
Seketika Dodik melepaskan sendoknya. Dia menatap tajam David.
“Apa maksudmu, Pa?!” protes Dodik.
“Seperti itulah. Kami memutuskan akan menikah.” Lebih tepatnya David sendiri yang memutuskan.
“Kamu benar-benar gila, Pa, maksudku Om Gila.” Dodik merubah panggilannya. “Bagaimana kamu bisa menikah dengan mamaku sedangkan papaku masih hidup?”
Ah, sial! David terlalu gembira sampai tidak memikirkan itu. Dia bahkan belum berkata jujur kepada Dodik. David pun mendekat dan berlutut di depan Dodik.
“Kuberitahu sesuatu ….” David merasa ragu mengatakannya. “Sebenarnya Rico, maksudku papamu sudah meninggal tiga bulan lalu.”
Dodik langsung mendorong pundak David sampai David terjatuh. Sedangkan Amelia bergegas menahan Dodik dengan memeluknya dari belakang. “Apa Om berniat membodohiku? Jelas-jelas Om sendiri yang bilang kalau papa dalam perjalanan bisnis.”
“Sebenarnya aku berbohong padamu. Maafkan aku. Aku khawatir kamu akan terluka.”
“Kalau begitu seharusnya Om terus membohongiku! Untuk apa berkata jujur?! Om hanya semakin melukaiku. Jika papaku sudah meninggal tiga bulan lalu, apa kamu juga akan mengatakan kalau mamaku meninggal? Bukankah dia juga menghilang bersamaan? Apa Om juga akan mengatakan kalau mama yang memelukku ini bukan mamaku?!”
“Bukan begitu. Papamu memang sudah meninggal. Sedangkan mamamu untunglah terselamatkan,” sahut David.
__ADS_1
Dodik langsung memberontak dari pelukan Amelia. Kemudian bergegas ke kamar dan mengurung dirinya di sana. Dia sangat terkejut saat itu.
“David,” panggil Amelia. “Apa kamu yakin melakukannya dengan benar?” Amelia ragu-ragu.
David pun bangun. “Apa maksudmu?” tanyanya.
“Maksudku … apa pernikahan ini tidak terburu-buru. Sejujurnya aku masih asing dengan keadaan ini.” Amelia merasa keberatan.
David pun mendekati Amelia dan memegang pundaknya. Dia menatap Amelia dengan penuh kasih sayang.
“Hubungan kita sudah berjalan selama enam tahun lebih. Apalagi yang harus ditunggu. Lagipula cepat atau lambat kita tetap akan menikah,” sahut David menenangkan.
“Lalu bagaimana dengan Dodik?” tanya Amelia.
“Tidak,” tolak Amelia.
“Apa maksudmu?” tanya David.
“Maksudku, kamu tidak perlu membujuknya. Aku akan membujuknya sendiri,” tegas Amelia.
__ADS_1
“Apa kamu yakin bisa?” David merasa ragu.
“Lebih baik aku saja. Sepertinya dia tidak terlalu bersahabat denganmu,” balas Amelia yakin.
“Baiklah. Aku percaya padamu.”
David pun bersiap pergi bekerja. Setelah mengantar David sampai di depan rumah, Amelia pun menemui Dodik di kamar anak itu. Di sana Dodik tengah menangis. Tidak seperti laki-laki lain yang akan menahan tangisan mereka.
Dodik menyadari keberadaan Amelia saat Amelia menutup pintu. Setelah Amelia duduk di sampingnya di atas ranjang, Dodik langsung memeluk erat Amelia. Seakan-akan takut jika sampai diculik oleh David.
“Om Gila benar-benar sudah gila, Ma. Jangan menikahinya,” rengek Dodik.
Amelia tidak menjawab. Dia membiarkan Dodik menangis dalam pelukannya sembari mengusap rambut anak itu.
“Bagaimana dia bisa mengatakan kalau dia akan menikahimu padahal papaku masih ada. Meski papa memang meninggal, apa dia pantas mengatakannya bersamaan dengan kabar itu?” protes Dodik.
Pelan-pelan Amelia melepaskan pelukannya. Dia membuat Dodik duduk tegap. “Papa Gila—“
“Ah, jangan menyebutnya seperti itu. Aku bahkan terpaksa menyebutnya papa sebelumnya,” sahut Dodik memotong kalimat Amelia.
__ADS_1
“Baiklah.” Amelia mengalah. “Om Gila tidak benar-benar gila. Dia melakukan itu karena dia berpikir. Dia tidak mau kamu sampai sedih.”
“Bagaimana aku tidak sedih saat mendengar kabar kematian papaku? Apa dia ingin menjadikanku anak durhaka?”