
David pun turun. Dia mencari Amelia di sekitar penginapannya, bahkan di seluruh penginapan. Namun, tidak ada seorang pun yang mengaku melihat Amelia kemarin. Padahal tidak mungkin Amelia menghilang begitu saja. Lagipula tidak ada makhluk halus yang secantik dia.
David bergegas kembali ke kamarnya untuk mencari ponselnya. Dia benar-benar bersusah payah mencari ponsel itu. Biasanya dia hanya meletakkan ponsel di dalam saku atau di atas meja. Dia baru menemukan ponsel itu di bawah ranjangnya setelah menggeledah seluruh seisi kamar.
Saat membuka layar ponsel itu, ponsel itu sudah menampilkan ruang riwayat panggilan. Namun, David tidak tertarik untuk menghubungi Amelia. Dia langsung mengalihkannya dengan melacak keberadaan Amelia. Namun, pelacak yang dipasangnya diam-diam pada ponsel Amelia tidak menyala. Itu tidak biasa. Apa Amelia pergi tanpa membawa ponselnya?
Ah, David menjadi semakin bingung. Dia pun menghubungi Amelia berulang-ulang, tetapi tidak ada satu pun dari panggilannya yang diterima, bahkan terhubung. Ponsel itu terus saja mati.
Saat David melihat riwayat panggilannya, rupanya dia sudah menghubungi Amelia sebanyak empat puluh kali. Itu tidak membuat David keheranan. Dia malah heran pada nama ibunya yang tertulis di bawah nama Amelia. Itu adalah panggilan masuk petang kemarin. Padahal David tidak pernah mengangkat panggilan dari ibunya selama setahun ini.
Tiba-tiba mata David membelalak. Kemarin petang Amelia juga memasuki kamarnya sebentar. Jika dugaannya tidak salah, maka seperti dalam mimpi, Amelia tengah menemui ibunya setelah itu. David pun segera menghubungi pamannya.
__ADS_1
“Halo, Om,” sapanya.
“Kebetulan mama kemari. Jadi aku berencana menemuinya untuk mengatakan sesuatu. Tapi dia sudah tidak ada di sini. Apa dia sudah pulang ke Indonesia?” tanya David.
“Kakak baru saja menaiki pesawat. Kami masih berhubungan setengah jam lalu. Karena ada rapat besar di sini, jadi kakak tidak bisa berlama-lama di sana,” jawab Dagel.
Tepat sesuai dugaan David: Mula memang berada di sini kemarin malam. Mula sengaja jauh-jauh datang kemari untuk memperingatkan Amelia agar menjauh dari kehidupan David, sama seperti yang Mula lakukan kepada kakaknya David. Jika Mula benar-benar melakukan itu, maka David tidak bisa mengharapkan Amelia akan bersikukuh untuk tidak meninggalkannya atau Amelia akan bernasib sama seperti kekasih kakaknya.
“David menghubungiku tadi. Dia ingin menemuimu di sana, tapi kau sudah kembali ke sini. Lalu dia mengatakan akan kembali ke Indonesia. Sepertinya usaha Kakak telah berhasil,” kata Dagel dengan tersenyum senang. Padahal Mula masih baru sampai di kediaman, tetapi Dagel segera membuat perempuan itu membahas kehidupan David lagi bersamanya.
“Aku berhasil atau tidak, ditentukan saat David datang kemari. Tapi yang pasti, dia sudah tahu kalau aku telah menemui perempuan rendahan itu.”
__ADS_1
“Apa maksudmu, Kak?”
“Tidak ada yang memberitahu David kalau aku pergi ke sana.”
Dagel tidak menyangka itu: dia telah ditipu oleh David.
“Lalu bagaimana langkah kita selanjutnya, Kak?” tanya Dagel yang menjadi panik.
“Kita tunggu saja hasil dari usaha kita. Setelah itu, baru kita putuskan langkah kita selanjutnya.”
Meski Mula bersikap tenang, dia sudah menduga itu: usahanya tidak akan berjalan semudah itu. Lagipula Mula sudah lama hidup di dalam dunia bisnis. Dia tidak mengharapkan hasil seketika. Dia akan merayap pelan-pelan dan menguasai satu per satu. Begitu pun dengan kehidupan putranya. Dia ingin menguasai kehidupan putranya dengan menguasai kehidupan Amelia.
__ADS_1