My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
73. Mengakhiri 5


__ADS_3

“Kau terluka bukan untuk menyelamatkan Lia dari orang itu, tapi orang itu dariku. Berarti orang itu adalah Levina.”


“Tolong maafkan dia, David. Dia memang bersalah, tapi aku sudah menanggung akibatnya. Kakiku tidak akan pulih selamanya. Lagipula dia sudah berjanji tidak akan membuat masalah baru lagi kepada kalian.”


“Tapi dia sudah membuat masalah baru itu.”


“Apa maksudmu?”


“Dia mengirimkanku fotomu dan Lia saat berada di rumah sakit. Dia juga mengatakan kalau dia telah membuatmu yang tidak berniat berselingkuh menjadi berselingkuh dengan Lia.” David tertawa. “Tunanganmu itu sungguh cerdas. Dia berhasil membuatmu berselingkuh, bahkan tanpa kau tahu itu.”


“Hubunganmu dengan Lia pasti baik-baik saja. Kumohon lepaskan dia untuk itu. Akan kulakukan apa pun yang kaumau, tapi tolonglah, biarkan dia memulai kehidupan barunya yang penuh kedamaian. Jika masalah ini masih berlanjut, dia tidak akan bisa berubah menjadi lebih baik.”


“Baiklah. Biar kudengarkan dulu, apa alasanmu datang kemari.”

__ADS_1


“Aku membawakan ponsel baru untuk Lia karena ponselnya hancur malam itu.”


Alex bangun dengan menenteng kedua tas kertas yang dibawanya. Kemudian dia meletakkan satu tas yang paling kecil ke atas meja kerja David.


David melihat isi tas itu. Itu adalah sebuah kotak berisi ponsel yang sama persis seperti yang pernah dibelikannya untuk Amelia. Setelah puas, dia meletakkan ponsel itu lagi.


“Tapi aku yakin kau tidak akan kemari hanya untuk mengirimkan ponsel itu. Aku tidak semiskin itu sampai tidak bisa memberikan kekasihku ponsel baru,” kata David.


“Aku benar-benar ingin meminta maaf atas masalah yang pernah ada sebelumnya dan kumohon lupakan semua itu dan biarkan aku dan Levina memulai kehidupan baru dengan sebaik mungkin.” Alex memohon lagi. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain memohon. Karena untuk mendapatkan kedamaian, yang bersalah harus mengaku dan salah satunya harus mengalah. Sedangkan untuk mendapatkan kedamaian ini, Levina telah mengaku, sedangkan Alex telah mengalah.


Alex pun menaikkan tas terakhir yang paling besar ke atas meja David. Kemudian dia mendorongnya agar lebih dekat ke David. “Ini surat-suratnya.”


David mengambil seluruh kertas yang mengisi tas itu. Rupanya Alex telah menyiapkan seluruhnya. Dia datang dengan surat-surat lengkap. David pun tersenyum puas. Kemudian dia memasukkan lagi surat-surat itu ke dalam tas.

__ADS_1


“Harga yang menarik. Jadi kau hanya membiarkanku membeli restoranmu, bukan memberikanku restoranmu?” tanya David menguji.


“Kau itu pebisnis, bukan pengemis. Lagipula aku akan mendirikan sebuah perusahaan baru yang pastinya membutuhkan uang besar,” jawab Alex.


“Kau kan bisa minta investasi dari teman-temanmu. Itu akan lebih mudah untukmu,” saran David.


“Aku tidak mau perusahaan seperti itu. Aku menginginkan perusahaan yang sepenuhnya milikku, sehingga aku tidak perlu meminta persetujuan orang lain untuk keputusanku.”


“Tapi aku tidak bisa memaafkan tunanganmu,” tegas David.


“David.” Alex membelalakkan bola matanya. “Aku sungguh-sungguh memohon.” Dia masih tidak menyerah.


“Ini bukan masalahku. Jadi aku tidak berhak memaafkan Levina. Dia harus meminta maaf sendiri kepada Lia.”

__ADS_1


Alex bernapas lega. Meski tidak mudah membuat Levina merendah, itu masih lebih mudah jika dibandingkan dengan tidak mendapatkan maaf dari David. “Baiklah. Aku akan mengatakan itu kepadanya. Setelah kau memberikan ponsel ini kepada Lia, suruh dia langsung menghubungiku agar Levina bisa menghubunginya nanti.”


***


__ADS_2