
David bergegas pergi ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Setelah turun, Amelia menyapanya, “Kenapa kamu begitu lama?” Kemudian Amelia menyadari pakaian rapi yang dikenakan David. “Tapi kamu … kamu mau ke mana?” tanyanya heran.
David melirik dingin Amelia. Karena pesan dari Rico, dia yakin Amelia terlibat sesuatu.
“Ada pekerjaan penting,” jawab David.
“Tapi … bukannya kamu harus bersamaku selama beberapa hari ini?” rengek Amelia.
“Ayolah, Lia. Kamu tidak seperti dirimu. Aku tidak akan lama.”
“David ….”
“Aku tetap akan pergi meski kamu menahanku.”
David pun bergegas pergi. Tingkah berbeda Amelia meyakinkan dirinya akan keterlibatan perempuan itu. Sedangkan Amelia khawatir sendiri. Sudah tidak banyak waktu lagi. Dia pun bergegas ke kamar untuk mengisi koper dengan beberapa pakaian. Apa pun yang terjadi, besok dia dan David harus pergi dari negara ini.
***
“Ri-ri-ri-rico ….”
“Ada apa?”
“Se-sebenar-r-nya ….”
__ADS_1
“Cepat katakan! Aku kelelahan dan ingin tidur tenang!”
“Aku sudah membunuh Mula.”
“Apa?!”
“A-aku tidak berniat membunuhnya. Pisau itu tertusuk sendiri ke dadanya.”
“Tunggulah di sana. Jangan pernah membuka pintu sebelum terdengar ketukan tujuh kali. Dan jangan menyentuh apa pun di sana.”
David mematung setelah mendengarkan rekaman suara itu. Itu adalah suara Rico dan Amelia, tapi ….
“Itu tidak mungkin,” kata David menolak kebenaran.
“Tidak mungkin. Lia tidak mungkin melakukan itu!” David bersikukuh.
“Bagaimana kamu tahu kalau dia adalah Amelia?” Kini Rico berusaha memecahkan dinding kepercayaan David yang telah retak.
“Dia yang bilang padaku. Dia Liaku. Dia tidak meninggal dalam kecelakaan itu?”
“Lalu kamu percaya begitu saja perkataannya? Ayolah, David! Dia itu penipu! Dia bisa menjadi siapapun.”
“Lalu kenapa kamu mengatakannya padaku? Kamu pun bisa ditangkap sebagai kaki-tangan pembunuh!”
__ADS_1
“Lagipula hidupku sudah hancur. Tidak ada yang perlu kutakutkan.”
“Apa maksudmu?”
“Urusan kami sudah selesai. Kamu bisa melakukan apa pun karena kami tidak akan melakukan apa pun, maksudku … aku dan Liamu.” Rico pun bangun. Dia bersiap pergi dari tempatnya. “Oh, ya, kamu bisa mengambil benda itu. Sepertinya kamu lebih membutuhkannya dari pada aku.” Rico menunjuk pemutar rekaman miliknya. Akhirnya dia benar-benar pergi.
David memegang pemutar rekaman itu dengan tangannya yang bergetar. Benda itu berisi kebenaran, tetapi David terlalu takut pada kenyataan. Akhirnya David memutar rekaman itu berulang-ulang. Dia memutarnya sampai dirinya lebih tenang, sampai dirinya bisa menerima kenyataan bahwa kematian ibunya berada pada tangan Amelia, ah, maksudnya penipu.
Sesampainya David di rumah, Amelia langsung menyambut David dengan pelukan. Amelia memeluknya sangat erat, seakan-akan enggan melepaskan.
Amelia menyadari sesuatu yang berbeda dari David. Biasanya laki-laki itu lebih manis darinya, tetapi sekarang terasa sangat dingin. Amelia pun melepaskan pelukannya. Dia menatap David keheranan.
“Apa semua baik-baik saja?” tanya Amelia.
David mendesah berulang-ulang. Butuh kekuatan besar untuk mengatakan kebenaran.
“Apa urusanmu sebenarnya sampai membuatmu meninggalkanku selama enam tahun?” tanya David.
Wajah serius David membuat Amelia gelisah. “Ada apa denganmu?” Amelia memaksakan senyumannya. “Bukankah sudah kubilang aku akan mengatakannya nanti saja.”
“Apa ini urusanmu?” David pun memutar rekaman dari Rico.
“Ri-ri-ri-rico ….” Hanya dengan mendengar kalimat pertama, Amelia sudah mengerti. Dia terperangah.
__ADS_1