
“David?” kata Sofia menyebut nama bayangan itu.
Seketika Sofia bernapas lega. Dia takutnya jika perampoklah yang mengunjungi rumahnya. Setelah pikirannya menjadi jernih, Sofia mulai merasakan kejanggalan. David tidak datang ke rumahnya melalui pintu utama. Dia datang dari pintu yang tertutup semak-semak. Ditambah laki-laki itu sengaja mengunjungi rumahnya di tengah malam setelah apa yang terjadi di antara mereka. Sofia pun mendongak dengan kedua matanya yang membelalak. Sayangnya dia tidak bisa langsung lari. Laki-laki itu sudah berada tepat di depannya dengan wajah penuh amarah. Wajah David tidak lagi tampan. Dia terlihat menyeramkan. Itu membuat Sofia ketakutan lebih dari sebelumnya. Tiba-tiba David mencengkeram kedua tangan Sofia.
“Lia tidak meninggalkanku karena diriku. Dia pergi karena mengingkari janjinya,” geram David membela dirinya.
“Da-david, lepaskan aku!” titah Sofia dengan intonasi rendah. Suaranya bahkan tidak berani meninggi di hadapan David.
“Dia yang meninggalkanku, kakakku yang meninggalkanku, semua orang yang meninggalkanku; merekalah yang bersalah, tapi kenapa kamu malah menyalahkanku?!”
“De-dengarkan aku. Le-lepaskan aku lebih dulu.” Sofia berusaha keras melepaskan dirinya.
“Apa karena kamu juga meninggalkanku?”
__ADS_1
Tiba-tiba David memeluk punggung Sofia agar menjadi sangat dekat dengannya. Sofia pun membuang muka. Dia bingung harus bagaimana.
“Sama seperti Lia, ke manapun kamu pergi, aku akan mengejarmu.”
Buk! Tiba-tiba David melepaskan pelukannya dan terjatuh.
“Aaah!” Sofia menjerit karena terkejut. Seorang laki-laki berjalan di depannya dan langsung melayangkan hantamannya kepada David. Itu suaminya. Sofia menjadi diam, membeku. Dia masih terkejut dan ketakutan.
Tiba-tiba suami Sofia menghentikan pukulannya setelah berhasil mengenali wajah orang yang dipukulinya habis-habisan itu. “Pak David?” katanya menyebut nama David.
David pun mulai membuka matanya. Dia mengenali laki-laki yang memukulinya saat itu. Dia adalah Rico Bintara. CEO yang ditemuinya kapan hari.
Dengan tetap memegang kerah baju David, Rico pun menoleh ke Sofia. “Apa yang terjadi?” tanyanya.
__ADS_1
“Di-dia meng-nggang-ngguku tengah-tengah malam,” jawab Sofia tergagap-gagap.
Tanpa menunggu aba-aba, Rico pun melanjutkan kegiatannya.
David yang tidak melawan itu membuat Sofia kesakitan. Sofia pun mendekat untuk berusaha menghentikan Rico. “Sudah, hentikan, Rico!” teriak Sofia. Namun, Rico tidak menanggapinya. Sofia pun menarik lengan Rico dan hampir saja dia terjatuh. “Hentikan, Rico!” teriak Sofia lagi. Akhirnya Rico pun menghentikan pukulannya.
Sofia menarik Rico agar menjauhi David. “Sudah, itu sudah cukup,” kata Sofia menenangkan.
Dengan kasar Rico melepaskan dirinya dari Sofia. Kemudian dia menarik David agar laki-laki itu terbangun.
“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi tidak ada orang baik yang mengganggu perempuan di tengah malam, apalagi saat orang itu adalah keluargaku. Sekarang pergilah dari rumahku dan jangan pernah lagi muncul di hadapanku dan keluargaku! Itu berarti aku membatalkan kerja sama kita!” tegas Rico.
David masih diam. Dia tidak bergerak sedikit pun. Rico pun langsung menarik David dengan kasar dan melemparkan laki-laki yang tidak berdaya itu di depan gerbangnya. Kemudian dengan wajah kesalnya, Rico pun menarik kasar Sofia ke dalam rumahnya. Lalu mereka menuruni tangga yang membawa mereka ke sebuah ruangan di bawah tanah. Meski siapapun tidak pernah diizinkan memasuki ruangan itu, ruangan itu malah lebih bagus dibandingkan ruangan lainnya. Tempat itu berisi ruang penyimpanan dan bekerja rahasia.
__ADS_1