My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
90. Kabar Buruk


__ADS_3

“Ada apa?” tanya David keheranan karena Amelia kembali dengan ekspresi wajah berbeda.


Amelia memang sengaja memasang tatapan tajam. Tatapannya begitu berapi-api. Tiba-tiba Amelia merobek pakaiannya.


“Apa yang kaulakukan?”


Amelia tidak menjawab. Dia langsung mendorong David sehingga terbaring lagi di atas kasur. Kemudian perempuan itu langsung menciumi David.


Amelia bertingkah berbeda dari biasanya. Amelia yang lugu itu biasanya hanya diam dan membiarkan David beraksi sendirian. Namun, sekarang perempuan itu yang malah menerkam David dengan buas. Meski begitu, David tidak menganggap perbedaan itu sebagai sesuatu yang penting. Dia malah merasa senang sendiri dan berusaha mengimbangi Amelia.


Kau benar. Ibumu tidak akan bisa menggangguku selama kau bersamaku, batin Amelia.


***

__ADS_1


Mula sudah duduk sendirian di dalam restoran—sudah dipesan penuh—selama setengah jam. Dia merasa geli. Dia menertawai dirinya karena menjadi orang yang menunggu untuk pertama kali. Padahal dia sudah terlambat selama setengah jam. Jika setengah jam lagi orang yang ditunggunya tidak datang, dia akan benar-benar pergi. Jika bukan karena sesuatu yang penting, dia tidak akan mau melakukan semua ini.


Setengah jam akhirnya tiba. Tidak ada siapapun yang membuka pintu restoran itu. Akhirnya Mula bangkit untuk pergi. Tiba-tiba dia melihat orang yang ditunggunya malah masuk dari dalam restoran: Amelia. Mula pun tertawa. Rupanya dia telah dipermainkan oleh perempuan jalang itu.


“Tidak perlu marah. Aku hanya menguji seberapa berharganya sesuatu yang kumiliki ini bagimu,” kata Amelia sembari berjalan mendekat.


“Apa kau tidak melihatku tertawa?”


Mula kembali duduk ke kursinya. Seperti yang diduganya, semua ini tidak berakhir dengan mudah. Perempuan yang dihadapinya ini akan memperpanjang alur cerita sebelum nyawanya lenyap dari dunia. Itulah kenapa membunuh adalah tindakan yang Mula utamakan.


“Kau sudah menerima uangku, jadi kenapa kau masih kembali ke dalam kehidupan putraku?” tanya Mula setelah Amelia duduk di depannya.


“Bukan aku yang kembali ke dalam kehidupan putramu, tapi putramulah yang mengejar kehidupanku. Dia memaksa masuk meski aku sudah menutup pintuku.”

__ADS_1


“Kau kan tidak bodoh. Seharusnya kau mengunci pintumu.”


“Nyonya, tidak ada manusia yang pintar dengan sendirinya. Mereka perlu belajar untuk mengetahui sesuatu. Setelah putramu memaksa masuk ke dalam pintuku, barulah aku tahu bagaimana cara mengunci pintu. Maksudku … seseorang mengatakan kepadaku kalau dua ratus juta bahkan tidak cukup untuk membeli rumah yang layak.”


Mula kembali tertawa. Amelia benar-benar memperpanjang alur cerita ini. Perempuan itu tengah memerasnya.


“Jadi berapa yang kauminta?”


“Aku sudah tinggal di apartemen putramu cukup lama. Dan aku merasa tidak ada yang istimewa dari apartemen atau rumah. Jadi aku berpikir untuk membangun istana yang sama dengan milikmu. Mungkin sekadar dua ratus milyar sajalah.” Amelia mengatakannya seakan-akan dua ratus milyar adalah uang yang biasa dibelinya untuk membeli air putih.


“Sepertinya kau kurang cukup pintar untuk menilai sesuatu yang mewah atau karena kau terlalu lama hidup dalam kemiskinan,” sindir Mula.


“Aku tidak akan berani menemuimu jika aku tidak cukup pintar. Putramu sendiri yang mengatakan, saat aku pergi darinya, kau akan menyakitiku. Tapi aku tetap datang karena aku sangat menginginkan istana itu. Tidak masalah jika aku hanya bisa membangun pondasinya saja. Lagipula kau tidak akan memberikanku jika aku meminta satu triliun darimu.”

__ADS_1


__ADS_2