My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
48. Di Balik Kehidupan David


__ADS_3

Masih seperti sebelumnya: Davidlah yang memasak. Dia tidak membiarkan Amelia memasak atau pun membantunya. Entah karena dia tidak ingin tangan Amelia rusak atau dia tidak percaya akan masakan Amelia. Pilihan pertama tidak mungkin. Amelia sudah terbiasa hidup berat. Jadi tidak mungkin jika tangannya masih baik-baik saja sampai sekarang.


Entah pilihan pertama atau kedua, Amelia tidak berpikir sampai ke sana. Dia tidak tersinggung, justru menikmati apa yang dia dapatkan. Toh, dia tidak perlu bekerja keras. Lagipula masakan David sangat lezat. Meskipun Amelia sudah hidup sendiri sejak kecil, yang mana dia sudah terbiasa memasak sendiri, Amelia tidak pernah bisa memasak selezat masakan David. Mungkinkah itu karena perbedaan kualitas bahan?


“Kalau boleh kutahu, kau belajar dari mana semua masakan ini,” tanya Amelia di tengah-tengah kegiatan makannya.


“Awalnya kakakku mengajariku. Lalu aku mulai menekuninya setelah dia meninggal.”


“Apa kakakmu juga hidup sepertimu?”


“Apa maksudmu?”


“Hidup sepertimu: gaya hidup sederhana seperti ini. Kalau kuperhatikan, gaya hidupmu terlalu sederhana jika dibandingkan dengan kekayaanmu.”


“Tidak. Kami hidup bersama dalam satu rumah. Setelah kakakku meninggal, barulah aku tinggal jauh dari rumah dan mulai memasak sendiri.”


“Kenapa?” Amelia bertanya-tanya. “Semua orang ingin menjadi kaya. Tapi kau yang kaya malah ingin menjadi miskin.”

__ADS_1


“Aku juga ingin menjadi kaya, tahu!”


“Bukankah kau sudah kaya?”


“Yang kaya itu bukan aku, tapi orang tuaku. Makanya aku membiasakan hidup dengan sederhana, karena suatu hari, mungkin aku akan melepaskan diri dari kekayaan orang tuaku itu.”


“Tapi kenapa?”


David tidak menjawab. Dia hanya tersenyum lebar. Kemudian melanjutkan makanannya. Tingkahnya itu meninggalkan banyak tanda tanya pada kepala Amelia.


***


Seorang perempuan tua juga berada di samping Hatta. Setiap hari dia mengunjungi Hatta untuk duduk di samping laki-laki tua itu sembari memegang tangannya. Meski tidak pernah ada cinta dalam pernikahan yang sudah berjalan selama berpuluh-puluh tahun itu, perempuan itu tak pernah lupa untuk memberikan perhatian sebaik-baiknya. Entah apa yang bersemayam dalam hatinya: sedih karena satu per satu keluarganya pergi atau senang karena bisa menikmati seluruh dunia sendiri. Perempuan tua itu adalah Mula, istri Hatta, ibunya David.


Setelah setengah jam duduk di sisi Hatta, akhirnya Mula melepaskan tangannya. Sudah saatnya mereka berpisah dan sudah saatnya bagi Mula untuk menduduki singgasana keluarga Arya. Dia pergi ke ruang kerja yang berada di dalam rumahnya.


Sesampainya di ruang kerja, rupanya bukan hanya meja dan dinding yang menyambut Mula, seorang laki-laki paruh baya sudah duduk di atas sofa. Saat melihat Mula berdiri angkuh di depan pintu, laki-laki itu langsung bangun. Dia bersikap hormat. Laki-laki itu adalah Dagel, adik satu-satunya Mula dan tangan kanannya.

__ADS_1


“Kakak,” sapa Dagel.


Mula tersenyum sedikit. Lalu berjalan angkuh ke arah kursinya. Setelah dia duduk di atas kursinya, Dagel pun kembali duduk.


“Ini sudah jam tujuh malam. Berita luar biasa apa yang ingin kausampaikan?” tanya Mula setelah meletakkan kedua tangannya di atas meja. Dia menebak dengan cepat.


“Untuk pertama kalinya David melalaikan pekerjaannya. Dia tidak datang pada pertemuan tadi siang. Dia hanya mengirimkan sekretarisnya,” jawab Dagel setengah.


“Lalu apa berita luar biasanya?” Mula menebak dengan cepat untuk kedua kalinya.


“Sekretarisnya mengatakan David mendadak mengirimnya sendirian tanpa penjelasan kemarin. Jadi aku menyuruh beberapa orang untuk mencari tahu. Rupanya dia tinggal bersama seorang perempuan di apartemennya,” tambah Dagel.


Mula menyatukan kedua tangannya dan menurunkan sedikit kepalanya dengan membuang arah pandangan. Dia tengah berpikir dan menimbang untuk setiap pilihan yang akan dilangkahinya. Tak lama kemudian, dia kembali mengangkat kepalanya. Dia sudah memilih.


“Biarkan saja,” kata Mula.


***

__ADS_1


__ADS_2