
Bismillah. Semoga bisa update setiap hari.
Mohon dukungannya. Tiba-tiba saja, mood nulisku buat My Obsessive Boyfriend ini meningkat.
Cuz ….
z z z z z z
“Apa kamu sudah selesai?”
Sofia bergeleng. “Belum. Aku belum meminta izin pada adikku untuk keputusanku.”
Dahi David berkerut. “Keputusan apa?”
“Aku akan membiarkan putranya belajar di Amerika.”
David tertawa pelan. “Apa kamu pikir, dia akan memberikanmu izin? Bahkan, dia belum tentu bisa mendengarmu.”
“Kalau begitu, biar aku mengatakan saja. Biarpun dia mendengar atau tidak, setidaknya aku tidak menyembunyikan apa pun darinya.”
Sofia tidak memedulikan tawa David lagi. Ia melangkah mendekati makam paling samping kiri di sana. Kemudian berjongkok dan mengatakan sesuatu. Setelah beberapa lama dan puas mengadukan kegelisahan hatinya, ia pun bangun.
__ADS_1
Sebuket bunga tiba-tiba berada di atas makam itu. Sofia mengangkat pandangannya. Rupanya David bergerak dari satu makam ke makam lainnya untuk menaruh bunga-bunga itu di atas makam. Dalam hati, ia tersentuh. Merasakan kekaguman.
David menyodorkan tangannya. Mengajak Sofia untuk pulang bersama. Sofia menoleh ke makam Amelia lebih dulu. Seolah meminta izin. Barulah menerima uluran tangan itu. Mereka berdua pun pergi.
Di dalam mobil, sesekali David melirik ke Sofia yang hanya melihat pemandangan dari kaca di sampingnya.
“Apa yang terjadi?”
Sofia menurunkan tangan yang ia sandarkan di jendela. Ia menoleh. “Ha?”
“Kenapa kamu tiba-tiba merubah pikiranmu?”
“Aku bukanlah orang yang melahirkannya. Sampai kapanpun, aku bukanlah ibunya. Karena itu, aku berharap, dengan menuruti keinginannya, bisa membuatku mampu memenuhi persyaratanku untuk menjadi ibunya.”
“Tapi bagiku, tidak semudah itu.”
David pun diam. Entah berapa kali ia menasihati perempuan itu. Kini, ia hanya bisa pasrah. Terserah perempuan itu mau berpikir apa. Lagi pula, perempuan itu memiliki prinsipnya sendiri.
Sesampainya di rumah, Sofia langsung memberikan kabar baiknya kepada Dodik. Dodik menyambut kabar itu dengan meloncat kegirangan. Entah, apa yang sebenarnya membuat laki-laki itu begitu ingin pergi dari rumah ini. Padahal, usianya masih sangat kecil.
Sejak hari itu, Sofia sibuk menyiapkan kepergian Dodik. Mereka memutuskan memercayakan anak itu kepada keluarga Bima. Lagi pula, keluarga mereka sudah bersahabat sejak lama.
__ADS_1
Setelah satu bulan, akhirnya Sofia merelakan Dodik pergi menaiki pesawat yang lepas landas menuju Amerika. Meski sedikit tidak rela, Sofia sedikit lega. Akhirnya, ia mampu membuat anak itu memasang wajah bahagia.
Setelah mengantarkan Dodik pergi ke bandara, Sofia kembali pulang. Ia bergegas ke ruang bawah tanah. Ia berada di sana seharian. Menikmati figura-figura lama dan beberapa kenangan yang singgah di pikirannya.
Tak terasa, hari telah sore. Padahal, Sofia hanya berdiam saja.
Sepulang bekerja, David tertarik pada pintu ruang bawah tanah yang tak tertutup. Seharusnya pintu itu ditutup, bahkan jika ada orang di dalamnya. Khawatirnya, jika ada orang lain yang salah masuk. Ia pun ke sana. Berniat menutup pintu, malah bertemu punggung perempuan itu.
-o O o-
o
o
o
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
__ADS_1
Terima kasih 🤗🤗