
Suatu hari, David menjemput Dodik di sekolah seperti biasa. Namun, Dodik tidak ditemukan di manapun, bahkan area sekitarnya. David pun pulang untuk mencari Dodik di sana. Barangkali anak itu sudah pergi lebih dulu. Sayangnya anak itu tidak ada di sana. Baru saja David hendak membuka pintu mobilnya, dia melihat Dodik berada dalam gendongan seorang perempuan yang tengah menuntun anak lainnya. Seketika David terperangah. “A-Amelia ….”
“Papa Gila, Mama sudah pulang,” kata Dodik penuh semangat.
Perempuan itu mengalihkan Dodik ke dalam gendongan David.
“Sebenarnya aku sedang menjemput anak majikan baruku di sekolah. Tapi anak ini terus mengikutiku dan menyebut-nyebut aku Mama. Dia tidak mau melepaskanku. Jadi aku mengantarnya pulang lebih dulu sebelum mengantar pulang anak majikanku,” kata perempuan itu sembari menunjuk anak perempuan yang berpegangan tangannya.
“Pa, kenapa Mama bilang gitu? Dia kan Mamaku,” protes Dodik.
__ADS_1
David tersenyum untuk menenangkan Dodik dan perempuan itu. “Boleh tunggu di sini sebentar? Ada yang ingin kubicarakan denganmu,” pinta David kepada perempuan yang mirip Amelia itu.
“Tentang apa? Jika untuk terima kasih, itu tidak perlu. Anak itu sungguh menggemaskan. Aku menyukainya dan merasa nyaman dengannya. Lagipula aku harus segera pulang sebelum majikanku menegurku. Aku masih sebulan tinggal dan bekerja di kota ini,” kata perempuan itu.
“Hanya sebentar. Tunggulah aku. Bukan untuk terima kasih, kok, tapi sesuatu yang lain,” sahut David memohon. Kemudian dia membawa masuk Dodik ke dalam kamar Dodik. David juga menyuruh pengasuh Dodik untuk tidak membiarkan anak itu keluar dari kamar sebelum David yang menjemputnya.
David bergegas kembali ke depan untuk menemui perempuan yang mirip dengan Amelia itu. Namun, sesampainya David di sana, posisi perempuan itu tidak setara lagi dengannya. Perempuan itu tergeletak di atas lantai tak sadarkan diri. Terlihat juga anak perempuan yang bersama anak perempuan itu panik.
Kepala Wati terasa pusing. Langit-langit kamar terasa berputar-putar. Padahal bumi diam dan dirinya tidak bergerak sama sekali. Apakah langit yang berputar? Akan tetapi, langit terlalu jauh dan apa hubungannya dengan langit-langit kamar? Dasar Wati yang bodoh. Itulah kenapa dia tidak bisa bekerja dengan baik.
__ADS_1
Pelan-pelan putaran itu melambat sampai akhirnya Wati bisa melihat sekelilingnya dengan jelas. Wati keheranan. Dia berada di dalam kamar yang bercat emas. Ranjang yang digunakannya sangat nyaman. Berbeda jauh dengan kamar pembantu yang ditidurinya selama beberapa malam ini. Sesuatu yang lebih mengejutkan adalah sebuah foto besar yang terpajang di dinding dan sebuah foto kecil yang terpajang di atas meja. Foto besar itu terisi fotonya dan seorang laki-laki, sedangkan foto kecil itu berisi fotonya dan seorang anak laki-laki. Perempuan dalam kedua foto itu memang dirinya, tetapi Wati tidak ingat kapan mengambilnya.
Tiba-tiba David memasuki kamar itu dengan membawa segelas air putih. “Kamu sudah bangun?” sapa ramah David.
Wati terkejut. Laki-laki itu adalah ayahnya anak laki-laki tadi.
“A-apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Wati gugup.
“Aku ingin membicarakan sesuatu kepadamu, tapi kamu malah pingsan di depan. Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya David.
__ADS_1
Wati diam. Dia mengingat-ingat apa yang terjadi kepadanya tadi.
“Sebenarnya aku berniat melihat sekitar sini. Tiba-tiba aku seperti melihat bayangan laki-laki dan perempuan. Aku seperti mengingat sesuatu, tapi tidak jelas. Dan aku merasa tidak asing dengan tempat ini.”