My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
18. SEASON 2: Kemenangan Kedua


__ADS_3

“Aku tahu itu. Tentu aku tahu benar itu. Tapi kamu tahu apa yang lebih menarik dari itu?”


Tiba-tiba seseorang membuka pintu ruangan itu.


“Aku tidak memiliki maksud apa pun, Nyonya. Aku hanya ingin membantu suamiku. Uang suamiku sudah berpengaruh besar di perusahaan ini.” Amelia mulai bertindak seakan-akan dirinyalah yang ditindas.


“Apa yang kamu katakan?” tanya Mula tidak mengerti pada jalan cerita yang Amelia lalui.


“Aku tidak tahu kenapa Nyonya membenciku, tapi dalam bisnis jangan mencampurnya dengan hati.”


“MA!” sentak David tiba-tiba dari belakang. “APA YANG MAMA LAKUKAN?!”


“David, kamu sudah datang?” sapa Mula dengan tenangnya.


David tidak menjawab Mula. Dia langsung menarik Amelia dari ruangannya. Sebelum keluar dari ruangan itu, Amelia menyempatkan untuk tersenyum miring kepada Mula. Dia benar-benar telah menghina Mula.


Amelia semakin senang. Sebelum pergi dari perusahaan, David sampai menyuruh pihak keamanan untuk mengusir Mula dan melarangnya untuk melangkahkan kaki lagi ke sana. Inilah yang lebih baik dibandingkan darah merah Mula: hati yang merah.


David membawa Amelia pergi ke sebuah rumah makan.


“Maafkan aku soal mamaku yang mungkin bersikap kasar kepadamu. Aku tidak bisa menjanjikan apa pun, tapi aku akan berusaha untuk menjauhkanmu darinya,” kata David. Telah banyak janji yang dia ingkari sehingga dia tidak berani lagi untuk memberikan janji.


“Tidak apa-apa. Aku kan Sofia. Aku bisa menghadapi ibumu dengan baik,” jawab Sofia dengan tenang. Kemudian pelan-pelan tangannya merayap untuk memegang tangan David. “Lalu bagaimana dengan jawaban atas tawaranku beberapa hari lalu?”


David menjadi gugup. Dia langsung melemparkan tangan Sofia darinya. Kemudian dia membuang muka.

__ADS_1


“Aku menolaknya!” tegasnya.


“Bukankah dari dulu kamu yang selalu mengejarku?”


“Itu karena dulu kupikir kamu adalah Lia.”


“Maka aku bisa menjadi Liamu.”


“Wajah kalian memang sama, tapi yang membuatku jatuh cinta hanya Liaku.”


“Benarkah?” Amelia mendekatkan wajahnya kepada David. Itu membuat David semakin gugup. David pun bangkit.


“Kuharap kita bisa bekerja dengan baik sebagai rekan kerja. Aku akan mengirimkan surat kontrak melalui pengacaraku ke rumahmu nanti malam. Kalau begitu aku pamit pergi,” pamit David. Dia pun segera pergi menjauh dari Amelia.


Enam tahun yang lalu, Amelia membenci David dan menyalahkan laki-laki itu atas kematian kakaknya. Itulah kenapa Amelia memutuskan pergi begitu saja. Jika dia tidak pergi, maka dia dan David tidak akan menjadi sekuat ini. Mereka akan hancur dalam cinta mereka.


***


David tengah menyetir mobilnya. Pandangannya mengarah ke depan, tetapi pikirannya berjalan ke mana-mana. Hatinya terasa bercampur aduk. Ini tidak benar. Seharusnya David tidak menyetir dengan keadaannya yang sekarang.


Ah, sial! David sudah tidak kuat menyetir. Dia pun menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


Tangan David meraba dadanya. Di sana masih terjadi bentrokan rupanya. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Padahal perempuan itu adalah Sofia, bukan Amelia.


Sadarlah, David! Sadarlah! Perempuan yang kamu cintai itu Amelia, bukan Sofia. Amelia yang benar-benar milikmu, bukan istri orang lain. Jika kamu sampai mencintai perempuan lain, bagaimana kesedihan Amelia di alam sana? Dia adalah perempuan yang nyawanya telah dikorbankan.

__ADS_1


Tiba-tiba ponsel David berdering. Itu adalah panggilan dari Dagel. David pun menerimanya.


“Ada apa, Om?” tanya David tanpa sapaan.


“Kakak ingin bicara denganmu.”


“Aku tidak ingin—“


“David.” Sebelum David menyelesaikan kalimat penolakannya, Dagel sudah memberikan ponselnya kepada Mula.


“Apa, Ma?” tanya David.


“Apa yang terjadi? Kenapa para penjaga tadi mengusirku?”


“Karena aku yang menyuruh mereka.”


“Berani sekali kamu!” Suara Mula meninggi. “Aku adalah orang tertua di keluar Arya, pendiri perusahaan itu!”


“Benar. Mama memang orang tertua di sana, tapi Mama sudah bukan apa-apa lagi di perusahaan. Karena itu, jaga baik-baik sikap Mama atau aku juga akan mengusir Mama dari rumah.”


“David! Dengarkan aku—“


David langsung memutuskan panggilan itu. Sudah tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Lagipula ibunya tidak akan berubah begitu saja. Setidaknya David harus mengingatkan posisi perempuan tua itu sekarang. Dia memang pernah kuat, itulah kenapa David dan Amelia menjadi tidak berdaya. Kini, David sudah berada di atas lagi. David tidak akan membiarkan penindasan seperti itu terulang kembali.


***

__ADS_1


__ADS_2