My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
27. SEASON 2: Hal Berlawanan


__ADS_3

“Ada apa ini? Aku tidak ingat kamu pernah bersikap manja seperti ini sebelumnya?” David tersenyum geli.


“Kubilang jangan pergi, David,” pinta Amelia lagi.


“Bukankah dulu kamu selalu menyuruhku untuk tidak membolos?”


Amelia melepaskan pelukannya. Dia berjalan ke depan David. Kemudian meraih tangan David dan menggoyang-goyangkannya.


“Hanya untuk beberapa hari saja.” Amelia memelas.


Karena David masih diam, Amelia pun merengek lagi, “Ayolah, David.”


Tiba-tiba David menggendong Amelia dan membaringkannya di atas ranjang. Dia pun membaringkan tubuhnya di atas ranjang itu. Mereka saling berhadapan.


“Lalu apa yang akan kita lakukan?” tanya David.


Amelia tersenyum senang. Berarti David tidak akan pergi bekerja.


“Apakah kita akan berkencan di luar atau ….” David memasang wajah genit. Dia menggigit bibirnya dan kedua jarinya berjalan di atas lengan Amelia.


Amelia langsung menarik tangan David. Dia pun mendesah, “Heh. Tidak keduanya.”


“Apa maksudmu?” protes David. Dia pun terbangun. Lirikannya menjadi kesal.


Amelia ikut bangun. Tangannya memeluk pundak David. Sedangkan wajahnya terpasang imut untuk mendinginkan hati David.

__ADS_1


“Ayolah, David. Statusku masih istrinya Rico. Jika sampai terdengar di telinga orang, namamu yang akan memburuk.”


Wajah imut Amelia itu membuat David geli, bahkan tidak bisa kesal.


“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya David.


“Bagaimana kalau beberapa putaran domino dan sebotol wine?” saran Amelia.


“Kencan macam apa itu?” sindir David.


“Kencan rasa pertarungan. Aku sudah bermain berkali-kali bersama anakku. Kamu takkan bisa mengalahkanku,” tantang Amelia.


“Kamu itu! Kamu ajari apa saja anakku?!” protes David.


“Dengan anak kecil saja kalah, berani sekali kamu menantangku?” sindir David.


“Tentu saja. Karena kamu mencintaiku. Apa kamu takkan mengalah padaku?” Kini Amelia bergelayutan di lengan David.


“Kalau akhirnya itu yang kamu inginkan, kenapa kamu menantangku?” gerutu David.


“Ayolah.” Amelia malah mengedipkan mata.


Bukannya menjawab, David malah mendorong Amelia ke bantal. Kemudian menciumi perempuan itu di sana.


***

__ADS_1


Seperti yang Amelia inginkan: akhirnya David tidak bekerja selama beberapa hari. Mereka bersama di dalam rumah tanpa keluar sedikit pun. Meski hanya di rumah, banyak hal yang bisa mereka lakukan. Bagi orang kaya, keinginan apa yang tidak bisa dikabulkan? Mereka bahkan bisa membawa taman bermain ke dalam rumah.


Selama beberapa hari, Amelia terus tersenyum dengan manahan kegelisahan di dalam hati. Dia bingung bagaimana dan kapan harus mengatakan sesuatu kepada David. Padahal tujuh hari tinggal dua hari lagi. Amelia pun memberanikan diri mengatakan sesuatu itu hari ini. Saat itu David tengah memasak sarapan seperti biasa.


“David,” panggil Amelia usai David mengantarkan seluruh makanan.


David tidak menjawab karena sibuk mengisi piring dengan nasi.


“Aku mencintaimu,” kata Amelia tiba-tiba.


Seketika David menghentikan gerakannya. Dia menoleh ke Amelia. “Apa yang barusan kamu bilang?”


“Aku mencintaimu,” kata Amelia mengulangi.


David tersipu malu. Ini adalah kata cinta yang pertama kali didengarnya dari mulut Amelia.


“Apa kamu bilang?” tanya David.


“Sudahlah. Lagipula kamu tidak mendengarnya.” Amelia merengut kesal.


David meletakkan piring berisi nasinya. Tangannya beralih memegang Amelia.


“Ayolah. Sekali lagi. Aku suka mendengarnya,” pinta David.


Amelia menghela napas. Mengatakan sekali lagi takkan merugikan siapapun. “Aku mencintaimu.”

__ADS_1


__ADS_2