My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
94. Kenyataan


__ADS_3

Tidak lama dari mobil itu melaju, terdapat keramaian yang menarik perhatian David. Di tengah-tengah keramaian itu, terdapat sebuah mobil hangus seperti baru terbakar. Meski mobil itu hangus, David tetap merasa tak asing, plat dari mobil itu adalah plat dari mobilnya. Bukan hanya platnya, itu memang mobil milik David.


Karena jalan tertutup, mobil itu pun berhenti untuk berputar dan mengambil jalan lain. Saat itulah David mengambil kesempatan untuk memaksa keluar dari sana. Meski tahu akhirnya dia akan tertangkap, David tetap ingin mencari tahu apa yang terjadi di sana.


“Apa yang terjadi?” tanya David dengan penuh kecemasan. Amelia menghilang dan mobilnya malah berada jauh dari rumah. Tentu saja David ketakutan setengah mati.


“Mobil itu meledak pagi-pagi dengan korban nyawa yang diduga seorang perempuan. Tubuhnya hancur terbakar api sehingga tidak bisa dikenali.”


“A-apa maksudmu dengan seorang perempuan? Bukankah kamu bilang tubuhnya terbakar sampai tidak bisa dikenali?!”


“Aku juga tidak tahu itu. Aku hanya mendengarnya dari orang-orang di sekitar.”


“Itu tidak mungkin! Itu tidak mungkin!”


David bergegas pergi mendekati mobil itu. Namun, para laki-laki berbaju hitam berhasil mendapatkannya. Meski David menjerit-jerit dan mengalihkan perhatian banyak pasang mata, para laki-laki berbaju hitam itu tidak menghentikan kegiatannya. Mereka bahkan sampai menggendong David yang tidak mau bergerak sedikit pun.


***


“Warga yang masih tertidur di sekitar dikejutkan oleh suara ledakan yang berasal dari mobil. Saat mereka keluar, mobil itu sudah terbakar dan mengakibatkan seorang korban jiwa. Polisi masih menyelidiki kasus itu dan berusaha mengidentifikasi korban jiwa tersebut.”


Berita telah selesai ditayangkan. Dagel pun mematikan televisi yang ditontonnya bersama Mula.

__ADS_1


“Akhirnya semua berakhir, Kak,” kata Dagel dengan gembira.


“Jangan senang dulu, Dagel. Ini belum benar-benar berakhir,” elak Mula.


“Apa maksudmu, Kak?”


“Berpikirlah dengan baik.”


Saat Mula berkata seperti itu, maka Dagel harus memutar otaknya sebaik mungkin. Terlalu sering Mula memberinya teka-teki. Padahal lebih baik kalau Mula langsung mengatakannya. Toh, Dagel juga mengetahui itu akhirnya.


“Tapi, Kak. Aku yakin sudah menyuruh beberapa orang membunuhnya di tempat sepi setelah kamu memerintahkanku. Tapi … bagaimana mobil itu bisa berada di tempat itu?” Dagel keheranan.


“Apa kamu yakin sudah membunuhnya?”


“Tidak ada orang yang bisa dipercaya. Kita hanya mempercayai apa yang ingin kita percayai. Karena itu, tugas apa pun kamu juga harus menyelidikinya,” kata Mula menasehati.


Dagel tidak melakukan itu, tetapi jika Mula yang malah melakukannya, maka—


“Apa Kakak yang membunuhnya?” tanya Dagel.


Mula tertawa. Dia tertawa cukup lama sampai membuat Dagel semakin bertanya-tanya.

__ADS_1


“David benar-benar tidak bisa mencarinya seperti yang perempuan jalang itu katakan,” gumam Mula di tengah-tengah tawanya itu.


“Apa maksudmu, Kak?” Dagel merasa putus asa karena tidak tahu apa pun. Dia memang tidak secerdas dan seteliti kakaknya. Itulah kenapa dia hanya mampu berdiri di samping Mula, bukan sendirian.


“Keluarkan banyak uang dan buat kasus ini ditutup segera. Persis seperti yang kamu harapkan.”


“Seperti yang kuharapkan?”


“Itu akan memudahkanmu untuk bertindak.”


“Tapi, Kak. Kenapa kamu harus melakukan semua ini? Kamu bisa mengeluarkan uang semaumu tanpa perlu mengurangi kantongmu. Tanpa harus menikahkan putramu dengan orang-orang kaya itu, kamu tetap mampu merajai perbisnisan. Lalu apa ruginya jika kita menikahkan David dengan perempuan-perempuan miskin itu? Mereka terlalu bodoh untuk meminta yang lebih dari sekadar rumah dan beberapa gaun saja.”


Bahkan selain Dagel akan menanyakan pertanyaan itu. Mereka mungkin akan menganggap Mula sebagai pembuat masalah. Tentu saja tidak benar. Mula adalah orang yang cerdas dan teliti. Dia mampu menemukan celah kesalahan yang tak mampu dilihat oleh orang lain, bahkan dipikirkan.


“Kamu tahu apa kunci yang membuat aku dan suamiku sampai berdiri di tempat tinggi ini?” tanya Mula.


“Tentu saja karena kecerdasan kalian berdua. Orang bodoh sepertiku bisa apa?” Dagel merendahkan dirinya.


“Kecerdasan saja tidak cukup. Untuk mendapatkan kesuksesan apa pun, yang kita perlukan adalah kerja keras. Kami tidak menikah tanpa adanya cinta karena kami sama-sama pebisnis. Sehingga kami tidak memiliki waktu untuk melakukan hal-hal tidak penting seperti merindukan satu sama lain. Kami saling memfokuskan diri dengan pekerjaan masing-masing. Menikah dengan cinta, bagi orang seperti kami hanyalah masalah. Apalagi jika putra-putraku harus menikahi perempuan rendahan seperti mereka. Mereka tidak bisa memberikan apa pun kepada putraku selain usikan. Kalau begitu putraku tidak akan mampu mempertahankan singgasana ini. Lebih baik bagiku untuk menyerahkan kursi ini kepada orang lain, daripada aku harus melihatnya hancur. Lalu apa yang kamu bilang? Sekadar rumah dan beberapa gaun?” Mula tertawa dengan sangat keras. “Tahukah kamu wanita jalang yang pertama—“


“Maksudmu Wita?”

__ADS_1


“Jika kau mengerti cukup katakan kau mengerti, tidak perlu menyebutkan namanya. Nama itu adalah yang paling kubenci. Perempuan itu mengatakan padaku, ‘kenapa aku harus pergi dari kehidupan putramu hanya untuk uang yang sedikit bagimu? Aku bisa mendapatkan seluruhnya dengan menikahi putramu’. Lalu perempuan jalang yang satu itu malah berani menginginkan istanaku.” Mula kembali tertawa. “Karena bisa melihat langit, manusia-manusia bumi selalu mengira mereka hanya perlu terbang sedikit lagi untuk meraihnya. Kenyataannya, meskipun mereka terbang sangat jauh, tidak ada yang berhasil meraihnya, kecuali mereka-mereka yang menjadi dewa.”


***


__ADS_2