
“Sekarang kamu bilang kalau papa yang merawatku sejak kecil bukanlah papaku, sedangkan kamu yang baru datang dalam hidupku adalah papa kandungku. Mamaku juga merawatku sejak kecil. Apa kamu juga akan bilang kalau perempuan di depanku bukan mamaku dan mamaku ternyata orang lain?” ejek Dodik.
David dan Sofia hanya saling menatap dalam kediaman. Kenyataan ini seperti lelucon. Mereka tidak tahu harus mengatakan apa kepada Dodik. Jika mengungkapkan kebenaran Sofia kepada anak itu, David takut itu akan melukai Dodik lebih dalam lagi.
Sofia memprotes. Ia tidak tega kalau Dodik hidup dalam ketidaktahuan lebih lama lagi. Namun, David meminta waktu lebih lama lagi untuk mengungkapkan segalanya. Sekali lagi, Sofia hanya menerima.
Esok hari, saat Sofia mengunjungi kamar Dodik dan ingin menanyakan kabar anak itu, ia dikejutkan oleh kekosongan yang mengisi kamar Dodik. Barang-barangnya masih ada. Namun, anak itu tidak kembali bahkan setelah malam hari. Tidak ada yang tahu ke mana keberadaan anak itu. Dodik juga tidak meninggalkan secarik surat pamit pun.
Sofia khawatir sendirian. Ia mengerahkan seluruh pekerjanya untuk mencari Dodik.
“Siapapun yang menemukan keberadaan putraku, aku akan memberikannya uang lima puluh juta!” serunya membuat woro-woro.
Para pekerja di sana menerima tugas itu dengan penuh antusias. Siapa yang tidak akan tertarik dengan uang sebanyak itu?
-oOo-
BAGAIMANAKAH KELANJUTAN KISAH INI?
__ADS_1
KAKAK-KAKAK BISA SILAKAN CEK DI CERITA SEBELAH YANG BERJUDUL: MY GOLDEN HUSBAND
Cerita itu sepenuhnya berisi cerita romansa Dodik yang dibumbui konflik kekeluargaan. Termasuk kebenaran orang tuanya akan diungkap di sana.
David sama Sofia juga bakal tinggal di sana selama season 2.
-oOo
Beberapa tahun kemudian ....
Sofia Caramella POV
“Nyonya Sofia!” Bu Asri datang dengan tergesa-gesa. Menghentikan tawa keluargaku yang memenuhi ruang tamu.
Aku berdiri dengan senyum yang ikut buyar. Melihat Bu Asri seperti habis bertemu setan, aku ikut keheranan. “Ada apa, Bu?”
“Itu … itu di luar … ada yang mau bertemu Nyonya.” Bu Asri menunjuk arah belakang.
__ADS_1
“Apa kau mengundang seseorang?” David bertanya padaku.
Aku bergeleng. Memangnya tamu mana yang akan kuundang untuk mengecewakan waktu berkumpul kami. Tadi, aku hanya memesan piza. Kebetulan, menantuku sangat menyukainya.
Aku pun beranjak. Meninggalkan keluargaku keluar. Tubuhku langsung membeku saat melangkah baru sekali. Mataku melebar melihat perempuan pengantar piza di hadapanku. Dadaku berdetak sangat kencang. Tubuhku sampai gemetar. Aku bertingkah sama seperti Bu Asri, seolah menjumpai hantu.
“Ada apa?” teriakan David membuyarkan lamunanku.
Aku menoleh. Rupanya David sudah bangun. Tidak bisa. Aku tidak bisa membiarkan laki-laki itu melihat apa yang kulihat.
“Tidak ada apa-apa. Kamu tunggu saja!” tahanku memekik. Semakin membuat David keheranan. Untung saja, David memilih mengalah dan kembali ke tempat duduknya.
Aku pun mengalihkan perhatianku kepada perempuan pengantar piza di hadapanku. Aku berusaha bertingkah baik-baik saja, meski perempuan itu juga terlihat keheranan melihatku.
Oh, Tuhan ….
Ujian apalagi yang hendak Kau berikan kepada kami?
__ADS_1
Kami ingin hidup tenang dalam masa-masa tua kami.
-oOo-