
Di dalam kamar, Amelia langsung pergi menghadap cermin. Dia tengah melihat pantulan warna merah yang menghiasi pipinya. Meski tidak membuatnya terlihat cantik, Amelia tersenyum senang melihatnya. Kemudian dia berniat untuk mengabadikan warna merah itu pada ponselnya. Namun, dia baru teringat kalau ponsel barunya sudah rusak saat menemui Alex. Saat itu juga, Amelia mengingat kekhawatirannya pada rencana David besok. Dia pun mengambil ponsel lamanya untuk menghubungi Alex. Namun, ponsel Alex malah tidak terhubung sama sekali. Saat menghubungi Levina pun, ponsel perempuan itu juga tidak tersambung. Ah, Amelia menjadi semakin khawatir dan berharap kalau esok tidak akan datang.
***
“Pasien di kamar ini sudah keluar tadi pagi,” kata seorang perawat yang tengah merapikan ranjang tempat Alex pernah berbaring selama beberapa hari lalu.
Amelia bernapas lega. Rupanya dewi keberuntungan tengah berpihak kepadanya. Dewi itu sungguh adil. Setelah mendorong Amelia ke dalam lubang kesialan, dewi itu masih mengabulkan harapan Amelia.
David memasang wajah kecewa. Akhirnya mereka memutuskan untuk tidak jadi menjenguk Alex. Amelia juga lega karena David tidak memikirkan inisiatif cerdas lainnya.
__ADS_1
Karena terlanjur pergi, Amelia dan David pun memutuskan untuk menghabiskan waktunya di luar rumah. Mereka pergi ke taman untuk piknik di bawah sebuah pohon rindang. Meski bukan di tengah malam, tanpa lilin dan ranjang, ini masih bisa disebut kencan romantis.
Akhirnya roti buatan David diberikan kepada Amelia. Bukan senang, Amelia malah kecewa. Jika tahu akhirnya seperti ini, Amelia akan memaksa David membuat roti rasa stroberi kesukaannya. Jika David tidak menyukai warna merah muda, cokelat pun, dengan senang hati akan Amelia terima. Namun, David malah mengisi roti ini dengan rasa durian. Amelia belum pernah memakan buah itu, tetapi Amelia sungguh membencinya. Apa yang istimewa dari buah jahat, berduri, dan hanya bisa menyakiti orang itu? Lagipula dari mana laki-laki itu bisa menemukan durian?
“Tapi rasanya sangat lezat,” bela David saat Amelia memprotes.
Selezat apa pun rasa buah ini, tidak akan bisa menandingi sakit dan perih yang ditinggalkan oleh durinya. Ditambah kekecewaan dari baunya yang membuat orang susah melupakan. Ah, buah ini menjadi terdengar seperti mantan.
“Tapi bagaimana kau bisa tahu kalau Alex sedang terluka?” Akhirnya Amelia memberanikan diri untuk menanyakan itu. Jawaban itu masih membuat Amelia penasaran. Padahal orang yang tahu kalau Alex terluka hanya dirinya, Levina saja tidak. Sedangkan para penghuni rumah sakit, tentunya mereka yang tidak mengenal Alex.
__ADS_1
David mengambil ponsel dari dalam sakunya. Kemudian dia menunjukkan layarnya kepada Amelia. Layar itu menampilkan foto saat Amelia hanya berdua bersama Alex.
“I-itu … itu bagaimana mungkin?” Amelia terperangah mendapati foto itu. Tidak ada seorang pun yang memasuki ruangan Alex selain para dokter dan perawat. Jadi, bagaimana foto itu bisa diambil?
“Levina yang mengirimkanku. Dia berusaha membuatku berpikir kalau kau dan Alex sedang berselingkuh.”
“Tapi-tapi itu tidak mungkin. Itu-itu tidak benar.” Amelia menjadi panik.
“Tenanglah. Aku tahu itu.” David tersenyum menenangkan. “Meski foto itu tidak menampilkan seluruh ruangan, aku masih melihat kaki Alex yang terbalut perban.”
__ADS_1
***