
Amelia merasa tidak nyaman melihat tatapan dingin dari David. Sudah Amelia duga inilah yang akan terjadi. Tidak mungkin David akan menyambut kedatangannya dengan suka hati. Karena itulah Amelia sebelumnya tidak berani untuk kembali, bahkan saat ini. Kalau bukan karena kata-kata Alex, Amelia akan benar-benar lari.
“Hai … David …,” sapa Amelia mencoba mencairkan suasana tegang di sekitarnya. Dia bahkan sampai mengangkat tangan kanannya dan tersenyum memaksa.
David masih diam tanpa menurunkan tatapannya.
“Bagaimana kabarmu?” tambah Amelia. Namun, David masih sama seperti sebelumnya. Laki-laki itu lebih mirip patung saat ini.
“Oh. Se-sepertinya kau baik-baik saja.” Amelia tertawa pelan. “Bo-bodohnya aku. Kau berada di depanku dan aku malah menanyakan kabarmu.”
David masih diam. Amelia menjadi bingung harus mengatakan apa. Dia malah mulai mengatakan kata-kata yang tidak penting.
“Da-david … aku sudah ke-kembali.” Akhirnya Amelia memberanikan diri mengatakan itu. Kalimat yang menyatakan kalau dia telah pergi.
“Kenapa kau masih kembali? Kenapa kau tidak pergi lagi?” sindir David.
Meski David akhirnya membuka mulutnya, Amelia bukan tambah senang, dia malah tambah tidak berani.
“Se-sepertinya kau tidak senang aku kembali. Tentu saja, a-aku sudah mengecewakanmu. Ti-tidak mungkin kau-u akan menerimaku kembali. Se-sebaiknya aku pergi.” Amelia menunjuk ke belakang. Kemudian dia berbalik dan mulai berjalan menuju pintu.
Saat Amelia baru saja membuka pintu sedikit, tiba-tiba sebuah tangan mendorong pintu itu dengan keras sehingga tertutup kembali. “BRAK!” Pintu itu berteriak keras. Namun, di detik yang sama itu, bukan pintu itulah yang berteriak paling keras, melainkan teriakan David, “HEI!”
Tiba-tiba tubuh Amelia mulai bergetar. Dia diam di posisinya, tidak berani melihat kemarahan David.
__ADS_1
“Atas hak apa kau bisa kembali dan pergi seenakmu?!” sentak David.
“Ku-kupikir ka-kau tidak se-senang atas ke-kembalia-anku.”
“Meskipun aku tidak senang dengan keberadaanmu di sekitarku, meskipun aku sampai membencimu, kau tetap tidak berhak untuk pergi dariku sebelum aku mengusirmu!”
Amelia tidak mengerti perkataan David: apakah laki-laki itu menginginkannya pergi atau tidak. Tiba-tiba David menarik pundak Amelia, sehingga Amelia menghadap ke arahnya.
“Kau itu milikku! Kau itu masih milikku! Meski kau tidak menyukaiku, kau itu masih milikku! Meski ada yang memberikanmu penawaran lebih tinggi, kau masih milikku sebelum akulah yang menjual dirimu!”
“Da-david ….” Amelia masih tidak mengerti maksud perkataan David.
“Seharusnya kau tidak pergi dariku.” Tiba-tiba David menurunkan intonasi suaranya. Suara itu lebih terdengar seperti keputusasaan. “Aku membiarkanmu pergi tanpa bersamaku hanya untuk menyenangkanmu, bukan untuk membiarkanmu meninggalkanku. Meski aku tahu kalau kau itu milikku, kalau kau tidak bisa pergi sebelum aku mengusirmu, aku masih melakukan banyak hal untuk menyenangkanmu, agar kau tetap nyaman bersamaku. Aku bahkan tidak pernah menciummu agar kau tidak merasa terluka karenaku.”
Amelia tertegun. Dalam kemarahan besar David itu, dia malah menemukan sisi David yang dikiranya telah hilang sebelumnya dan jawaban dari pertanyaan yang selalu ditahannya di dalam pikirannya.
“Bukankah sudah kukatan sebelumnya!”
Tiba-tiba Amelia maju dan mencium David dalam ciuman lembut.
Awalnya David merasa senang mendapatkan ciuman itu. Kemudian dia menyadari kalau Amelia menciumnya dengan tubuh bergetar. David pun langsung mendorong pelan Amelia agar melepaskan ciuman itu darinya. Kemudian dia membuang muka. “Apa yang kaulakukan?”
“A-aku menciummu.”
__ADS_1
“Tidak perlu melakukannya jika kau merasa terpaksa.”
“Tapi aku tidak merasa terpaksa.”
“Tubuhmu bahkan bergetar saat menciumku.”
“Apa tubuhku bergetar?” Amelia melihat tubuhnya sendiri. Dia memang masih bergetar. Meski begitu, dia mengingat semenjak kapan tubuhnya merasa seperti itu. “Tapi tubuhku sudah bergetar sejak kau menutup pintu tadi.”
David akhirnya melihat ke arah Amelia dengan wajah keheranan. “Apa maksudmu?”
“Tubuhku bergetar bukan karena aku menciummu, tapi karena kau mengejutkanku tadi.”
“Apa itu berarti kau tidak akan terluka jika kita berciuman?”
“Kenapa aku harus terluka? Menciummu bukan sesuatu yang buruk bagiku. Kalau aku akan terluka saat kau menciumku, tidak mungkin aku akan membiarkanmu memilikiku. Aku ini milikmu. Jadi kenapa—“
David langsung mencium Amelia sehingga perkataan Amelia terpotong. Berbeda dari ciuman Amelia sebelumnya, ciuman David lebih kasar dan lebih menuntut. Kerinduannya selama ini membuatnya sampai ingin menghabiskan mulut Amelia sekarang juga. Namun, David tidak akan melakukannya. Dibandingkan keinginan itu, dia lebih menginginkan untuk merasakan bibir Amelia setiap hari.
Saat Amelia mengatakan kalau dia tidak pernah tidur dengan laki-laki manapun sebelum bertemu David, David langsung percaya itu. Amelia benar-benar payah dalam berciuman. Amelia tidak bisa mengimbangi ciuman David. Bahkan saat tidur bersama David, perempuan itu hanya diam dan membiarkan David beraksi sendirian. Meski tidak memuaskan, Amelia malah menjadi candu bagi David.
David memegang punggung Amelia agar lebih dekat dan ciuman mereka menjadi semakin panas. Ciuman itu sangat panjang, seakan-akan David tidak membiarkan Amelia melakukan hal lain apa pun, bahkan untuk bernapas. Setelah beberapa saat, akhirnya David melepaskan ciumannya. Amelia terlihat kelelahan karena ciumannya yang menuntut itu. Meski begitu, David tidak berniat menghentikan ciumannya itu. Seperti yang tertulis sebelumnya, Amelia tidak bisa memuaskan David, tetapi membuat David kecanduan.
David langsung menggendong Amelia. Meski terkejut, Amelia tidak bereaksi apa pun.
__ADS_1
Tidak jauh-jauh, David hanya membawa Amelia ke atas sofa. David duduk di sana dan mendudukkan Amelia di atas pangkuannya. Kemudian dia melanjutkan kegiatannya yang sempat berhenti: berciuman.
***