My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
30. SEASON 2: Takut Melepaskan


__ADS_3

“Da-david ….” Amelia ketakutan.


“Aku sudah membunuh Mula.” Akhirnya rekaman itu sampai di akhir juga.


“Apa ini urusanmu?” tanya David.


“Da-David, dengarkan aku … aku ….”


Brak! David membanting rekaman itu sekeras mungkin.


“Kamu bahkan tidak mengelaknya, apalagi yang harus didengarkan?!” sentak David. Dia benar-benar marah.


“Bukan begitu—“


“Bagaimana kamu bisa melakukan itu pada mamaku?! Kamu bahkan ….” David tidak kuat mengatakan kata selanjutnya. Dia mengusap kasar wajahnya lalu melemparkan tinjunya ke udara. Dia kesal, tetapi tidak bisa melakukan apa pun. Kasihan David yang putus asa. “Aku bahkan tidak tahu harus membencimu atau memaafkanmu,” David merengek.


“Da-David ….” Amelia berusaha menyentuh David, tetapi David menangkis tangannya.


“Jangan menyentuhku! Aku tidak mengenalmu!”

__ADS_1


“David … aku Amelia … Ameliamu ….” Amelia berusaha menyentuh David, tetapi tangkisan David malah lebih keras.


“Aku bahkan tidak tahu apa kamu Amelia, Sofia, atau siapapun lainnya. Berani-beraninya kamu menyebut Ameliaku?!”


Amelia terperangah David bisa mengatakan itu. Laki-laki itu tidak percaya kalau dirinya adalah Amelia.


“Tapi aku benar-benar Amelia!” tegas Amelia.


“Bagaimana aku tahu? Kamu bahkan tidak memiliki tanda lahir lagi di punggungmu. Kamu bisa bertindak sebagai dua orang yang berbeda. Jadi bagaimana aku bisa tahu?!


Lagipula kamu sudah membunuh mamaku. Siapapun kamu aku tetap tidak bisa menerima itu. Meski mamaku sudah melakukan banyak hal yang kubenci semasa hidupnya, dia tetap ibuku. Bagaimana mungkin aku menerima kematiannya dengan senyuman?


“Da-David ….”


“Pergi!” sentak David.


“Aku tahu apa yang telah kulakukan padamu memang tidak patut dimaafkan. Tapi aku tidak akan meninggalkanmu. Bukankah aku sudah berjanji tidak akan meninggalkanmu, bahkan jika kamu yang meminta?” Amelia mencoba menjelaskan.


David melirik tajam Amelia. Kemudian dia menarik keras tangan Amelia sampai ke depan pintu gerbang. Di sana David melemparkan Amelia.

__ADS_1


“Bukankah kamu sudah pergi sebelumnya? Janji itu sudah tidak berguna!” seru David.


“Da-David ….” Amelia berusaha mendekati David, tetapi David malah mendorongnya.


“PERGI!” teriak David. Kemudian dia berbalik ke dalam rumahnya sehingga pintu gerbang bisa ditutup. Bukan hanya pintu gerbang, David juga berusaha menutup hatinya dari Amelia.


Di depan pintu gerbang, Amelia mulai menangis. Pikirannya terasa gatal sehingga dia menggaruk-garuk kepalanya dan mengacak-acak rambutnya. Semuanya menjadi kacau. Tidak ada lagi yang bisa dikendalikan, baik Rico maupun David. Semua telah berjalan berlawanan dari harapannya. Dendam ini tidak memberikan apa pun kepada Amelia.


Amelia masih tertekan dengan batas waktu yang diberikan Rico. Rico telah berhasil membuat Amelia lumpuh di hadapan David. Amelia tidak bisa berusaha lagi untuk menarik David dari hujan batu yang akan datang. Amelia tidak bisa diam saja. Jika dia pasrah, David akan tertimbun sendirian di dalam bebatuan itu. Amelia pun bangun. Terus menangis di depan gerbang ini tidak akan memberikannya apa pun. Lagipula tidak ada keajaiban di dunia ini. Semua didapat dari usaha masing-masing.


Amelia pergi ke hotel Bintara. Seperti yang diduganya, Rico masih berada di ruangannya. Tidak ada lagi senyuman di wajah laki-laki itu, bahkan sekadar ejekan. Tatapannya begitu sinis.


“Ada apa kamu kemari? Apalagi tanpa mengabari?” tanya Rico.


“Aku terusir seketika. Bagaimana aku sempat mengambil ponselku?” Amelia tahu benar Ricolah yang memberikan rekaman suara itu.


“Jadi apa niatmu? Mengucapkan selamat tinggal atau mengambil anakmu?”


Tiba-tiba Amelia menekuk lututnya. Dia menunduk. Berharap Rico akan mengasihaninya.

__ADS_1


“Bisakah aku kembali padamu?” pinta Amelia.


__ADS_2