
21+
Mula pergi ke istananya sendiri. Kemudian dia langsung memasuki kamarnya untuk mengambil sebuah kotak dari dalam lacinya. Lalu dia pergi ke kamar suaminya. Untuk waktu yang lama, dia duduk di samping laki-laki tua yang terbaring itu dengan memegang satu tangan lemah itu. Suasana sepi mengembangkan sendu. Meski jarang terjadi, Mula sampai meneteskan air mata. Air mata itu terlalu sedikit untuk disebut tangisan.
“Sayang, saat kamu meninggalkan perempuan itu dan memilih menikahiku, kamu mengatakan, ‘Hidup itu adil. Itulah kenapa kita tidak bisa mendapatkan semua yang kita inginkan. Kita harus mengorbankan salah satu untuk mendapatkan satu lainnya’. Kamu tahu, Sayang, kalimatmu itu menjadi prinsipku sekarang.”
Setelah menghela napas sebanyak mungkin, Mula mencium tangan suaminya itu. “Maafkan aku,” gumamnya. Kemudian dia mengangkat kepalanya dan menyuntikkan sesuatu ke tangan laki-laki itu.
“Maafkan aku. Untuk mendapatkan putraku, aku harus mengorbankanmu.” Itulah kalimat permintaan maaf penuh Mula.
Sebelum suaminya bereaksi, Mula segera bangun. Sebelum keluar dari pintu, dia menoleh sejenak. “Lagipula kamu sudah lama terbaring. Tidak akan yang tahu, bahkan menyangka kalau akulah yang membunuhmu,” katanya.
***
Setelah enam tahun, akhirnya David kembali. Dia menginjakkan kakinya di tanah pertiwi dengan penampilan yang masih sama seperti enam tahun lalu. Dia memangkas habis rambut panjangnya itu.
__ADS_1
Topik terhangat di Indonesia adalah ‘Presiden Maha Dewi Group Meninggal Dunia Setelah Sakit Bertahun-tahun’. Berita itu terpampang di berbagai televisi dan koran. Berita itu semakin menyesakkan hati David. Meski begitu, David tetap harus berjalan tegap saat melalui televisi dan koran-koran itu.
Setelah pemakaman dilakukan, akhirnya Mula bisa menemui putranya secara langsung. Selama ini dia tidak pernah melihat putranya secara langsung. Dia khawatir tekadnya akan jatuh.
Melihat penampilan putranya saat ini, Mula berpikir kalau foto itu hanya rekayasa. Laki-laki dewasa di hadapannya ini begitu tampan dan dingin, tidak kotor dan segila orang yang berada di foto itu.
“Kamu harus mulai bekerja di perusahaan. Setelah aku mengundurkan diri, kamu akan langsung ditunjuk menjadi pimpinan,” kata Mula terus terang.
“Aku tidak mau. Setelah ini aku akan kembali dan hidup bersama cintaku. Mama bisa melakukan apa pun dengan perusahaan. Tidak perlu mengundurkan diri. Mama bisa duduk di kursi itu sampai mati.”
“Tapi aku tidak mau perusahaan!” tegas David.
“Tidak ada orang yang hidup hanya untuk bersenang-senang.”
“Karena itukah Mama membunuh Lia?”
__ADS_1
Mula menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia sudah lelah dengan pembahasan itu. “Aku tidak pernah membunuhnya!” tegas Mula.
“Akan lebih baik kalau itu benar,” sindir David.
“Aku sudah mengatakan sebenarnya. Tapi apa pun kebenarannya, tidak akan ada yang baik untukmu. Kenyataannya Lia tidak bisa kembali lagi.”
“Apa Mama pikir aku akan mempercayai itu?”
“David!”
David juga lelah dengan jawaban itu. Siapapun akan menolak jawaban itu setelah tahu apa yang pernah Mula lakukan sebelumnya: membunuh Wita.
Rumah tidak lagi menjadi istana bagi David. Dia menyesal karena menjadi bagian dari keluarga itu, meski inilah takdir yang diberikan oleh Tuhan kepadanya. Tidak ada seorang pun yang bisa menjadi sandarannya karena semua orang di sekitarnya adalah orang-orang Mula. Kini tidak ada lagi yang tersisa dalam kehidupan David. Ayahnya pergi, kakaknya pergi, Amelia pergi, dan ibunyalah yang mungkin menjadi penyebab mereka semua pergi.
***
__ADS_1