My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
15. Sebuah Tawaran 1


__ADS_3

Amelia mendongak. Dia terharu menemukan Emma di dekatnya. “Emmaaaa …,” Amelia merengek. “Apa yang sudah aku lakukan?” Amelia langsung memeluk Emma.


Emma membalas pelukan Amelia. “Sabar, Lia,” katanya sembari mengusap rambut Lia seperti seorang ibu. “Aku mengerti kalau kau akan terpukul karena ini.”


“Seharusnya aku tidak melakukan itu.”


Emma melepaskan pelukan Amelia darinya. Kemudian dia duduk di samping Amelia.


“Awalnya mungkin berat, tapi kau akan terbiasa,” kata Emma menghibur.


“Aku tidak akan melakukan itu jika dia tidak menyebutku *******. Aku tidak bisa menerima itu,” jelas Amelia.


“Kau harus bisa menerimanya karena bos pasti akan memberikanmu bonus yang sepantasnya.”


“Bonus? Untuk apa?” tanya Amelia. Seketika wajahnya tidak lagi sedih. Dia menjadi heran.


“Bukankah kau sudah tidur dengannya?” tanya Emma dengan lugunya.

__ADS_1


“Bagaimana kautahu?”


“Laki-laki berhidung belang itu keluar setelah lebih dari setengah jam. Memangnya apa yang akan terjadi antara seorang laki-laki dan perempuan dewasa selama itu di tempat tertutup ini selain tidur bersama?” jelas Emma.


“Tadi aku tidak tidur dengannya,” ujar Amelia.


“Tidak?” Emma terkejut. “Lalu kapan kau tidur dengannya?”


“Tiga hari yang lalu.” Amelia langsung membekap mulutnya. Dia keceplosan.


Amelia cengar-cengir karena malu-malu.


***


“Bukankah kau yang menyuruhku untuk pergi sebelum kau bangun?”


Kalimat terakhir Amelia masih mengganggu David selama beberapa hari ini. Sebelumnya David terganggu oleh perempuan itu atas kesalahan perempuan itu. Sekarang kebenaran dari perempuan itu pun masih mengganggunya, malah lebih dari sebelumnya. Perempuan itu memang pengganggu dan David membiarkan dirinya terganggu.

__ADS_1


Usai bekerja David mengendarai mobilnya menuju jalan yang berada di samping restoran tempat Amelia bekerja. Dari sana dia memerhatikan restoran itu. Dari balik kaca dia melihat Amelia tengah sibuk melayani pelanggan. David tidak percaya jika pelayan itu adalah perempuan bergaun putih yang ditemuinya di pesta lalu. Meski David masih bisa mengenalinya, dia juga bisa menemukan banyak perbedaan. Namun, kenyataannya kedua karakter itu adalah satu orang yang sama. Satu orang yang berhasil membuat dada David berdegup kencang.


David menyukai pencuri dan pelayan itu, dia tidak lagi malu mengakuinya. Sayangnya takdir telah menciptakan garis kejam antara dirinya dan Amelia. Perempuan itu sudah mencap dirinya sebagai lelaki berhidung belang. Kata itu bukan salah satu kata luar biasa yang bisa dia banggakan. Itu adalah kata yang dalam rendahnya. Ditambah David sudah mencoreng wajah perempuan itu dengan menyebutnya *******. Ini memang takdir yang kejam, bukan David.


David mengumpulkan keberaniannya memasuki restoran itu. Tempat itu tengah ramai. Semua menjadi sibuk. Tidak mudah menemui Amelia saat ini. Meski begitu, David sudah tidak sabar menghapus garis kejam antara dirinya dan Amelia. Dia pun duduk di salah satu tempat di sana.


Seorang pelayang perempuan mendatangi David. Pelayan itu terlihat gugup. David mengingatnya, itu adalah pelayan yang bersama Amelia kapan hari saat dia menyewa seluruh restoran. David menyeringai kepadanya, tetapi dia tidak tertarik mengganggunya.


“Aku hanya ingin Nona Amelia yang melayaniku,” kata David dengan angkuhnya. Dia melipat kedua tangannya di dada.


“Ta-tapi dia sedang sibuk,” balas perempuan itu.


“Lalu kau tidak sibuk?”


Perempuan itu diam. Sepertinya dia tengah berpikir. Tak lama, dia pun menjawab, “Baiklah.” Kemudian dia berbalik dan pergi mendekati Amelia.


Arah tatapan David berjalan mengikuti langkah perempuan itu. Dia melihat perempuan itu benar-benar menemui Amelia. Perempuan itu berbisik sehingga Amelia menoleh ke arah David. David tersenyum licik kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2