Terima kasih,” kata Amelia sembari menerima nampannya kembali.
Itu adalah pekerjaan terakhir Amelia. Dia akan pulang setelah pelanggan terakhir keluar dari restoran. Dia pun menyuruh David untuk menunggunya sebentar. Kemudian dia masuk ke dalam untuk mengambil tasnya di dalam laci.
Emma menemukan sebuah kesempatan. Dia pun berjalan mengikuti Amelia.
“Lia,” panggil Emma lagi.
Amelia tidak menjawab. Dia hanya menoleh. Bersiap mendengarkan apa yang akan Emma katakan.
“Kalau kamu masih berpacaran dengan laki-laki berhidung belang itu, sebaiknya cepat kamu putuskan. Status kekayaannya sangat jauh dengan pelayan-pelayan seperti kita. Kau tidak akan bisa menggapainya,” kata Emma menasehati.
Berulang-ulang Amelia menjelaskan, tetapi Emma masih salah memahami hubungan antara Amelia dan David. Itu membuat Amelia merasa kesal.
“Bukankah sudah kukatakan berkali-kali kalau aku dan David hanya berteman? Kenapa kau masih mengambil kesimpulan seenaknya seperti itu?” geram Amelia. Dia langsung berbalik dan hendak meninggalkan Amelia.
__ADS_1
“Kalau kalian memang berteman, maka bersikaplah seperti teman,” sindir Emma membuat Amelia menghentikan langkahnya.
Tiba-tiba Emma menepuk pelan pundak Amelia. “Tapi sebelum itu, apa kau sudah yakin kalau David hanya menganggapmu sekadar teman?” tanya Emma untuk yang terakhir kali. Setelah itu dia pergi mendahului Amelia yang sempat akan meninggalkannya.