My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
EXTRA PART: Selama 25 Tahun 3


__ADS_3

Bismillah. Semoga bisa update setiap hari.


Mohon dukungannya. Tiba-tiba saja, mood nulisku buat My Obsessive Boyfriend ini meningkat.


Cuz ….


z z z z z z


“Aku percayakan anak kita padamu,” ujar David.


Sofia menoleh. “Anak kita?” Sebenarnya Sofia merasa janggal dengan kedua kata itu.


“Hm.” David menganggukkan kepala.


“Tapi ... tapi aku bukan ibunya.”


“Kalau dia anakmu, kenapa kamu bukan ibunya?”


“Bukan aku yang melahirkannya. Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya saat tahu kalau aku bukanlah ibu kandungnya.”


“Kamu memang bukan ibu kandungnya. Tapi kamu adalah ibunya. Tidak perlu penegasan lain untuk menjelaskan.”


Sofia kembali menunduk. Posisi ‘ibu’ membuatnya harus mengemban beban berat.


Apa Sofia mampu?

__ADS_1


Sofia bahkan belum menikah sebelum ini, apalagi memiliki anak.


“Beristirahatlah dahulu. Tenangkan pikiranmu. Aku harus bekerja lagi setelah ini.”


Setelah David beranjak dari ranjang, Sofia mengangkat kepalanya. Pandangannya berjalan mengikuti punggung yang semakin menjauh itu.


Lagi-lagi David menghabiskan malamnya di depan laptop dan dokumen-dokumen. Seolah tanggung jawab putranya seluruhnya berada pada tangan Sofia. Jika bukan Sofia yang memberi tahu, mungkin David tidak akan tahu apakah putranya kelaparan atau tidak.


Sofia tidak pernah memberatkan itu. Ia berusaha mengalah dan menerima takdirnya. Ia bisa memahami keadaan David saat ini. Meski laki-laki itu tersenyum dengan begitu semringahnya, sebenarnya laki-laki itu tidak baik-baik saja.


David hanya lari dari perih dan menenggelamkan diri dalam kesibukan.


Terkadang, Sofia merasa tidak nyaman berada di dekat David. Laki-laki itu pasti teringat pada Amelia saat melihat dirinya.


Sofia bahkan belum bisa menyembuhkan rasa sakit miliknya.


-o O o-


Suasana pemakaman begitu sepi. Bahkan, di siang hari. Hanya ada angin yang meniup rerumputan dan dua laki-laki paruh baya yang tengah membersihkan sekitar. Entah siapa lagi yang berada di sana, Sofia tidak begitu tertarik. Karena perhatiannya hanya terpusat pada tiga batu nisan yang berjejer rapi.


Amelia, Rico, dan Sofia; itulah nama-nama yang tertulis di sana. Entah, siapakah orang yang menggantikan Sofia di dalam sana. Meski berhasil mengingat nama dirinya sendiri dan beberapa kisahnya bersama Rico, Sofia belum berhasil mengembalikan ingatannya sepenuhnya. Masih ada beberapa kenangan yang terasa abstrak. Jangankan Sofia yang kepalanya sempat terbentur parah. Orang sehat pun, bisa melupakan ingatan sebulan yang lalu.


“Terima kasih telah menjaga kekasihku dan menemaninya sampai sekarang. Meski aku kecewa, karena kamu yang di sana, bukan aku,” gumam Sofia.


Menginginkan kematian mungkin adalah lelucon bagi orang lain. Namun, bagi Sofia, jika itu bisa menyatukannya pada Rico, ia tidak keberatan. Lagi pula, ia merasa sendirian di dunia ini.

__ADS_1


Sofia menoleh. Seseorang menepuk pelan pundaknya baru saja. Rupanya, David telah berdiri di sampingnya.


“Apa kamu sudah selesai?”


Sofia bergeleng. “Belum. Aku belum meminta izin pada adikku untuk keputusanku.”


Dahi David berkerut. “Keputusan apa?”


“Aku akan membiarkan putranya belajar di Amerika.”


-o O o-


o


o


o


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik


Terima kasih 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2