
“Sudah kubilang, aku bukan laki-laki seperti itu!” tegas laki-laki itu. “Aku tidak tahu sudah berapa banyak laki-laki seperti itu yang kautemui, tetapi aku tidak tidur dengan sembarang perempuan. Aku tidur denganmu karena aku menyukaimu!”
“Aku tidur denganmu memang bukan karena aku menyukaimu, tapi aku juga tidak tidur dengan sembarang orang dan aku tidak pernah menemui lelaki berhidung belang sebelumnya.”
“Memangnya apa yang bisa kaujelaskan?”
“Aku tidur denganmu hanya untuk membalas kebaikanmu,” ujar Amelia. “Malam itu, di pesta, aku telah melakukan kesalahan. Semua orang tahu itu, aku juga, kau juga. Tapi, meski aku yang salah, bukan berarti aku bahagia, akulah yang paling hancur. Karena itulah, jaket yang kaulempar sangat berarti untukku. Aku tidak peduli jika kau hanya menginginkan tubuhku, karena bantuanmu adalah kebaikan bagiku.”
“Semua itu hanya alasan!” tuduh laki-laki itu. “Jika kau memang berniat membalas kebaikanku, kenapa kau pergi begitu saja? Membuatku merasa terhina saja!”
Laki-laki itu lelah berdebat dengan Amelia. Alasan-alasan yang dilontarkan perempuan itu hanyalah kebohongan baginya. Hanya akan membuatnya semakin kesal. Dia pun berjalan pergi meninggalkan Amelia karena apa yang dibutuhkannya sudah dia dapatkan.
__ADS_1
“Bukankah kau yang menyuruhku untuk pergi sebelum kau bangun?”
Tangan laki-laki itu yang hendak membuka pintu, seketika menjadi lemas. Perempuan itu benar, laki-laki itu mengakui dalam hati.
***
Emma duduk diam di sebuah kafe yang berada di samping jalan yang berseberangan dengan restoran tempatnya bekerja. Dia bersembunyi di sana. Meskipun dia sudah berada di tempat yang berbeda, dia masih merasa gugup dan khawatir karena meninggalkan Amelia di restoran sendirian.
Berulang-ulang Emma meemerhatikan restoran dari kaca kafe. Memastikan kapan pintu tempat itu akan terbuka. Sudah sangat lama pintu itu menutup dan tidak ada satu pun yang keluar dari sana. Emma yakin kalau sesuatu telah terjadi di sana. Sesuatu yang membuat Amelia tidak akan bisa bertanya, “Apa maksudmu?”
Emma terus diam di kafenya sampai akhirnya, pintu restoran terbuka. Dia juga bisa melihat laki-laki tadi keluar dari sana. Akan tetapi, dia tidak melihat Amelia sama sekali. Dia menjadi khawatir kepada perempuan itu. Meski kerap membuatnya kesal, sesungguhnya perempuan itu adalah perempuan yang baik dan lugu. Amelia memang menikmati ciuman ringan itu, tetapi Emma tidak yakin kalau perempuan lugu itu akan mampu bertahan dalam goncangan selanjutnya. Emma pun segera keluar dari kafe menuju restoran.
__ADS_1
Emma berjalan mengendap-endap untuk melihat keadaan di restoran itu. Keadaan tempat itu memang sangat tenang, kecuali seorang perempuan yang duduk di salah satu kursi dan tengah menjambak-jambak rambutnya sendiri seperti orang gila, itu Amelia.
“Sial! Sial! Sial!” umpat Amelia.
Emma bergegas cepat mendekati Amelia.
“Kenapa ini terjadi kepadaku?” Amelia yang malang terlihat menyedihkan sembari menatap langit-langit restoran.
“Bodoh! Bodoh! Bo—“
“Lia.” Emma menahan tangan Amelia yang menjambak rambutnya sendiri lagi.
__ADS_1
Amelia mendongak. Dia terharu menemukan Emma di dekatnya. “Emmaaaa …,” Amelia merengek. “Apa yang sudah aku lakukan?” Amelia langsung memeluk Emma.