
David melepaskan tangannya. Pandangannya mengarah ke langit-langit ruangan. Dia masih kagum dengan keberuntungannya ini. Kini gantian Amelia yang menyentuh tangan David.
“Karena itu David … David ….”
“Oh, iya?” David menoleh ke Amelia.
“Bisakah kita pergi dan memulai kehidupan baru?” ajak Amelia ragu-ragu.
“Kenapa kita harus pergi untuk memulai kehidupan baru?” David heran.
“Karena aku ingin tinggal di tempat yang mana hanya ada kita berdua, maksudku kita bertiga: aku, kamu, dan Dodik,” jelas Amelia.
“Bagaimana kita bisa tinggal di tempat yang seperti itu? Lagipula kita bisa bahagia di tempat ini dan Dodik tidak akan kekurangan apa pun, baik kemewahan, pendidikan, atau pun pergaulan,” tolak David.
“Tapi David ….”
David melepaskan tangannya. Dia menyodorkan sepiring nasi ke arah Amelia. “Jika terlalu lama, nasinya bisa menangis,” kata David.
Amelia baru tahu kalau dongeng seperti itu masih ada di jaman ini. Akhirnya Amelia menunda keinginannya sebentar untuk makan. Kemudian dia memikirkan waktu yang tepat untuk mengatakan itu lagi sebelum Rico bertindak.
Waktu yang tersisa hanya esok. Lusa sudah berakhir kesempatannya. Saat kepalanya berada di atas pangkuan David yang tengah menonton televisi, Amelia berusaha mengatakan lagi. “David,” panggilnya.
“Hm.”
“Ayo kita memulai kehidupan baru di tempat yang jauh dari keramaian,” ajak Amelia.
__ADS_1
David menunduk. Mengalihkan perhatian dari televisi.
“Sebenarnya ada apa denganmu? Sejak kemarin kamu terus mengatakannya,” keluh David.
“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin saja. Aku merasa tenang jika hidup hanya dengan kalian berdua.”
“Apa kamu takut dengan Rico? Jika itu masalahnya, aku akan mengurusnya.”
“Tidak-tidak!” Amelia langsung bangun. “Tidak perlu. Ini tidak ada hubungannya dengan Rico.”
“Rupanya benar,” simpul David.
Amelia menjadi panik. Akan lebih buruk jika David sampai menggali masalah ini.
“Tidak. Kamu tidak mengenal Rico sama sekali.”
“Ada apa?” tanya David dingin.
“Bagaimana kabarmu sekarang?” Rico malah membalas ramah.
“Tidak ada hubungannya denganmu. Lagipula kita tida sedekat itu untuk saling menanyakan kabar.”
Terdengar suara tawa dari balik telepon. “Kenapa kamu begitu dingin? Aku tidak akan mengambil Lia darimu.”
“Lia tidak ada di sini!" tegas David.
__ADS_1
“Oh, jadi Lia sudah mengatakan siapa dirinya. Sudah kuduga, dia tidak memiliki tujuan lain selain kepadamu.”
Ah, David tertangkap basah. Rupanya bukan dirinya satu-satunya orang tercerdas di dunia.
“Jadi apa maumu?” tanya David.
“Kita harus bertemu.”
“Aku sibuk,” tolak David.
“Maka kamu akan ketinggalan sesuatu yang menarik.”
Panggilan itu puh diputuskan oleh pihak Rico. David mengabaikan kalimat terakhir Rico. Dia hendak kembali ke Amelia. Tiba-tiba ponselnya berdenting karena pesan dari Rico. Itu adalah sebuah pesan suara.
“Aku sudah membunuh Mula.” Isi pesan suara itu yang suaranya di samarkan.
Tubuh David bergetar. Meski tahu kalau itu bisa saja sekadar tipuan, dia khawatir kalau itu benar. Sebelumnya dia sendiri tidak percaya kalau orang sekuat ibunya akan berakhir dengan bunuh diri. Pesan suara itu menguatkan perkiraannya.
David pun menghubungi Rico lagi. Namun, laki-laki itu tidak mengangkat satu pun panggilan David. Laki-laki itu berhasil mempermainkan David.
Tiba-tiba ponsel David berdenting lagi dua kali. Itu adalah pesan teks dari Rico.
Rico CEO Bintara:
Kamu akan kehilangan sesuatu yang menarik itu dalam satu jam.
__ADS_1
Oh, ya, jangan katakan apa pun kepada Lia atau dia tidak akan membiarkanmu menemuiku.