My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
20. SEASON 2: Menghancurkan Kesadaran Dalam ketakutan


__ADS_3

21+


Keanehan-keanehan terjadi dalam penculikan itu. Setelah menyadari dirinya tidak diikat, Amelia juga sadar kalau pintu tempatnya disekap tidak terkunci. Seseorang memberikannya makan malam berupa piza sebelumnya. Setelah orang itu pergi, tiba-tiba angin menerjang sampai membuka pintu itu sedikit. Amelia pun memberanikan dirinya mengintip keadaan luar dari sana. Rupanya tidak banyak orang di sana, hanya ada dua laki-laki tengah bermain kartu. Amelia pun berusaha bersabar untuk menunggu tengah malam.


Tengah malam tiba. Amelia kembali mengintip mereka. Tidak lagi dua orang yang berjaga di depan pintunya, hanya tersisa satu orang. Itu pun tidak bisa disebut berjaga karena laki-laki itu tertidur. Amelia tidak sempat keheranan. Ini adalah waktu yang tepat untuk lari dari tempat ini. Peluang bisa hilang kapan saja.


Amelia berjalan mengendap-endap melewati orang itu. Setelah berhasil keluar dari tempat itu, Amelia merasa lega. Tiba-tiba, “HEI! JANGAN LARI KAMU!” teriakan itu membuat Amelia ketakutan. Dia pun mengencangkan larinya. Dia menjadi semakin ketakutan. Entah sudah seberapa jauh jaraknya, Amelia terus berlari.


Buk! Amelia yang terburu-buru tanpa sengaja menabrak seseorang di jalan sampai terjatuh menindihi orang itu. Tiba-tiba orang itu memegang lengan Amelia. “Lepaskan aku! Tolong lepaskan aku!” jerit Amelia dengan menutup kedua matanya rapat-rapat.


“Sadarlah, Sofia!” teriak orang itu menggoyang-goyangkan tangan Sofia.


“Lepaskan aku! Anakku masih membutuhkanku!”


“SOFIA! INI AKU DAVID!” teriak orang itu lebih kencang.


Pelan-pelan Amelia memberanikan diri untuk membuka matanya. Laki-laki yang berada di hadapannya ini benar adalah David. Amelia langsung memeluk David. Dia merasa aman dalam pelukan itu.


“Aku selamat … aku selamat …,” kata Amelia merasa lega.


David membiarkan Amelia melakukan itu kepadanya untuk beberapa saat. Kemudian dia bangun dan membawa Amelia ke dalam mobilnya. Sudah terlalu larut dan tempat ini tidak baik untuk kesehatan mental Amelia. David pun mengantarkan Amelia ke rumahnya.

__ADS_1


Rumah itu sudah sepi. Para penghuni telah tidur. David memberanikan dirinya mengantar Amelia sampai ke kamarnya. Amelia terus memeluk lengan David erat-erat. Itu membuat perasaan David keberatan.


Perempuan yang ketakutan itu terlihat sangat lemah bagi David. Membuat David ingin melindunginya dalam pelukannya. Sayangnya itu tidak benar. David harus menjernihkan pikirannya. Dalam kesempitan ini tidak seharusnya David berpikir lancang. Dia pun melepaskan tangan Amelia dan bangun.


“Sudah terlalu larut. Aku harus pulang.”


Tiba-tiba Amelia memegang tangan David dengan wajah memelas. “Jangan tinggalkan aku ….” Tangannya masih bergetar.


Hati David semakin berat. “Kamu harus beristirahat.” Namun, David masih bisa menahannya.


“Aku takut sendirian,” rengek Amelia.


David diam. Dia mulai mempertimbangkan.


Ah, silal! David gagal menahannya. Dia benar-benar gila karena akhirnya melakukan ini.


David pun kembali duduk di atas ranjang. Dia membaringkan kepala Amelia di atas bantal. Tubuhnya yang mengikuti gerakan itu tidak kembali ke posisi semula, malah semakin turun. Hingga akhirnya bibir David menyentuh bibir Amelia. David benar-benar gila karena telah melakukan itu.


***


Sudah enam tahun, kebiasaan David belum berubah. Dia selalu bangun saat hari masih dini. Itulah kenapa, dia terkejut lebih dulu saat melihat wajah Sofia berada sangat dekat dengannya dengan tangan telanjang memeluk tubuhnya. Wajah Sofia itu jauh lebih tenang dibandingkan wajah yang ditemui David kemarin. Tangan David mendekat ingin menyentuh wajah itu, tetapi tidak jadi. David malah mengumpat pelan, “Ah, sial!” Seharusnya David tidak terbawa suasana kemarin malam. Apa yang akan dikatakannya kepada arwah Amelia di alam sana?

__ADS_1


Apalagi Sofia adalah istri orang. Bukan sekadar istri orang, tetapi seorang Rico Bintara Bangga. Akan ada masalah besar jika David tertangkap basah tidur dengan Sofia, sedangkan David tidak bisa menjanjikan hubungan apa pun kepada Sofia.


Pelan-pelan David melepaskan pelukan Sofia dan menggesernya ke samping. Kemudian dia segera mengenakan pakaiannya dan pergi dari tempat itu sebelum semua orang terbangun.


Sesampainya di rumah, David langsung pergi ke kamar Mula, tetapi perempuan tua itu tidak ada di sana. David pergi ke ruangan kerja Mula. Lagi-lagi perempuan itu tidak ada. David pun memanggil Dagel untuk datang ke ruangannya.


“Di mana Mama?! Dia harusnya mengatakan sesuatu kepadaku setelah menciptakan masalah lagi. Seharusnya dia menunjukkan penyesalannya di depanku.”


“Sadarlah, David! Dia itu ibumu! Keluargamu satu-satunya!” tegas Dagel.


“Karena itulah aku tidak melibatkan polisi dalam masalah ini. Tapi dia harus menyesal dan berhenti membuat kekacauan. Karena tidak semua orang adalah anaknya.”


“Tapi ibumu tidak melakukan apa pun dan aku tidak akan memberitahukanmu di mana dia berada.”


“Om. Darah sama yang mengalir di tubuhmu bukan hanya darah ibuku, tapi aku juga. Aku masih keponakanmu, Om. Tidak bisakah kamu berpihak padaku mulai sekarang? Untuk menjadi orang hebat seperti mamaku, aku membutuhkan orang yang bisa kupercayai. Dan satu-satunya orang itu adalah kamu, Om.”


“Baiklah. Aku akan berpihak padamu dan tidak akan menoleh ke kakak lagi. Tapi lepaskan kakak untuk terakhir kalinya.”


“Om.”


“Hanya kali ini. Jika dia membuat masalah lagi, maka kamu bisa melakukan seperti yang kamu inginkan.”

__ADS_1


***


__ADS_2