
Hai-hai! Babang David comeback!
Kalau aku kasih visual, ada yang mau enggak, ya? 🤔🤔🤔
Cuz aja, deh!!
💃💃💃
Sofia mengembuskan napas beratnya. Entah harus berapa kali ia harus mendengarkan semua permintaan konyol Dodik.
“Mama bilang enggak, ya, enggak,” tolak Sofia. Entah sudah berapa kali ia memberikan penegasan demikian.
Dodik mengerucutkan bibirnya. “Aku cuma mau sekolah, Ma. Biar jadi pintar,” Dodik tak kalah menegaskan.
“Sekolah di Indonesia kan banyak. Papamu bahkan bisa memasukkan kamu ke sekolah terelite di negeri ini.”
“Tapi aku maunya sekolah di Amerika, Ma …,” Dodik semakin merengak.
“Mama bilang enggak, ya, enggak!”
Sofia tak menerima penawaran lagi. Ia pun pergi meninggalkan Dodik yang diliputi rasa sebal.
Sofia pergi memasuki kamarnya. Di sana sudah ada David yang tengah mengancingkan kemejanya.
David menoleh. Ia keheranan melihat kekesalan meliputi wajah istrinya. “Kamu kenapa?” tanyanya.
Sofia menjatuhkan pantatnya ke atas ranjang. Ia memanjangkan bibirnya persis seperti Dodik. “Lihatlah anakmu sendiri!” katanya mengadu.
“Memangnya kenapa? Apa karena dia tampan? Jika itu yang kamu maksudkan, tidak perlu menyuruhku melihatnya. Aku cukup puas melihat ketampananku sendiri. Aku yakin anakku tidak akan jauh beda denganku.”
__ADS_1
Candaan David bukan menenangkan, malah membuat Sofia semakin kesal.
Lihatlah, lihat!
Tidak ada yang membela Sofia selama tinggal di sini.
Usai memasang seluruh kancing kemejanya, Dodik berjalan mendekati Sofia. Ia menunjukkan dasi birunya ke Sofia.
Sofia menerima dasi itu. Kemudian bangun untuk menyempurnakan kemeja David dengan dasi itu.
“Dodik belum menyerah,” ujar Sofia dengan perhatian yang berpusat pada dasi itu.
“Maksudmu, dia masih ingin bersekolah di Amerika?” tebak David.
“Hm.” Sofia menganggukkan kepala. Kemudian berjalan mundur karena pekerjaannya telah selesai.
“Aku sudah lelah berulang-ulang melarangnya. Tapi anak itu masih tidak mau menyerah,” protes Sofia.
Sofia mengerutkan dahinya. “Kenapa kamu malah bilang begitu?” protesnya.
David tertawa pelan. “Aku kan hanya memberikanmu saran.”
“Tidak!” tolak Sofia. “Aku tidak akan membiarkannya bersekolah di luar negeri sendirian. Meski Dodik bukan anakku, sekarang dia prioritasku. Kalau aku tidak bisa menjaganya, apa yang akan kukatakan pada adikku?”
“Kalau Dodik sampai memaksa lagi, bagaimana?”
Sofia tidak menjawab. Ia melangkah pergi meninggalkan David. Segala pertanyaan laki-laki itu tidak ada yang meringankan rasa kesalnya.
Kalau Dodik sampai memaksa lagi, bagaimana?
__ADS_1
Entahlah. Sofia tidak mau memikirkan itu. Ia berharap Dodik akan mendengarkan larangannya dan menyerah segera.
-oOo-
Ah, sial!
Semua ini gara-gara darah Mula dan David masih mengalir di tubuh Dodik. Rupanya anak itu belum menyerah melawan keteguhan Sofia.
“Tante ….”
Sofia mengembuskan napas beratnya. Kemudian mengalihkan perhatiannya pada anak kecil, yang sedikit lebih tinggi dibanding Dodik, yang berdiri di samping Dodik. Anak itu anak dari seorang kolega bisnis David. Dodik yang membawa anak itu kemari.
“Apa Bima?” sahut Sofia.
“Soal Dodik … bisakah Tante memberikannya izin?”
-o O o-
o
o
o
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
__ADS_1
Terima kasih 🤗🤗