My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
1. SEASON 2: Tidak Ada Yang Berubah


__ADS_3

Sudah enam tahun berlalu. Masih belum ada yang berubah. Perubahan besar hanya terjadi enam tahun lalu. Kini David bertindak seakan tidak memiliki nyawa.


“Dia tidak mau memotong rambutnya sedikit pun. Dia hanya makan dan minum. Mandi pun jarang dilakukannya,” kata Dagel sembari menyerahkan foto David yang wajahnya telah ditutupi rambut kepada Mula.


Sebenarnya Mula merasa prihatin melihat itu. Namun, sebagai seorang perempuan yang memegang kekuasaan besar, tidak layak baginya untuk memiliki kelemahan. Itulah kenapa wajahnya hanya bisa tersenyum atau tertawa.


“Kalau begitu katakan, dia bisa mendapatkan perempuan mana pun yang dicintainya. Karena itu suruh dia memangkas rambutnya dan pulang. Lagipula perempuan mana yang akan sudi bersama laki-laki kotor seperti itu?” kata Mula mengambil keputusan.


***


BRAK!


“Siapkan lampu tidur ke 2004,” kata kepala pelayan kepada salah satu pelayan di belakangnya.


“Mendapatkan perempuan mana pun yang kucintai?” tanya David mengulangi perkataan Dagel yang berbicara dengannya melalui panggilan video. Kemudian David tertawa keras. Dia tertawa sangat keras seperti orang gila.

__ADS_1


“Apa kalian mempermainkanku?!” sentak David setelah tawanya reda. “Bagaimana aku bisa mendapatkan orang yang sudah mati?! Seharusnya kalian mengatakan itu enam tahun lalu!”


David pun membanting remotnya ke arah kamera sehingga panggilannya terputus. Kemudian dia mulai membantingkan satu per satu barang-barang yang mengisi kamar itu.


Menyadari keadaan David mulai memburuk, para pelayan itu pun keluar dari kamar David. Tidak akan ada hal baik yang terjadi jika mereka tetap berada di sana. Lagipula David masih memiliki keinginan hidup. Itulah kenapa mereka tidak perlu mengkhawatirkan tindakan David.


Setelah puas melempar barang seisi kamar, David terduduk bersandar ranjang. Dia menangis lebih keras. Apa pun yang sudah dilakukan orang-orang di sekitarnya tidak ada yang menyenangkan dirinya dan menenangkan hatinya. Mereka hanya membuatnya semakin merasa meyesal.


“Jika saja kalian melakukan ini enam tahun lalu …,” gumamnya.


***


“Bagaimana ini, Kak? Pemecatanmu bisa terjadi kapan saja. Kakak sudah menggatikan Pak Hatta bertahun-tahun. Jadi, para dewan menginginkan pewaris sesungguhnya, bukan sekadar pengganti. Apalagi mereka mulai menyebut-nyebut nama Rico Bintara Bangga, CEO Bintara Hotel Group, yang memiliki saham tertinggi secara individu, berbeda dengan keluargamu yang terbagi menjadi tiga,” kata Dagel menjelaskan situasi yang mereka hadapi setelah memasuki ruangan Mula.


Mula tidak menjawab. Dia juga masih berpikir. Dengan keadaan David saat ini, tidak mungkin David akan menerima tawarannya dengan suka hati. Padahal Mula sudah berusaha sepanjang enam tahun ini. Dalam hati Mula mengakui kalau kesalahan bukan terjadi pada Amelia, melainkan pada putranya.

__ADS_1


Jika Mula menggunakan orang lain untuk menggantikannya, para dewan tidak akan menyetujui itu. Karena yang mereka inginkan adalah seorang pewaris.


Tiba-tiba Mula bangun. “Atur kerja sama dengan para pemegang saham. Sedangkan aku akan mengalihkan perhatian mereka.” Mula pun melangkah pergi.


“Kamu akan ke mana, Kak?” tanya Dagel keheranan. Tidak biasanya kakaknya itu pergi dari kantor tanpa mengajaknya.


“Memanggil sang pewaris.”


“Apa maksudmu, Kak?” Dagel tidak mengerti.


Mula tidak menjawab. Dia pergi begitu saja. Wajahnya yang kesal itu berubah menjadi sedih.


“Hanya ini satu-satunya jalan,” gumam Mula.


***

__ADS_1


__ADS_2