My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
35. Menginginkanmu Di Sisiku 4


__ADS_3

Karena menangis cukup lama, Amelia benar-benar bermalam di atas kursi itu. Akhirnya dia tertidur dengan posisi tetap memeluk lututnya. Dia terbangun setelah matahari bersinar terang.


Matahari bersinar sangat terang. Itu berarti hari sudah tidak pagi lagi. Amelia melupakan bagian bahu bajunya yang terpotong. Dia berlari agar segera sampai ke rumah.


Cepat-cepat Amelia membersihkan dirinya dan kamarnya.Setelah semua itu, Amelia pun bergegas untuk berangkat bekerja.


Apa yang terjadi padanya kemarin malam memang memalukan dirinya dan restoran. Siapapun, jika berada di posisi yang sama dengan Amelia, mereka pasti akan diberhentikan dari pekerjaan. Namun, Amelia tetap pergi bekerja dan bersikap percaya diri karena dia juga percaya kalau selama ini Alex telah cukup percaya kepadanya. Alex tidak mungkin memecatnya karena laki-laki itu tahu kalau orang yan berada pada posisi paling dirugikan adalah Amelia.


Sesampainya di restoran, Amelia melihat rekan-rekan kerjanya berkumpul mengerubungi sesuatu. Dia pun ikut bergabung bersama mereka.


"Permisi," kata Amelia.


Rekan-rekan kerjanya yan berkumpul menoleh bersama-sama. Mengetahui bahwa yang datang adalah Amelia, ekspesi wajah mereka menjadi lebih tegang. Kemudian mereka membuka jalan sehingga terbagi menjadi dua bagian. Saat itu juga, Amelia bisa melihat apa yang sebenarnya dikerubungi oleh rekan-rekan kerjanya. Itu adalah perempuan yang gaunnya dicuri oleh Amelia. Seketika Amelia menjadi cemas, sedangkan perempuan itu malah menyeringai.


"A-apa yang terjadi?" tanya Kartika kepada rekan-rekan kerjanya. Dia bertanya-tanya karena perempuan itu bisa berada di restoran sebelum restoran dibuka. Namun, semua rekan kerjanya malah diam. Mereka membiarkan perempuan itu menjelaskan sendiri alasan dia bisa berada di sini.


"Kau sudah datang?" sambut perempuan itu. Dia melangkah maju dua langkah agar lebih dekat dengan Amelia.

__ADS_1


"Nona Levina," panggil Emma dari belakang perempuan itu.


Seketika seluruh orang, kecuali Amelia menoleh. Kemudian perempuan bernama Levina itu minggir agar Amelia bisa turut melihat.


Amelia melihat Emma juga melukis wajah cemas. Emma tengah menggendong tas Amelia yang Amelia tinggalkan kemarin. Itu membuat Amelia menjadi terkejut.


Emma berjalan menghadap Amelia. Lalu dengan ragu-ragu dia menyerahkan tas itu kepada Amelia.


"Ini," kata Emma sembari menyodorkan tas Amelia.


"A-a-apa ini?" Amelia tidak mengerti.


"Ma-maksu-sudku, a-apa maksudmu?" Amelia tergagap-gagap.


Emma tidak menjawab. Dia minggir lalu menatap Levina, seakan mengatakan kepada Amelia kalau perempuan itu yang akan menjelaskan. Amelia pun ikut menatap Levina.


"Kau dipecat!" tegas Levina.

__ADS_1


Tas yang Amelia gendong langsung terjatuh. Kemudian dia melangkah maju.


"Aku bisa jelaskan yang terjadi kemarin malam. Itu bukan benar-benar kesalahanku. Aku tidak sengaja. Laki-laki di belakangku yang mendorongku. Aku hampir terjatuh, jadi aku terpaksa menarikmu. Tapi ternyata aku tetap jatuh," Amelia menjelaskan dengan sangat cepat.


Sejenak, suasana menjadi hening.


"Apa kau sudah selesai?" tanya Levina akhirnya.


Amelia tidak menjawab. Dia terperangah karena reaksi Levina seperti tidak mendengarkan penjelasannya.


"Kalau begitu, pergilah!" Levina menunjuk pintu keluar dengan telapak tangannya.


Amelia menggenggam tangan Levina sangat erat. Dia memohon sekali lagi, "Kumohon, jangan pecat aku seperti ini. Aku benar-benar tidak sengaja."


Levina melempar tangan Amelia. Kemudian dia mendorong Amelia sedikit demi sedikit.


"Tidak sengaja bukan berarti kau tidak bersalah karena kesalahan diakibatkan ketidaksengajaan. Kalau kau sengaja, itu namanya kejahatan," jelas Levina.

__ADS_1


***


__ADS_2