
“Kalau begitu untuk perempuan mana roti ini?” tanya Amelia ketus.
“Apa Alex itu perempuan?” David malah membalasnya dengan pertanyaan.
Alex? Alex yang mana? Tidak mungkin David akan memberikan roti itu untuk Alex itu mengingat hubungan mereka yang tidak berjalan dengan baik-baik saja. Amelia menjadi lebih tertarik pada topik ini.
“Alex yang mana? Alexandra? Tentu saja dia perempuan,” jawab Amelia.
“Bukan Alexandra, tapi Alex si mantan bosmu itu.”
Memang benar. Alex yang David maksudkan adalah Alex itu. Seketika Amelia menjadi tidak tenang. Seperti kejadian saat makan malam yang dulu, David tidak mungkin mengisi pertemuan itu dengan baik-baik saja meski telah menyiapkan sesuatu yang sangat baik. Amelia pun menghentikan topik pembicaraan ini dengan menyolek tepung dan mengoleskannya pada pipi David.
“Apa yang kaulakukan?” tanya David terkejut.
“Melakukan sesuatu yang biasa dilakukan oleh pasangan kekasih di dalam dapur,” jawab Amelia. Kemudian dia menyolek tepung lagi untuk dioleskan lagi ke wajah David. Namun, David malah memegang tangannya dan menghentikannya.
__ADS_1
“Meski sudah biasa, sesuatu yang salah tetap tidak boleh dilakukan.” David pun menurunkan tangan Amelia dan melepaskannya.
“Apa maksudmu? Aku hanya bergurau. Apa kau merasa tersinggung? Kalau begitu maafkan aku?” Amelia langsung mengusap wajah David agar tepung di wajah David bersih.
David malah tersenyum geli. “Bukan begitu maksudku, tapi tepung itu makanan. Tidak seharusnya kita memperlakukan makanan seperti mainan dan membuangnya tanpa alasan yang benar. Meski aku sering menghambur-hamburkan uangku untuk membeli sesuatu, aku tidak pernah membuang sesuatu itu seenaknya. Itu tidak benar,” kata David menasehati.
Ah, lagi-lagi David bertingkah keren dan membuat Amelia semakin merasa kagum.
“Baiklah. Aku tidak akan mengotori wajahmu dengan memainkan makanan. Aku akan memainkan sesuatu yang lain.”
“Mainkan apa pun terserah dirimu, yang penting jangan mainkan perasaanku,” gumam David.
Tak lama, Amelia keluar dengan sesuatu yang lebih menonjol: lipstik semerah darah yang melapisi bibirnya. David terkejut melihat itu. Amelia belum pernah mengenakan lipstik setebal itu. Biasanya perempuan itu hanya mengenakan lipstik tipis dengan warna yang lebih halus.
Belum habis kejutan yang David rasakan, tiba-tiba Amelia membekukannya dengan sebuah ciuman singkat.
__ADS_1
“Apa yang kaulakukan?” tanya David.
“Mengotori wajahmu.” Amelia tersenyum jail.
Ah, itu benar. Amelia sudah mengenakan lisptik merah setebal itu. Tidak mungkin lipstik itu tidak menempeli bibir David. David bisa menduga kalau bibirnya akan sama seperti tersengat lebah. Sudah begini, David tidak mau dirugikan sendiri. David pun melepaskan adonan rotinya dan mendekat selangkah kepada Amelia. Kemudian dia mendekatkan wajahnya kepada wajah Amelia untuk menyentuh bibirnya. Saat bibirnya hampir menyentuh bibir Amelia, perempuan itu langsung mundur sampai menabrak wastafel. Perempuan itu benar-benar berhasil menguji kesabarannya.
“Selesaikan dulu adonanmu itu!” Amelia menunjuk adonan roti yang mungkin tidak akan jadi itu. David sudah sering mendiamkannya.
“Apa kau sedang menguji kesabaranku?” David merentangkan kedua tangannya.
“Tentu saja aku tidak berani melakukan itu. Kau sudah berhasil menahan kesabaranmu selama ini dan aku yakin kau tidak mungkin gagal untuk waktu yang tidak lama ini.”
“Tidak perlu bersikap bodoh, Lia! Kau tidak sejelek itu sampai aku mampu menahan kesabaranku saat berada di dekatmu.”
***
__ADS_1