
Setelah berhasil memadamkan api, David membantu Amelia agar bisa duduk dengan baik di atas sofa. Meski kesakitan, Amelia menolak tawaran David yang akan membawanya ke rumah sakit atau memanggil dokter. Amelia kira ini hanyalah kecelakaan ringan. Dia masih bisa bergerak bebas bersama rasa sakit itu.
David menyuruh Amelia untuk tetap diam di atas sofa, tanpa bergerak sedikit pun sebagai syarat untuk tidak memanggil dokter, sedangkan David membereskan sisa-sisa kekacauan yang diciptakan oleh Amelia. Satu setengah jam kemudian, David akhirnya meninggalkan dapur dalam keadaan bersih dan memenuhi meja di depan Amelia dengan masakannya.
Untuk kesekian kalinya Amelia memakan masakan David di tempat ini dan tidak sekalipun dia memakan masakannya sendiri di tempat ini. Sekarang bukan hanya David, Amelia sendiri tidak akan membiarkan dirinya memasak atau membantu David di tempat ini. Amelia sudah tidak percaya dengan masakannya sendiri dan dia tidak ingin merusak tangannya sendiri—lebih tepatnya seluruh tubuhnya. Amelia sudah terbiasa hidup berat, tetapi tidak sekalipun pernah berniat untuk membakar dirinya.
David duduk di samping Amelia. Kemudian dia mengangkat sendoknya untuk menyuapi Amelia.
“Ayo,” kata David sembari menggiring sendoknya.
Amelia menerima suapan itu. Namun, di tengah-tengah kecapannya, dia menyadari kalau hanya dirinya yang makan. David tidak sempat makan karena membantu Amelia makan.
David mengangkat sendoknya untuk menyuapi Amelia lagi, tetapi Amelia memundurkan kepalanya.
“Lalu kau bagaimana?” tanya Amelia.
__ADS_1
David tidak menjawab. Dia mendekatkan sendoknya lagi sehingga dengan terpaksa Amelia menerimanya.
Amelia mengunyah makanannya dengan cepat untuk menanyakan pertanyaannya lagi. Akan tetapi, David sudah menjawabnya lebih dulu, “Aku mencicipinya berulang-ulang tadi. Itu membuatku merasa kenyang.”
Apa benar orang bisa kenyang hanya dengan mencicipi? Bukankah itu sama saja seperti memakan angin? Ah, David mulai bertingkah keren. Amelia menjadi kagum.
David sangat baik kepada Amelia. David benar-benar mencintai Amelia. Lalu kenapa David menjaga beberapa batasan yang sebelumnya telah dihancurkan olehnya? Amelia kembali memikirkan semua itu.
David hendak mengangkat sendoknya, tetapi Amelia menahannya.
“Ada apa? Apa kau sudah kenyang?” tanya David keheranan. Padahal Amelia baru menyelesaikan empat suapannya. Itu tidak banyak.
“Apa kau mencintaiku?” tanya Amelia. Tiba-tiba dia menjadi ragu kalau David sungguh masih mencintainya. Setelah apa yang Amelia lakukan kepada David sebelumnya, siapapun akan membenci Amelia; dan orang yang sudah membenci sesuatu, orang itu tidak akan bisa mencintai sesuatu itu.
“Tentu saja,” jawab David. Dia tersenyum ramah.
__ADS_1
Amelia masih tidak yakin. Amelia memang tidak sampai berpikir ke arah alur-alur film tentang seseorang yang membalas dendam pada orang yang dicintainya karena telah menolaknya dan merendahkannya. Amelia sempat berpikir kalau David adalah orang yang sangat baik sehingga laki-laki itu terpaksa menerima dirinya.
“Apa kau yakin?” tanya Amelia lagi. Dia masih merasa tidak yakin.
David tersenyum karena merasa geli. Kemudian David meletakkan makanan untuk Amelia ke atas meja. Sepertinya Amelia tidak sedang ingin melanjutkan makannya. Lalu David meraih kedua tangan Amelia dan memeluknya di dalam kedua tangannya.
“Seharusnya kau tahu itu. Jadi kenapa menanyakannya?” kata David dengan tenang.
“Tapi ….” Amelia ragu mengatakannya.
David mengangkat wajahnya. Bersiap-siap mendengarkan penjelasan Amelia.
“Tapi kenapa kau tidak pernah tidur bersamaku?”
***
__ADS_1