
“Kenapa kau berada di sini?” tanya David.
“Oh.” Amelia kebingungan, meski senyumnya malah semakin lebar. “Aku hanya memastikan kalau kau benar-benar mandi. Dan ternyata kau baru saja menyelesaikan. Kalau begitu aku akan pergi mandi juga.”
Akhirnya Amelia benar-benar melupakan kabar bahagia yang ingin dibagikannya kepada David. Dia bangun dari ranjang untuk kembali ke kamarnya. Namun, David malah mendorongnya sehingga terbaring di atas ranjang. Kemudian David mengunci Amelia dengan kedua tangannya.
“Kau sudah menungguku, kenapa kau terburu-buru pergi?” goda David.
“Aku harus mandi.”
“Bukankah sudah kubilang kalau aku menerimamu apa adanya? Aku sudah mandi dan kau tidak perlu mandi. Itu sudah cukup untuk kita berdua.”
__ADS_1
David mendekatkan wajahnya untuk menyentuh bibir Amelia. Namun, Amelia malah memukul David dengan kakinya dan mendorong David sehingga melepaskan dirinya. Saat David tengah merintih kesakitan, Amelia segera pergi. Sebelum membuka pintu, Amelia tersenyum menyombongkan kemenangannya.
“Kalau kau mulai melanggar janji, maka kau akan mulai membiasakannya. Dan aku benci orang-orang seperti itu, bahkan jika itu diriku,” kata Amelia sebelum kabur.
Akhirnya Amelia tidak jadi mandi. Dia terburu-buru pergi sebelum David menemuinya dan membuatnya tidak bisa menemui ibunya David. Jika itu terjadi, Amelia khawatir itu akan membuatnya memiliki kesan buruk di mata ibunya David. Itu tidak baik. Lagipula ibunya David terdengar ramah di telepon tadi.
Sesampainya di tempar parkir, benar di sana ada sebuah mobil mewah berwarna hitam. Amelia pun memasuki mobil itu. Seorang sopir berada di sana. Sopir itu pun melajukan mobilnya selama berjam-jam, membawa Amelia menuju sebuah rumah mewah. Ah, itu terlalu besar untuk disebut rumah. Itu adalah istana mewah.
“Karena keluarga kami memiliki bisnis di mana-mana, jadi kami lebih sering berpergian dan hampir tidak bisa menetap di rumah. Jadi kami membangun istana-istana mewah kami di banyak negara. Kami bukan keluarga yang kekurangan uang sampai harus menginap di hotel.”
Seperti yang Amellia duga, ini bukan rumah, tetapi istana. Ibunya David sangat berterus terang pada kekuasaannya. Meski perempuan tua itu mengucapkannya dengan tenang dan ramah, ucapan itu tetap tidak bisa tidak disebut kesombongan. Keluarga kekurangan mana yang akan menginap di hotel? Menyewa apartemen murah saja tunggakannya tinggi.
__ADS_1
“Te-tentu saja. Ibu berkata benar.” Amelia tergagap-gagap karena merasakan kerendahan dirinya. David terbiasa hidup sederhana dan tampil biasa, mewah pun bukan mewah luar biasa. Setelah melihat seisi rumah ini, kini Amelia menyadari kalau kedudukan David memang sangat jauh darinya. Sungguh, Amelia merasa beruntung karena David mencintainya.
“Siapa yang kausebut ‘ibu’ tadi?” tanya ibunya David. Kata-katanya terdengar angkuh.
Ibunya David langsung duduk di sebuah sofa tunggal. Kemudian dia menunjuk sofa panjang lain agar Amelia duduk di sana. “Duduklah atau pelayan-pelayan itu akan menggunjingkanku karena tidak mampu mengganti sofa yang telah kaududuki.” Ibunya David melirik sinis ke arah beberapa pelayan di sekitarnya.
Tiba-tiba keberanian Amelia mulai luntur. Perempuan yang dilihatnya saat ini, terasa berbeda dengan perempuan yang berbicara dengannya di telepon tadi. Perempuan ini terasa sangat dingin.
Amelia pun berjalan pelan ke arah sofa itu. Dia pun duduk di sana. Seperti yang dinilainya, apa pun yang mengisi tempat ini adalah mewah luar biasa. Meski sofa yang didudukinya di tempat David juga mewah, sofa yang didudukinya saat ini lebih baik.
***
__ADS_1