
“Apa?!” Kesal belum hilang, Alex malah mengejutkan Levina. “Bukannya itu satu-satunya usahamu yang berhasil?”
Itu bukan kekesalan. Bagi Alex itu adalah kecemasan. Alex tersenyum dalam keadaan tegang ini. Lalu dia menarik tangan Levina dan memeluk tangan itu di dalam kedua telapak tangannya.
“Apa kau mengkhawatirkan aku?” goda Alex.
Tiba-tiba Levina menjadi gugup. Dia langsung melepaskan tangannya dari tangan Alex.
“Aku hanya mengkhawatirkan diriku,” elak Levina.
Alex hanya diam tanpa menurunkan senyumnya. Levina semakin kesal karena laki-laki itu tidak mempercayainya.
“Meski sebatas kerja sama antar keluarga, aku tetap akan menikahimu. Kau bukan pewaris keluargamu. Kau hanya anak ketiga. Tanpa restoran itu, kau akan memberiku makan apa?”
“Bukannya malah ini yang diinginkan keluargamu? Kau putri tunggal mereka. Tentu saja mereka membutuhkan seorang menantu untuk mewarisi perusahaan keluargamu.”
“Kalau mengurus restoran kecil saja kau tidak bisa, bagaimana kau akan mengurus perusahaan keluargaku?” Levina masih berdalih.
“Kalau begitu kau bisa menghubungi ayahmu dan mengatakan kalau aku tidak pantas menjadi menantunya,” tantang Alex.
“Kaupikir aku tidak bisa?”
Alex mengangkat bahunya.
Levina menjadi sebal. Dia membuka tasnya untuk mengambil ponselnya.
“Aku benar-benar akan melakukannya.” Levina menunjukkan ponselnya.
__ADS_1
Alex tetap tenang, seakan mampu memprediksi tindakan Levina selanjutnya.
Levina sudah nekad sebelumnya. Namun, saat hendak menekan tombol telepon, dia menjadi ragu. Dia diam sejenak untuk memikirkan tindakan selanjutnya. Setelah melihat wajah tenang Alex, Levina menjadi semakin sebal. Namun, dia tidak bisa memutuskan hubungannya dengan Alex begitu saja. Akhirnya dia pun mengurungkan niatnya. Dia menurunkan ponselnya.
“Jika pernikahan ini gagal, keluargamulah yang akan paling menderita. Jadi aku akan menganggap perkataanmu tadi sebagai candaan. Kau bisa pergi sekarang.”
Levina langsung berbalik, tetapi dia tidak bisa melangkah karena Alex memegang tangannya.
“Biarkan aku menginap di sini malam ini,” pinta Alex.
Bola mata Levina membelalak. Dia langsung berbalik sehingga menghadap Alex.
“Hei, hanya karena kita sudah bertunangan—“
Alex menghentikan omelan Levina dengan mencium perempuan itu. Levina mematung. Dia bingung harus bertindak bagaimana. Keangkuhannya melarangnya luluh pada laki-laki ini, tetapi hatinya tidak menolak, sehingga untuk waktu lama dia membiarkan Alex menciumnya tanpa membalas. Kemudian dia langsung mendorong pelan Alex agar menjauhinya. Levina kembali diam. Dia masih berpikir.
“Sepertinya aku ditolak,” kata Alex menduga.
Saat Alex hendak melangkahkan kakinya untuk pergi, tiba-tiba Levina menarik lengannya. Kemudian Levina berjalan dengan tetap menarik Alex.
“Kau akan membawaku ke mana?” tanya Alex keheranan.
“Kau bilang kau akan menginap. Kalau bukan di kamarku, apa kau akan tidur di sofa?” Levina membuang mukanya. Dia benar-benar malu mengatakan semua itu.
Alex mengembangkan senyumnya selebar mungkin. Selain sofa, masih ada kamar tamu di rumah Levina. Namun, Levina malah menawarkan kamarnya. Alex pun langsung mempercepat langkahnya sehingga berdiri di depan Levina.
“Apa?” tanya Levina.
__ADS_1
Alex tidak menjawab. Dia langsung menggendong Levina dan membawanya menaiki tangga.
“Apa yang kaulakukan? Turunkan aku!”
“Kau tidak bisa menaiki tangga dengan keadaanmu sekarang. Pikiranmu tidak bisa jernih karena terlalu memikirkanku,” goda Alex.
“Cepat turunkan aku! Hanya karena aku membiarkanmu tidur di kamarku, bukan berarti aku akan membiarkanmu menyentuhku.”
“Benarkah?”
Alex tidak menganggap perkataan Levina dengan serius. Dia malah tersenyum miring. Kemudian menghentikan langkahnya untuk mencium Levina lagi. Alex mencium Levina dengan ciuman yang menuntut. Dia terus mencium Levina sampai perempuan itu menyerah dan membalas ciumannya. Saat Levina baru saja membalas ciumannya, Alex langsung melepaskan ciuman itu.
“Apa kau masih membiarkanku memasuki kamarmu hanya untuk tidur?”
“Tidak.”
Alex segera mempercepat langkahnya dalam menaiki tangga. Setelah menaiki tangga terakhir, Alex langsung menurunkan Levina. Tubuh Levina sangat berat. Dia tidak kuat lagi menggendong.
Tepat di depannya, pintu kamar Levina tertutup. Bukannya membuka pintu itu, Alex malah mendorong Levina ke dinding di sebelah pintu sehingga terhimpit antara dirinya dan dinding itu. Kemudian dia melanjutkan ciumannya di sana.
***
“Thor, kok tiba-tiba malah diisi kisah cinta levina ‘ma alex sih?”
Anggap saja mereka sebagai cameo. Aku sebenarnya suka banget sama karakter Levina yang kejam, tapi masuk akal. Bahkan sempat berpikir untuk membuat cerita lain tentang mereka, tapi enggak jadi. Selain enggak suka, aku juga enggak bisa bikin cerita dengan berlatar tempat selain Indonesia dan Korea. Sedangkan Amelia dan David ini hanya sementara tinggal di negeri orang. Habis ini mereka bakal tak borong ke negeri nenek moyang.
***
__ADS_1