
Keesokan harinya, Amelia kembali terbangun di atas ranjang David, tanpa ada David di sampingnya. Amelia tidak mengingat semenjak kapan dia tertidur. Sepertinya dia tertidur di mobil saat pulang dari makan malam kemarin malam. Namun, saat melihat dirinya, dia terkejut dan langsung memeluk tubuhnya sendiri. Dia tidak lagi mengenakan gaun pendek berwarna merah muda yang dikenakannya kemarin. Dia malah mengenakan gaun tidur pendek.
Amelia tidak mengingat kapan dia mengganti pakaian itu atau jangan-jangan ada orang lain yang menggantikan pakaiannya?
Amelia menarik selimut untuk membungkus dirinya. Kemudian dia bergegas untuk keluar dari kamar. Dia tidak benar-benar keluar. Dia hanya membuka pintu dan mengintip keadaan dari sana.
David yang tengah menyiapkan makanan tersenyum geli melihat Amelia hanya mengeluarkan kepalanya. Bukan hanya kepala, dia juga melihat selimut berada di dekat Amelia. Perempuan itu pasti mengenakannya.
"Pagi," sapa David tersenyum ramah.
"Pa-pagi," Amelia menjawab dengan tergagap-gagap. Kini dia akan melihat David di setiap paginya. Dia belum terbiasa dengan itu.
"Ada apa? Ayo keluar! Bukankah seharusnya kita sarapan?" David menggerakkan jari ke arahnya. Mengisyaratkan Amelia agar mendekatinya.
Amelia bingung. Dia tidak merasa nyaman untuk keluar dengan selimutnya, tetapi dia merasa lebih tidak nyaman untuk keluar tanpa selimut itu, hanya mengenakan gaun tidur pendek. Apalagi dia masih memiliki teka-teki yang belum terjawab. Dia juga tidak yakin apakah dia pantas menanyakan itu.
__ADS_1
"Apa-aku-yang mengganti-pakaianku-kemarin-malam," tanya Amelia. Akhirnya dia menanyakan pertanyaan yang sebaliknya.
David tertawa. "Tentu saja, tidak," jawabnya dengan enteng.
Amelia tahu itu. Tidak mungkin dia mengganti pakaiannya sendiri, sedangkan dia mengingat kalau dia tertidur di mobil dan tidak mengingat kisah selanjutnya. Sebenarnya yang Amelia ingin tanyakan adalah ….
"Apa aku yang menggantikanmu?" kata David dengan tersenyum nakal. "Itulah yang seharusnya kautanyakan." David mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Amelia.
Ah, Amelia mulai berdebar kencang. Dia merasa tegang seakan nasibnya telah dipertaruhkan. Dia pun menunduk dan menunjukkan sikapnya yang lugu. "Jadi … apa kau yang menggantikan pakaianku?" tanya Amelia lirih.
Amelia menyipitkan matanya. Entah kenapa, dia mulai merasa kesal karena David menggodanya. Padahal godaan itu dibuat agar dirinya merasa lebih nyaman.
Meskipun banyak pertanyaan yang ingin Amelia tanyakan untuk mengelak, kebenaran tidak akan melesat dari bukti. Amelia pun menyerah karena jawaban sudah ditentukan.
"Iya, itu aku," kata David mengakui. "Tapi kenapa kau bersikap malu seperti itu? Di sini hanya ada aku. Jadi keluarlah dari selimutmu dan mari kita sarapan dengan nyaman."
__ADS_1
David benar. Lagipula ini bukan kali pertama David melihat tubuhnya sevulgar ini. Lagipula Amelia sudah tinggal bersama David. Itu berarti David akan sering melihat dirinya dengan baik. Bahkan dua malam yang lalu, dia menunggu David tanpa merasa malu. Jadi kenapa Amelia harus malu sekarang?
Akhirnya Amelia melepaskan selimutnya.
David benar. Di sini hanya ada David. Jadi kenapa Amelia harus merasa tidak nyaman karena selimut itu?
Amelia pun berjalan pelan-pelan sembari menghela napas berkali-kali. Setelah berada di dekat David, dia pun mendongak dan menggoreskan senyumnya seolah-olah dia baik-baik saja.
"Oh, ya. Kudengar tidak baik bagi perempuan untuk mengenakan bra saat tidur. Jadi aku melepas itu juga."
Kedua mata Amelia membelalak. Dia langsung memeluk bagian dadanya sendiri. Lalu pelan-pelan dia merenggangkan pelukannya dan menurunkan tatapannya untuk memastikan kebenarannya.
Itu benar …. Amelia merasa putus asa.
***
__ADS_1